TARAKAN, Fokusborneo.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 SMP Negeri 3 Kota Tarakan dihelat dengan membawa misi penyelamatan moral dan perlindungan anak yang sangat mendesak.
Di tengah gempuran era digital, sekolah bersama komite menggelar workshopparenting khusus bagi orang tua guna membentengi anak-anak dari ancaman perundungan (bullying), kekerasan seksual, hingga bahaya pedofil online.
Kegiatan ini, menghadirkan narasumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Angga Yuda Melanda, menegaskan anak-anak usia remaja saat ini berada pada fase pencarian jati diri yang sangat rentan terhadap eksploitasi di dunia maya.
”Anak-anak kita itu meniru apa yang dia lihat dari orang tuanya. Phedofil online itu sekarang lagi merajalela, apalagi LGBT sekarang di Tarakan lagi menjamur,” tegas Angga Yuda Melanda saat memberikan pembekalan keras kepada para orang tua siswa.
Makanya orang tua didesak untuk tidak memberikan kebebasan mutlak dalam penggunaan gawai (gadget), melainkan wajib membangun komunikasi dua arah yang intensif dan mengawasi aktivitas digital anak secara ketat.
Sebagai solusi konkrit menghadapi era digitalisasi tersebut, Angga Yuda Melanda membekali para orang tua dengan tujuh langkah pengasuhan efektif.
Pengasuhan ini dimulai dari menjaga komunikasi intensif setiap hari dengan menanyakan keseharian serta pengalaman anak di sekolah alih-alih hanya berfokus pada pelajaran, mendiskusikan batasan waktu dan aturan gawai agar anak terhindar dari kecanduan gim maupun konten negatif, serta mendiskusikan dampak positif dan negatif penggunaan internet secara terbuka.
Selain itu, orang tua diimbau menjadi teman terdekat agar anak nyaman bercerita ketimbang melampiaskannya di media sosial, membekali diri dengan pengetahuan dunia digital dan aplikasi yang diakses anak, memanfaatkan fitur parental control di rumah, hingga memberikan contoh teladan yang baik karena anak-anak era modern cenderung meniru perilaku orang tuanya.
Sekretaris Komite SMPN 3 Kota Tarakan, Suriyanti, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus kenakalan remaja, perilaku menyimpang, hingga ancaman kejahatan digital yang kini menyasar anak-anak usia SMP.
”Kalau bisa ini sih supaya anak-anak ini ada peran orang tua, karena maraknya LGBT ini sekarang yang disasar itu adalah anak-anak usia ini, usia SMP kayaknya, lebih banyak ke mereka yang anak-anak SMP,” ungkapnya.
Ia menegaskan pihak sekolah telah berupaya menangani berbagai kasus yang muncul, namun fondasi pertahanan terkuat tetap wajib dimulai dari kepekaan dan pengawasan di dalam rumah.

Kepala SMPN 3 Kota Tarakan, Tri Junarto, menambahkan workshop ini sengaja difokuskan kepada orang tua siswa kelas 8 agar materi pencegahan dan pola pengasuhan dapat tersampaikan secara kondusif dan optimal.
”Kegiatan ini dirangkai dengan beberapa kegiatan dengan tema bersama, sehat, kreatif, berprestasi, dan berkarakter. Sasaran workshop ini adalah orang tua siswa kelas 8, karena jumlahnya cukup banyak 32 kali 9, supaya nanti kondusif kemudian materi itu tersampaikan,” ujar Tri Junarto.
Puncak perayaan HUT ke-44 ini sendiri dikemas secara maraton selama tiga hari berturut-turut dari Jumat hingga Minggu.
Rangkaian acara dimulai pada hari pertama dengan bazaar kewirausahaan siswa kelas 7, 8, dan 9.
Dilanjutkan pada hari kedua dengan workshop parenting digital, ajang talent show untuk menyalurkan bakat seni siswa, serta bazaar UMKM lingkungan sekitar sekolah guna mendongkrak perekonomian kerakyatan.
Perayaan ditutup pada hari Minggu melalui kegiatan senam sehat bersama komite, alumni, orang tua, guru, dan warga sekitar, serta dimeriahkan dengan pembagian doorprize dan pertunjukan tari kolosal.
Melalui kolaborasi tegas antara pihak sekolah, komite, pemerintah daerah, serta kesadaran aktif orang tua, SMPN 3 Kota Tarakan membuktikan komitmennya untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga berkarakter kuat serta terlindungi dari segala bentuk kekerasan.(*/mt)















Discussion about this post