TARAKAN, Fokusborneo.com – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan performa ekonomi yang solid pada April 2026. Berdasarkan data terkini, Kaltara mengalami inflasi yang sangat terjaga sebesar 0,02% (mtm).
Secara tahunan, inflasi gabungan tiga wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara tercatat sebesar 2,68% (yoy), sebuah angka yang menunjukkan stabilitas harga di tengah dinamika pasar global maupun regional.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, mengungkapkan pencapaian ini merupakan sinyal positif bagi kondisi ekonomi daerah.
Menurutnya, stabilitas yang terjaga ini tidak lepas dari sinergi berbagai pihak dalam mengawal rantai pasok dan harga di lapangan.
”Ini jadi sinyal positif bahwa stabilitas harga di Kaltara masih dalam kondisi baik. Upaya menjaga keseimbangan ini tentu menjadi hasil sinergi berbagai pihak untuk mendukung ekonomi daerah tetap tumbuh dan masyarakat tetap sejahtera,” ujar Hasiando.
Inflasi pada bulan April ini utamanya dipicu kelompok transportasi. Kenaikan tarif angkutan udara dan laut menjadi penyumbang utama, yang disebabkan penyesuaian biaya operasional penerbangan akibat kenaikan harga avtur serta terbatasnya frekuensi penerbangan pada beberapa rute strategis.
Di sektor pangan, komoditas tomat sayur dan bawang merah juga turut memberikan tekanan inflasi. Hal ini disebabkan terbatasnya pasokan dari daerah penghasil utama di wilayah Sulawesi akibat faktor cuaca yang kurang kondusif, sementara permintaan masyarakat terpantau masih relatif kuat.
Namun, tekanan inflasi tersebut berhasil diredam deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Penurunan harga emas perhiasan yang mengikuti koreksi harga emas global menjadi penahan utama.
Selain itu, pasokan cabai rawit dan daging ayam ras kembali melimpah seiring dengan normalisasi distribusi dan pola konsumsi masyarakat pasca-perayaan Idulfitri.
Secara spasial, perkembangan harga di Kaltara menunjukkan hasil yang bervariasi. Tanjung Selor mencatatkan inflasi sebesar 0,23% (mtm) dan Nunukan sebesar 0,04% (mtm). Sebaliknya, Kota Tarakan justru mengalami deflasi sebesar -0,06% (mtm), yang turut membantu menjaga angka inflasi provinsi tetap rendah.
Di sisi lain, daya beli dan kepercayaan masyarakat Kaltara terpantau sangat kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 berada pada level optimis di angka 124,01.
Tingginya optimisme ini didorong geliat ekonomi lokal, termasuk penyelenggaraan berbagai acara pemerintah dan proyek strategis daerah yang menjaga perputaran uang di masyarakat tetap stabil.
Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna mengantisipasi tantangan pasokan di masa mendatang, sehingga tren positif ini dapat terus berlanjut.(**)















Discussion about this post