TARAKAN, Fokusborneo.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Kota Tarakan berjalan lancar dengan antusiasme tinggi dari ribuan siswa dan tenaga pendidik.
Meski demikian, pihak sekolah memberikan beberapa catatan evaluasi terkait variasi menu dan ketersediaan air minum untuk memaksimalkan program tersebut.
Kepala SMP Negeri 1 Kota Tarakan, Muh. Rachmat, mengungkapkan total penerima manfaat di sekolahnya mencapai sekitar 1.110 orang, yang terdiri dari 1.043 siswa serta sisanya para pendidik dan tenaga kependidikan.
”Untuk siswa, kami sudah mulai sejak September tahun lalu. Sedangkan untuk guru, baru berjalan sekitar satu bulan terakhir ini,” ujar Muh. Rachmat, Selasa (10/2/26).
Berdasarkan aspirasi dari para siswa, Rachmat mencatat ada keinginan agar menu yang disajikan lebih bervariasi. Menurutnya, anak-anak cenderung kurang menyukai menu telur atau ikan yang diolah secara standar karena sudah sering mengonsumsinya di rumah.
”Anak-anak ingin lauknya lebih banyak dan buahnya lebih variatif. Kalau menu seperti ayam katsu atau sup, mereka sangat suka. Kami berharap pihak penyedia bisa lebih kreatif dalam mengolah menu agar siswa tidak bosan,” tambahnya.
Selain soal makanan, ketersediaan air minum menjadi perhatian khusus. Pihak sekolah saat ini menyediakan 5 hingga 7 galon air per hari, namun jumlah tersebut dirasa masih kurang mengingat banyaknya jumlah siswa.
”Kami siapkan galon dari sekolah, tapi tetap kurang. Kami mengimbau siswa yang mampu untuk membawa tumbler sendiri dari rumah. Kami juga ingatkan bawa sendok sendiri, meski mayoritas anak-anak lebih nyaman makan menggunakan tangan,” jelasnya.
Menanggapi isu keamanan pangan, Muh. Rachmat menegaskan hingga saat ini tidak ada keluhan kesehatan seperti mual atau keracunan di SMPN 1 Tarakan. Ia mengaku terus berkomunikasi intens dengan pihak penyedia (vendor) agar menjaga kebersihan dan kualitas makanan.
”Alhamdulillah, sampai saat ini anak-anak aman, tidak ada masalah. Saya selalu ingatkan pihak penyedia agar hati-hati, jangan sampai kejadian seperti di tempat lain menimpa siswa kami,” tegasnya.
Terkait teknis pelaksanaan di sekolah, pihak SMPN 1 Tarakan menerapkan kebijakan khusus mengenai waktu makan. Makanan biasanya tiba di sekolah sekitar pukul 11.00 Wita, namun baru dibagikan setelah jamaah shalat Dzuhur.
”Kami arahkan anak-anak shalat dulu baru makan. Mengapa? Karena kalau makan duluan, khawatir nanti mereka langsung pulang dan tidak shalat lagi. Jadi, setelah shalat baru mereka makan bersama, kemudian lanjut satu mata pelajaran lagi sebelum pulang,” pungkas Rachmat.(*/mt)














Discussion about this post