TARAKAN – Sebagai fasilitas Objek Vital Nasional (Obvitnas), PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan menggandeng Pemerintah Kota Tarakan untuk menggelar simulasi penanggulangan keadaan darurat, Rabu (5/8/2026). Latihan bersama ini tidak hanya melibatkan personel gabungan lintas instansi seperti PMK dan BPBD, tetapi juga menyasar warga kawasan Ring 1 dalam prosedur evakuasi keselamatan.
Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan, Hario Somapangestu, menjelaskan bahwa status fasilitasnya sebagai pusat distribusi BBM utama untuk Tarakan dan Kalimantan Utara menuntut kesiapan penanganan darurat yang cepat dan terkoordinasi. Mengingat pentingnya keandalan pasokan energi, Pertamina menyadari penanganan insiden berskala besar tidak dapat hanya mengandalkan kapasitas internal.
“Penekanannya di penanggulangan keadaan darurat. Karena kami ini menyandang status sebagai objek vital nasional yang mendistribusikan energi BBM di seluruh wilayah Kota Tarakan maupun Provinsi Kalimantan Utara. Kami tidak bisa sendiri untuk menjamin proses bisnis berlangsung, sehingga membutuhkan dukungan dari stakeholder maupun instansi pemerintah terkait,” ujar Hario usai penandatanganan MoU, Selasa (4/8/2026).
Melalui kerja sama ini, kedua pihak memperkuat mekanisme penanganan darurat mulai dari penyusunan prosedur bersama, latihan berkala, hingga penyediaan bantuan personel. Hario menambahkan, simulasi dilakukan untuk menyamakan persepsi antarinstansi. Selain itu, bantuan dari Pemkot Tarakan—seperti tim Pemadam Kebakaran (PMK) dan BPBD—sangat dibutuhkan apabila terjadi skenario terburuk (worst case) di mana personel internal mengalami kelelahan atau terpapar uap BBM.
Meskipun membutuhkan bantuan eksternal, Pertamina memastikan sarana dan prasarana internal dalam kondisi siap tempur. Fasilitas Fuel Terminal Tarakan telah dilengkapi Organisasi Keadaan Darurat (OKD), satu unit pompa pemadam kebakaran laut berkapasitas 2.500 GPM yang mampu menjangkau area tangki, serta dua unit pompa PMK darat berkapasitas 1.500 GPM yang dirawat secara berkala.
Rangkaian simulasi diawali dengan technical meeting atau table top exercise untuk mematangkan skenario dan komunikasi via HT, sebelum dilanjutkan dengan simulasi lapangan. Menariknya, simulasi ini turut melibatkan masyarakat yang tinggal di kawasan Ring 1 Fuel Terminal.
Hario menegaskan, pelibatan warga bertujuan untuk mitigasi keselamatan agar masyarakat paham prosedur evakuasi mandiri. “Manajemen mengarahkan agar warga Ring 1 ikut dilibatkan. Jadi mereka bukan sebagai bantuan tenaga, tetapi sebagai warga yang dievakuasi menuju titik kumpul aman sesuai prosedur yang sudah kami siapkan,” jelasnya.
Guna memastikan kelancaran pengamanan kawasan dan jalur evakuasi, Pertamina juga memperkuat sinergi dengan Ditpamobvit Polda Kaltara, Polres Tarakan, Satlantas, TNI, hingga unsur Babinsa dan Dandim setempat. (**)














Discussion about this post