TARAKAN, Fokusborneo.com – Anggota Komisi I DPRD Kota Tarakan, Umar Rafiq, menyoroti kondisi para pengemudi ojek pangkalan di kawasan Bandara Juwata Tarakan yang dinilai cukup memprihatinkan.
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Ruang Pertemuan DPRD Kota Tarakan, Selasa (14/4/26).
Dalam rapat yang dihadiri pihak otoritas Bandara Juwata, Koperasi Avia Jasa, serta perwakilan ojek bandara tersebut, Umar Rafiq mengungkapkan persoalan utama yang dihadapi bukanlah izin keberadaan ojek, melainkan penentuan titik pangkalan yang strategis.
Umar Rafiq menjelaskan berdasarkan hasil pengamatannya, para pengemudi ojek saat ini harus memarkirkan kendaraannya di area masjid dan berjalan kaki cukup jauh untuk mencari penumpang.
”Kasihan juga kalau saya lihat, motornya diparkir di masjid, mereka jalan kaki sampai 300–400 meter baru mau menawarkan jasa ojek. Ini belum tentu mereka dapat penumpang,” ujar Umar Rafiq.
Ia mengingatkan sejak tahun 2004, para pengemudi ojek pangkalan biasanya mangkal di area yang dikenal dengan sebutan “Pohon Sawit”. Namun, mereka terpaksa berpindah karena sering mendapatkan teguran dari pihak taksi bandara.
Menurutnya, jika para pengemudi dikembalikan ke titik semula, mereka tidak perlu lagi melakukan strategi pemasaran yang menguras tenaga dengan berjalan jauh dari posisi motor mereka.
Umar Rafiq berharap pihak otoritas Bandara Juwata dapat mengeluarkan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan pengemudi lokal dengan menata ulang lokasi pangkalan.
”Harapan saya, kalau memang tidak ada masalah, besar harapan kami dikembalikanlah pangkalnya di pohon sawit. Mungkin nanti bisa ditata bagaimana agar tetap indah dipandang,” pungkasnya.(*/mt)














Discussion about this post