SEBATIK, Fokusborneo.com – Di balik hamparan budidaya rumput laut yang menjadi tulang punggung ekonomi Pulau Sebatik, tersimpan keresahan mendalam bagi para petaninya.
Dalam pertemuan reses yang digelar Ladullah di Rumah Makan Hasanah baru-baru ini, terungkap bahwa ancaman pencurian di laut kini menjadi hantu bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.
Bagi warga Sebatik Barat, rumput laut bukan sekadar tanaman, melainkan gantungan hidup utama. Namun, aksi penjarahan tali bentangan yang kian berani membuat banyak petani merasa frustrasi karena minimnya pengawasan di area budidaya.
”Rumput laut ini adalah urat nadi ekonomi keluarga di wilayah perbatasan kita. Jika keamanannya terus dibiarkan tanpa pengawasan ketat, dampaknya akan langsung memukul daya beli masyarakat. Negara harus hadir di sana,” tegas Ladullah, Sabtu (14/3/26).
Selain masalah keamanan, Ladullah juga menangkap kegelisahan warga terkait fluktuasi harga yang cenderung menurun.
Ia berkomitmen membawa aspirasi ini ke meja pemerintah provinsi agar ada kebijakan yang lebih memihak kepada keberlanjutan sektor perikanan dan kelautan di Nunukan.
”Aspirasi ini akan saya kawal langsung ke Pemprov Kaltara. Harapan kami jelas: harus ada patroli laut berkala yang mengawal area kerja warga sehingga petani bisa melaut dengan tenang tanpa rasa takut kehilangan hasil jerih payahnya,” pungkasnya.(*/mt)















Discussion about this post