TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Memasuki usia ke-18, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dihadapkan pada tantangan baru dalam menjaga kualitas demokrasi. Ancaman tidak lagi tampak secara kasat mata, melainkan semakin kompleks, terorganisir, dan sulit diidentifikasi.
Ketua Bawaslu Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Yakobus Malyantor Iskandar, mengatakan bahwa dinamika pelanggaran pemilu kini telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya identik dengan praktik langsung di lapangan, kini bergeser ke pola yang lebih terselubung.
“Politik uang semakin canggih dan disinformasi menyebar luas di ruang digital. Ini menuntut respons yang cepat dan kolaboratif,” ujar Yakobus.
Menurutnya, tantangan tersebut tidak hanya menjadi ujian bagi Bawaslu sebagai lembaga pengawas, tetapi juga bagi keberlanjutan demokrasi secara keseluruhan.
Ia menekankan bahwa persoalan utama bukan sekadar jumlah pelanggaran, melainkan potensi menurunnya kesadaran masyarakat.
“Ketika publik mulai apatis, ruang terjadinya pelanggaran akan semakin terbuka. Demokrasi bisa saja tetap berjalan, tetapi kehilangan maknanya jika masyarakat tidak lagi peduli,” tegasnya.
Selama hampir dua dekade, Bawaslu telah mengalami perkembangan signifikan. Dari lembaga yang semula berfokus pada pengawasan, kini memiliki kewenangan dalam penindakan pelanggaran serta penyelesaian sengketa proses pemilu. Penguatan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga integritas pemilu.
Meski demikian, Yakobus menegaskan bahwa pengawasan tidak dapat berjalan efektif tanpa keterlibatan masyarakat.
“Pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan Bawaslu. Partisipasi masyarakat adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar,” katanya.
Di sisi lain, Bawaslu terus memperkuat kapasitas internal melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi pengawasan, serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Mengusung tema “Mengukuhkan Demokrasi”, peringatan HUT ke-18 Bawaslu menjadi momentum untuk menegaskan bahwa demokrasi tidak cukup dijalankan secara prosedural, tetapi juga harus dijaga secara substansial.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa demokrasi harus terus dirawat secara bersama oleh seluruh elemen bangsa.(**)











Discussion about this post