BALIKPAPAN, Fokusborneo.com – Bank Indonesia terus memperkuat perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah agar lebih inklusif dan berkelanjutan. Salah satu fokus yang mendapat perhatian besar adalah pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang selama ini terbukti menjadi penopang utama ekonomi, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun pergerakan aktivitas usaha di daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyebutkan bahwa berbagai langkah terus dilakukan agar UMKM bisa berkembang dan naik kelas. Upaya tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat struktur ekonomi daerah secara menyeluruh.
Baca Juga
“UMKM memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, kami terus mendorong penguatan ekosistemnya, mulai dari produksi hingga akses pasar dan pembiayaan,” ujar Robi.
Beragam program pun dijalankan secara bertahap. Mulai dari penguatan ketahanan pangan daerah, perluasan akses ekspor, digitalisasi usaha, peningkatan kualitas produk, hingga membuka akses pembiayaan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Langkah-langkah ini juga diharapkan dapat membantu pengendalian inflasi serta menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Salah satu program yang tengah didorong adalah pengembangan klaster pangan berbasis Good Agricultural Practice (GAP) melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS). Program ini difokuskan pada peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian guna menjaga ketersediaan pasokan pangan di daerah.
Di sisi lain, transformasi digital UMKM juga terus dipacu lewat program DIGDAYA UMKM yang mulai dibuka pada 20 Mei 2026. Program ini mencakup proses onboarding, pendampingan intensif, sesi konsultasi individual, hingga monitoring yang berlangsung hingga Oktober 2026. Dari hasil kurasi bersama Otorita IKN, pemerintah daerah, dan mitra pembina, sebanyak 45 UMKM terpilih dari total 160 peserta untuk mengikuti program tersebut.
Untuk memperluas jangkauan pasar, Bank Indonesia Balikpapan juga menyiapkan Workshop Ekspor UMKM yang akan berlangsung pada Juni hingga Oktober 2026. Program ini dirancang agar pelaku UMKM mampu memenuhi standar pasar global sekaligus membangun jejaring bisnis di tingkat internasional.
Dari sisi pembiayaan, edukasi pengelolaan keuangan terus diperkuat, termasuk melalui kegiatan business matching yang melibatkan OJK dan perbankan. Inisiatif ini didukung oleh program BISAID yang berfokus pada pemetaan UMKM potensial agar lebih mudah terhubung dengan lembaga pembiayaan.
Tak hanya itu, penguatan ekosistem juga dilakukan melalui berbagai kegiatan unggulan seperti PESAN 2026 yang dijadwalkan pada 27–28 Juni 2026, serta Mahligai Nusantara pada September mendatang. Kegiatan tersebut akan diisi dengan berbagai workshop dan diskusi tematik, mulai dari kewirausahaan syariah, digitalisasi, hingga penguatan produk halal dan kemasan.
Di sektor ekonomi syariah, BI Balikpapan juga mendorong UMKM masuk dalam ekosistem Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA). Tahun ini, tiga UMKM binaan dari wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser berhasil lolos seleksi nasional, yakni Hharum, Rumah Ampiek, dan Kampoeng Timoer. Capaian ini menunjukkan meningkatnya daya saing UMKM daerah di tingkat nasional.
Sementara di sektor kopi, peningkatan kapasitas pelaku usaha dilakukan melalui Kompetisi Cangkir Barista “Championship Pejuang Kopi Nusantara”. Dari ratusan peserta secara nasional, tiga perwakilan dari wilayah kerja BI Balikpapan berhasil melaju ke tahap regional Kalimantan. Sebelumnya, pelatihan dan pendampingan barista juga telah digelar di Balikpapan, PPU, dan Paser untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di industri kopi.
Melalui berbagai program tersebut, Bank Indonesia Balikpapan terus berupaya membangun ekosistem UMKM yang lebih kuat, adaptif, dan mampu bersaing, sekaligus menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.(**)















Discussion about this post