TARAKAN, Fokusborneo.com – Ada pemandangan yang tak biasa dan penuh kebanggaan di ruang-ruang kelas SMP Negeri 3 Kota Tarakan.
Di saat sebagian remaja seusia mereka menghabiskan waktu luang dengan gawai di tangan, para pelajar di sekolah menengah pertama ini justru sibuk merangkai kata, merajut alur cerita, hingga melahirkan sebuah karya nyata berupa buku.
Buku hasil karya siswa tersebut, secara resmi disumbangkan ke perpustakaan sekolah sebagai kado Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 SMP Negeri 3 Kota Tarakan, Sabtu (24/10/26). Harapannya bisa motivasi siswa lainnya ikut menulis dan berkarya.
Di balik denyut nadi literasi yang kian hidup ini, ada peran seorang pendidik berdedikasi tinggi, Andi Saputro, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang dengan sabar membimbing siswanya melampaui batas-batas buku teks pelajaran.

Dari Tugas Kelas Menjadi Karya Nyata yang Bernilai
Proyek kepenulisan ini bukanlah instan. Andi Saputro menuturkan inisiatif ini bermula dari penugasan menulis cerita bagi para siswa ketika mereka masih duduk di bangku kelas delapan.
Mulanya, karya-karya tersebut direncanakan hanya sekadar bentuk apresiasi atas hasil belajar dan pendokumentasian perdana karya mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, potensi dan kualitas cerita yang dihasilkan para siswa menarik perhatian pihak sekolah dan orang tua.
Gayung pun bersambut, sejumlah orang tua menyatakan kesediaan dan dukungan penuh agar naskah buah hati mereka dapat diajukan ke percetakan untuk diterbitkan secara resmi.
Meski demikian, jalan menuju terbitnya sebuah buku tentu tidak luput dari tantangan. Andi menceritakan biaya percetakan mandiri pada masa itu berkisar di angka Rp200.000 per karya.
Selain aspek finansial, tantangan terbesar justru datang dari proses kreatif itu sendiri, yakni ketika para siswa mengalami kebuntuan ide atau writer’s block di tengah jalan.
“Dalam karya siswa ini, mereka sendiri yang mengeksplorasi diri ketika buntu. Tantangan kami adalah membimbing arah cerita selanjutnya. Ketika mereka mandek selama seminggu untuk mencari inspirasi, setelah ketemu, mereka lanjut lagi,” ungkap Andi Saputro.
Berkat ketekunan tersebut, proses penyusunan hingga penerbitan satu buku memakan waktu sekitar satu semester atau kurang lebih lima bulan.
Buku-buku yang diterbitkan pun disesuaikan dengan minat dan karakter masing-masing siswa.
Bagi yang menyukai dunia fauna, mereka menuangkannya ke dalam bentuk fabel. Siswa yang gemar merangkum cerita padat diarahkan menulis cerpen.
Sementara itu, bagi mereka yang memiliki ketertarikan menuangkan kisah hidup yang lebih panjang dan kompleks, Andi membimbing mereka untuk mencoba menulis novel.
Menariknya lagi, buku-buku hasil karya siswa SMP Negeri 3 Kota Tarakan ini kini telah diperjualbelikan secara luas pihak penerbit. Para siswa penulis mendapatkan hak royalti sebesar 10 persen dari setiap penjualan buku mereka.

Suara Penulis Muda: Natalie Hafsarian dan Novel “Uranion Palation”
Salah satu siswa berbakat yang berhasil menelurkan karya novel adalah Natalie Hafsarian, siswi kelas 9.7. Remaja kreatif kelahiran Kalimantan Utara (Kaltara) yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan ibu Hafsa dan bapak Matius Yusuf Timbung ini, sukses menerbitkan sebuah novel berjudul “Uranion Palation” yang menjadi buku pertamanya.
Dalam prakata bukunya, Natalia menjelaskan judul “Uranion Palation” berasal dari gabungan kata yang berarti “Langit” dan “Istana”.
Melalui buku setebal 138 halaman ini, ia menuangkan seluruh imajinasi dan isi kepalanya ke dalam cerita fantasi yang menceritakan tentang peperangan antar-dimensi serta petualangan karakter unik yang terinspirasi dari film dan game yang ia tonton.
“Buku ini dibuat untuk menginspirasi anak-anak di luar sana dengan imajinasi seperti saya. Buku ini berisi tentang imajinasi dan semua isi kepala saya yang saya tuangkan ke dalam buku ini. Jika kamu suka berkhayal seperti saya, lebih baik kamu tuangkan semua isi kepala kamu ke dalam buku, dan buatlah buku tentang imajinasi kamu,” tulis Natalia.
Proses kreatif penuangan ide hingga menjadi sebuah buku utuh membutuhkan waktu sekitar dua bulan.
Bagi Natalie, tantangan terbesar selama menulis adalah menghadapi kejenuhan dan jalan cerita yang tiba-tiba terasa buntu. Namun, ia menyiasatinya dengan berdiskusi bersama teman, meminta bantuan guru, atau mencari suasana baru di luar rumah.
“Bisa menginspirasi anak-anak di luar sana yang imajinasinya banyak, ketimbang hanya dipendam, lebih baik dituangkan dalam bentuk buku,” tutur Natalie dengan mata yang menyiratkan kebanggaan.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tua, guru, dan teman-teman khususnya Dinda yang selalu menemaninya atas dukungan penuh yang diberikan sehingga karyanya dapat terwujud dengan baik.

Nur Aini dan “Jeda Setelah Ujian”: Menyelami Makna Persahabatan
Kisah inspiratif lainnya datang dari Nur Aini, siswi kelahiran Tarakan, 28 Oktober 2011 bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Siswi kelas 9 yang juga berhasil menerbitkan novel perdananya berjudul “Jeda Setelah Ujian”.
Remaja berdarah Timur-Jawa yang dibesarkan ibunya, Susan Setiawati dan memiliki hobi membaca cerita di Wattpad/AU serta mendengarkan musik K-Pop khususnya BTS sebagai seorang ARMY itu mencerikan, novel karyanya ini berfokus pada kisah persahabatan sekumpulan remaja yang merencanakan liburan untuk melepas penat setelah penat menghadapi ujian sekolah.
Namun, alur cerita menjadi semakin menarik ketika liburan tersebut diwarnai berbagai kejutan dan kejanggalan tak terduga yang ternyata menyimpan pesan mendalam tentang memori dan perjalanan waktu.
“Novel ini bertujuan membawa pembaca untuk menyelam ke dalam indahnya dunia imajinasi, merasakannya pada tokoh-tokoh dalam cerita, dan menjadi media untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk serta masalah dunia.Selamat berkenalan di dunia imajinasi, jangan sampai tersesat dan berhenti di tengah jalan, jangan lupa membawa gelas kosong dan keluarlah dengan gelas yang terisi penuh,” pesan Nur Aini.
Sama seperti Natalie, Nur Aini menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk merampungkan naskahnya, yang sebagian besar dikerjakan di rumah setelah jam pelajaran sekolah usai dan di tengah bulan suci Ramadan.
Ketika ide ceritanya macet, Nur Aini memilih untuk berhenti sejenak dari aktivitas menulis, menyegarkan pikiran dengan membaca buku lain, atau berjalan-jalan mencari inspirasi baru.
“Dulu saya ingin mulai menulis tapi sempat ragu harus mulai dari mana. Ternyata dengan bimbingan Pak Andi di kelas delapan, saya bisa merampungkan cerita pertama saya,” ungkap Nur Aini.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tuanya, guru, serta orang-orang berharga di sekitarnya yang telah memberikan pelajaran dan kenangan indah sehingga buku ini dapat tercipta.

Apresiasi Kreativitas Siswa yang Hasilkan Buku Karya Tulis
Kepala SMP Negeri 3 Kota Tarakan Tri Junarto, menyampaikan apresiasi mendalam atas kreativitas para siswa yang berhasil menelurkan karya tulis di tengah program literasi dan numerasi sekolah.
Tri Junarto mengungkapkan terdapat enam karya buku siswa yang segera diserahkan kepada pihak sekolah untuk kemudian dipublikasikan di perpustakaan SMP Negeri 3 Kota Tarakan.
“Ada penyerahan lima atau enam karya buku siswa yang akan diserahkan di sekolah dan nanti kami akan publikasikan di perpustakaan SMP Negeri 3,” ujar Tri Junarto
Buku-buku tersebut, lanjut Tri, merupakan hasil murni karya tulis siswa yang bimbing langsung guru bahasa Indonesia SMP Negeri 3, Andi, S.Pd.
Ia juga memuji potensi dan kinerja para guru di sekolah yang dinilai luar biasa, meskipun masih muda memiliki kreativitas tinggi dalam membimbing peserta didik.
Menurut Tri, pembuatan buku siswa ini mulai digarap secara intensif pada tahun 2026 ini. Meskipun sempat mengalami vakum selama tiga tahun untuk kategori buku tertentu, pihak sekolah terus berupaya mendorong minat literasi siswa.
”Begitu kemarin saya arahkan ke teman-teman guru bagaimana kita fasilitasi anak-anak supaya literasi dan numerasinya berkembang, harapan saya nanti rapor pendidikan SMP Negeri 3 ini bisa meningkat,” pungkasnya.
Ia juga berharap pemerintah dapat turut memberikan perhatian dan apresiasi terhadap karya-karya siswa ini, sehingga para siswa semakin termotivasi dan para orang tua dapat berbangga atas prestasi anak-anak mereka yang mampu menerbitkan buku sejak bangku sekolah menengah pertama.
Menyalakan Asa Literasi di Bumi Benuanta
Apa yang dilakukan Andi Saputro dan para siswa SMP Negeri 3 Kota Tarakan memberikan secercah harapan dan teladan nyata bahwa batasan usia bukanlah halangan untuk berkarya.
Dukungan dari lingkungan sekolah dan keluarga terbukti mampu mengubah imajinasi anak-anak muda menjadi karya literasi yang abadi.
Melalui buku-buku seperti Uranion Palation dan Jeda Setelah Ujian, mereka tidak hanya meninggalkan jejak prestasi di bangku sekolah, tetapi juga menginspirasi ratusan pelajar lainnya di Kaltara untuk berani memegang pena, merajut mimpi, dan membagikan kisah mereka kepada dunia.(*/mt)













Discussion about this post