TARAKAN, Fokusborneo.com – Kesenjangan harga rumput laut yang mencolok antara Tarakan dan Nunukan memicu langkah konkret dari DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Masalah jalur distribusi yang tidak efisien dituding menjadi penyebab utama rendahnya harga beli di tingkat petani Tarakan dibandingkan daerah tetangganya.
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kaltara, Jufri Budiman, menyoroti nasib petani di Pantai Amal yang merasa terpukul dengan disparitas harga ini. Berdasarkan temuan di lapangan, selisih harga tersebut mencapai Rp3.000 per kilogram.
”Kami mendapati keresahan dari kawan-kawan petani di Tarakan. Bayangkan saja, di Nunukan harga bisa menembus Rp11.000, sementara di sini (Tarakan) mentok di angka Rp8.000. Ini selisih yang sangat terasa bagi kesejahteraan mereka,” ujar Jufri, Rabu (11/2/26).
Jufri menjelaskan setelah dibedah, masalahnya bukan pada kualitas barang, melainkan ongkos angkut. Nunukan diuntungkan dengan akses pelayaran yang lebih ringkas menuju pusat perdagangan di Sulawesi.
”Ada ketimpangan akses di sini. Di Nunukan, kapal pengangkut bisa langsung tancap gas ke Parepare. Sedangkan pengusaha di Tarakan sering kali harus memutar jalur lewat Nunukan dulu baru bisa dikirim ke Parepare. Rantai logistik yang panjang inilah yang memakan biaya besar, sehingga harga beli ke petani terpaksa ditekan,” jelasnya.
Makanya, Politisi Gerindra itu berharap kepala PT. Pelni membuk jalur langsung dari Tarakan ke Parepare.
”Pihak Pelni memang belum membuka rute langsung saat ini, tapi ada sinyal positif untuk mencoba pola rute baru lewat Patoloan. Tujuannya agar jadwal kapal tidak lagi terlalu renggang dan lebih efektif mengangkut komoditas,” tambah Jufri.
Selain itu, muncul usulan untuk meningkatkan frekuensi pelayaran ke Nunukan menjadi dua kali dalam seminggu sebagai solusi jangka pendek. Jufri menilai, jika rute ini terealisasi, dampaknya akan sangat luas.
”Usulan rute ke Nunukan dua kali sepekan ini menarik. Jika jadwalnya pas, kapal dari Tarakan bisa langsung nyambung ke Balikpapan dan lanjut ke Parepare. Ini bukan cuma soal rumput laut, tapi juga menjawab tingginya permintaan transportasi bagi masyarakat yang ingin ke Parepare,” tegasnya.(**)











Discussion about this post