NUNUKAN, Fokusborneo.com – Wajah perbatasan Indonesia di Kabupaten Nunukan kian terhimpit bayang-bayang gelap narkotika. Tak lagi menjadi barang langka, barang haram ini kini telah menyusup hingga ke gang-gang sempit di pelosok kampung, mengancam masa depan generasi muda setempat.
Kekhawatiran ini mencuat dalam forum edukasi yang digelar di kediaman praktisi hukum, sekaligus Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Ruman Tumbo, S.H., Jalan Rimba, Minggu (15/3/26).
Di hadapan warga RT 5, 6, 7, dan 10, sebuah peringatan keras digaungkan, karena narkoba kini berada di depan pintu rumah.
Ruman Tumbo menyoroti ketimpangan dalam pemberantasan narkoba yang selama ini terkesan “pilih kasih”.
Menurutnya, aparat seharusnya tidak hanya sibuk meringkus pengguna, namun harus lebih berani memutus rantai distribusi dari hulu.
”Bisnis haram ini menjanjikan perputaran uang yang gila-gilaan. Bayangkan, modal satu kilogram saja nilainya sudah miliaran rupiah. Wajar jika banyak yang tergiur,” cetus Ruman.
Ia juga mengkritik alasan klasik bandar sulit ditangkap karena berada di luar negeri. Baginya, siapa pun yang mengendalikan aliran barang di Nunukan, mereka adalah target utama yang harus ditindak tegas.
”Seringkali alasannya bandar ada di Malaysia. Padahal, mereka yang mengatur distribusi di sini tetaplah aktor utama atau pemasok yang harus diberangus,” tegasnya.
Ruman bahkan menyamakan daya rusak narkoba dengan korupsi. Jika korupsi meruntuhkan sistem negara, maka narkoba menghancurkan mental manusianya. Namun, ia tetap mendukung langkah rehabilitasi mandiri bagi pengguna agar mereka tidak takut untuk sembuh.
Di sisi lain, ancaman narkoba kini tampil dengan wajah yang lebih keren dan terselubung. Penyuluh BNNK Nunukan, Hermansyah, memperingatkan munculnya New Psychoactive Substances (NPS) yang kini mulai merambah dunia rokok elektrik.
Sebab sabu-sabu secara agresif langsung melumpuhkan saraf pusat dan otak. Begitu juga narkoba jenis baru yang disisipkan ke dalam cairan rokok elektrik.
Bahkan, banyak anak sekolah yang tidak sadar bahwa liquid yang mereka gunakan mengandung zat terlarang.
”Otak adalah pusat kendali tubuh. Begitu sabu masuk, sistem berpikir dan gerak kita langsung kacau karena sarafnya dirusak,” jelas Hermansyah.
Mengenai tren liquid vape, Herman meminta orang tua untuk tidak abai terhadap hobi baru anak-anak mereka.
”Banyak kasus ditemukan di kalangan pelajar. Orang tua wajib tahu apa yang dihisap anak mereka dan dengan siapa mereka bergaul. Jangan sampai mereka menerima pemberian liquid dari orang asing tanpa curiga,” tambahnya.
Peredaran narkoba di Nunukan bukan lagi isu sektoral, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan keluarga. Pengawasan ketat dari lingkungan terkecil (RT dan keluarga) menjadi benteng terakhir untuk menyelamatkan anak cucu dari kehancuran mental.(*/mt)













Discussion about this post