• About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Fokus Borneo
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
Fokus Borneo
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini
Home Opini

Sawit, Banjir, dan Kelemahan Tata Kelola Lingkungan

Oleh : Subono Samsudi 

by Redaksi
02/01/2026
in Opini
A A
Sawit, Banjir, dan Kelemahan Tata Kelola Lingkungan

Subono Samsudi

Setiap kali banjir besar melanda wilayah kaya sumber daya alam, kelapa sawit hampir selalu tampil sebagai tertuduh utama. Tuduhan yang kerap diulang adalah bahwa sawit merupakan tanaman “rakus air”, sehingga dianggap logis bila ia menjadi penyebab banjir. Narasi ini terdengar sederhana, namun lemah secara ilmiah dan berpotensi menyesatkan arah kebijakan lingkungan.

Dalam perspektif hidrologi, tanaman dengan tingkat penyerapan dan evapotranspirasi tinggi justru cenderung mengurangi limpasan permukaan, bukan meningkatkannya. Air yang diserap akar dilepaskan kembali ke atmosfer melalui transpirasi sebagai bagian dari siklus hidrologi. Jika logika “rakus air = banjir” benar, maka hutan hujan tropis—yang evapotranspirasinya jauh lebih tinggi—seharusnya menjadi ekosistem paling rawan banjir. Faktanya, hutan alam justru berfungsi sebagai pengendali banjir paling efektif.

Baca Juga

Demokratisasi Kredit Domestik Kartu Kredit Indonesia (KKI) Segmen Ritel dan Perannya dalam Menjaga Kemandirian Finansial Nasional

BI-Rate 5,75%: Menjaga Rupiah, Melindungi Pasar

Mengubah Tradisi Ospek: Wajah Baru PKKMB Politeknik Bisnis Kaltara yang Humanis dan Edukatif

Menjaga Akurasi Data, Mengakselerasi Ekonomi Kaltara

Masalah banjir di kawasan perkebunan sawit lebih tepat dipahami sebagai akibat perubahan tata guna lahan. Konversi hutan alam menjadi perkebunan monokultur menghilangkan fungsi ekologis penting: tajuk berlapis yang menahan hujan, serasah tebal yang menyerap air, serta sistem perakaran yang kompleks. Proses pembukaan lahan dengan alat berat juga memadatkan tanah, menurunkan daya resap, dan mengubah air hujan menjadi limpasan cepat. Di banyak lokasi, jaringan drainase buatan justru mempercepat aliran air ke sungai dan meningkatkan debit puncak banjir di wilayah hilir.

Kekeliruan arah kritik ini tampak jelas dalam kasus banjir besar di Aceh. Sorotan publik dan aktivisme lingkungan kerap berhenti pada isu legal seperti perkebunan atau konsesi resmi. Padahal, maraknya aktivitas illegal mining dan illegal logging di kawasan hulu telah lama menjadi rahasia umum. Aktivitas ilegal ini merusak daerah tangkapan air secara brutal: membuka lahan tanpa kaidah konservasi, merusak badan sungai, dan meninggalkan tanah terbuka yang sama sekali kehilangan kemampuan menyerap air. Ironisnya, perusakan ilegal semacam ini justru sering luput dari ekspos dan tekanan publik yang konsisten.

Di sisi lain, pada kegiatan usaha yang legal, persoalan mendasarnya bukan semata pada dokumen AMDAL, melainkan pada lemahnya pengawasan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL–RPL). Tidak sedikit AMDAL yang secara dokumen disusun dengan baik, namun gagal diterjemahkan menjadi praktik lapangan yang konsisten. Pengendalian drainase, perlindungan sempadan sungai, pengelolaan tanah, dan pemantauan dampak hidrologi sering kali berhenti sebagai kewajiban administratif, bukan instrumen pengelolaan lingkungan yang sungguh-sungguh dijalankan.

Kelemahan pengawasan RKL–RPL ini diperparah oleh keterbatasan kapasitas institusi pengawas, tumpang tindih kewenangan, serta rendahnya konsistensi penegakan hukum. Akibatnya, pelanggaran yang bersifat gradual dan kumulatif—seperti pemadatan tanah, perubahan alur air, atau pengabaian zona lindung—tidak segera terdeteksi, namun dampaknya baru terasa saat banjir besar terjadi.

Menolak tuduhan keliru terhadap sawit bukan berarti menutup mata terhadap persoalan lingkungan. Justru sebaliknya, kritik yang jujur harus diarahkan pada akar masalah: tata kelola lahan yang lemah, pengawasan AMDAL yang tidak efektif, serta pembiaran terhadap aktivitas ilegal di kawasan hulu. Tanpa perbaikan serius pada aspek ini, mengganti satu komoditas dengan komoditas lain tidak akan menyelesaikan persoalan banjir.

Debat lingkungan menuntut ketepatan logika dan keberanian moral. Jika tujuan kita benar-benar ingin mengurangi risiko banjir, maka fokus kebijakan dan kritik publik harus diarahkan pada penguatan pengawasan RKL–RPL, perlindungan hutan alam, penataan tata air wilayah, serta penindakan tegas terhadap illegal mining dan illegal logging tanpa pandang bulu.

Pada akhirnya, banjir bukan terjadi semata karena curah hujan tinggi atau keberadaan perkebunan sawit, melainkan juga karena kerusakan lingkungan—baik yang legal tetapi lalai diawasi, maupun yang ilegal dan dibiarkan—tidak ditangani secara serius.

 

*) Oleh: Subono Samsudi

Pemerhati lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Lulusan Magister Studi Pembangunan ITB. Pernah bekerja di sektor pertambangan dan lingkungan hidup, termasuk di Departemen Pertambangan dan Energi serta Kementerian Lingkungan Hidup. Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan SDA Kota Tarakan.

Tags: #opini #sawit #lingkungan

Berita Lainnya

Demokratisasi Kredit Domestik Kartu Kredit Indonesia (KKI) Segmen Ritel dan Perannya dalam Menjaga Kemandirian Finansial Nasional
Ekonomi

Demokratisasi Kredit Domestik Kartu Kredit Indonesia (KKI) Segmen Ritel dan Perannya dalam Menjaga Kemandirian Finansial Nasional

6 Oktober 2026 11:06
BI-Rate 5,75%: Menjaga Rupiah, Melindungi Pasar
Ekonomi

BI-Rate 5,75%: Menjaga Rupiah, Melindungi Pasar

30 September 2026 17:48
Mengubah Tradisi Ospek: Wajah Baru PKKMB Politeknik Bisnis Kaltara yang Humanis dan Edukatif
Opini

Mengubah Tradisi Ospek: Wajah Baru PKKMB Politeknik Bisnis Kaltara yang Humanis dan Edukatif

13 September 2026 17:24
Menjaga Akurasi Data, Mengakselerasi Ekonomi Kaltara
Ekonomi

Menjaga Akurasi Data, Mengakselerasi Ekonomi Kaltara

11 September 2026 12:03
Mengangkat Wastra dan Ekonomi Kreatif Perbatasan Ke Panggung Nasional  
Ekonomi

Mengangkat Wastra dan Ekonomi Kreatif Perbatasan Ke Panggung Nasional  

31 Agustus 2026 13:00
Opini

Kematian Raja Ular Dari Kalimantan

27 Agustus 2026 15:45
Next Post

Awal 2026, Dishub Balikpapan Fokus Penerangan Jalan dan Kelancaran Lalu Lintas

Gowes Santai Bersama Gubernur Zainal Warnai Awal Tahun di Tanjung Selor

Otorita IKN Hadirkan Pagelaran Seni dan Permainan Rakyat Sambut Awal Tahun 2026

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami
  • Terapkan Sistem Manajemen Talenta, Ini Daftar Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Dilantik Walikota Tarakan 

    Terapkan Sistem Manajemen Talenta, Ini Daftar Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Dilantik Walikota Tarakan 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerebek Sarang Narkoba di Tanjung Selor, Tim Gabungan Polresta Bulungan Amankan Pengedar dan Puluhan Paket Sabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Unit 2 PLTU Kaltim Teluk Kembali Beroperasi, Unit 1 Dipersiapkan Dukung Sistem Kelistrikan Kalimantan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Siganak Hibot, Transformasi Dari Layar SMPN 7 Menuju Gerakan Karakter Kota Tarakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pimpin PPP Tarakan, Habusan Targetkan Satu Fraksi di Pileg Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Fokus Borneo

Ikuti Kami

Rubrik

  • Advetorial
  • Daerah
  • Derap Nusantara
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fokus
  • Hiburan
  • IKN
  • Kantah Kota Balikpapan
  • Kementrian ATR/BPN
  • KPH Tarakan
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Otomotif
  • Parlemen
  • Pemkab Bulungan
  • Pemkab Malinau
  • Pemkab Nunukan
  • Pemkab Tana Tidung
  • Pemkot Balikpapan
  • Pemkot Tarakan
  • Pemprov Kaltara
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial Budaya
  • TNI Polri
  • Travel
  • Video

Recent News

Sikat Peredaran Narkoba di Tanjung Palas Timur, Satresnarkoba Polresta Bulungan Amankan Dua Pria dan 11,76 Gram Sabu

Sikat Peredaran Narkoba di Tanjung Palas Timur, Satresnarkoba Polresta Bulungan Amankan Dua Pria dan 11,76 Gram Sabu

12 Oktober 2026 20:56
Dua Putri Peltu Jun Priyanto Borong 7 Medali, Pamela Bersiap Wakili Kaltara di O2SN Nasional

Dua Putri Peltu Jun Priyanto Borong 7 Medali, Pamela Bersiap Wakili Kaltara di O2SN Nasional

12 Oktober 2026 19:10
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
    • Kuliner
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP