TARAKAN, Fokusborneo.com – Terik matahari di utara Kalimantan tak menyurutkan semangat seorang pemuda bernama Putra Yoka Zidane Alfarisi.
Di tengah hiruk-pikuk perkuliahan yang padat di Fakultas Kedokteran Universitas Borneo Tarakan (UBT), sebuah kabar sejuk datang membawa haru. Zidane, begitu ia akrab disapa, terpilih menjadi salah satu penerima Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan tahun 2025.
Keberhasilan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah pembuktian bahwa putra daerah dari wilayah perbatasan mampu bersaing di panggung yang lebih luas.
Program Beasiswa Sobat Bumi yang diselenggarakan Pertamina Hulu Indonesia bukanlah kompetisi sembarangan. Program ini dikenal sebagai salah satu beasiswa paling bergengsi di Pulau Kalimantan.
Tahun ini, tercatat sebanyak 465 pendaftar dari berbagai provinsi di Kalimantan berebut kursi terbatas.
Proses seleksinya pun ibarat sebuah maraton yang menguji mental. Dimulai dari kurasi administrasi yang mendetail, berlanjut ke tes skolastik yang menguras logika, hingga tahap wawancara yang mencari sosok dengan visi kuat.
Dari ratusan pendaftar tersebut, hanya 15 orang yang dinyatakan lolos. Zidane mencatatkan sejarah kecil bagi provinsi ke 34.
Di tengah dominasi penerima dari Kalimantan Timur (Kaltim), ia menjadi satu dari hanya dua orang perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara) yang berhasil menembus ketatnya kualifikasi tersebut.
Menjadi mahasiswa kedokteran adalah impian banyak orang, namun jalan menuju sana penuh dengan kerikil tajam, baik secara akademik maupun finansial. Zidane menyadari betul beban yang dipikul orang tuanya. Oleh karena itu, beasiswa ini ia pandang sebagai “hadiah” atas doa-doa yang dipanjatkan.
”Saya sangat bersyukur. Pendidikan kedokteran membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan energi yang besar. Beasiswa ini hadir sebagai dukungan nyata yang mengurangi beban pengeluaran orang tua saya. Bagi saya, ini bukan sekadar bantuan finansial, tapi sebuah harapan yang menguatkan saya untuk terus maju,” tutur Zidane, Jumat (23/1/26).
Bagi Zidane, beasiswa ini adalah bentuk investasi kepercayaan dari pihak Pertamina terhadap masa depannya sebagai calon dokter yang kelak akan mengabdi di tanah kelahirannya.
Sebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di wilayah perbatasan Indonesia, Zidane kerap merasakan adanya kesenjangan akses informasi dan peluang dibandingkan dengan kota-kota besar di Jawa atau wilayah lain. Namun, kehadiran Beasiswa Sobat Bumi ia nilai sebagai jembatan yang meruntuhkan tembok pembatas tersebut.
”Kami yang di perbatasan terkadang merasa akses untuk berkembang itu terbatas. Namun, melalui kesempatan ini, saya merasa mendapatkan dukungan penuh. Ini membuktikan bahwa siapapun kita, selama memiliki kemauan, ruang untuk berkembang itu selalu ada,” tambahnya.
Kisah Zidane adalah pesan bagi seluruh anak muda di Kaltara bahwa alamat rumah boleh saja di ujung negeri, namun prestasi harus tetap setinggi langit.
Keberhasilannya diharapkan menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain di Universitas Borneo Tarakan untuk tidak ragu mencoba peluang-peluang besar di tingkat nasional maupun regional.
Kini, dengan semangat baru dan dukungan dari Beasiswa Sobat Bumi, Zidane bersiap melanjutkan studinya dengan lebih fokus.
Di pundaknya, kini tertitip harapan untuk menjadi dokter yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan dan bumi, selaras dengan semangat yang dibawa Pertamina.(**)















Discussion about this post