JAKARTA, Fokusborneo.com – Produk olahan perikanan asal Kalimantan Utara (Kaltara) kembali membuktikan daya saingnya di panggung internasional.
UMKM binaan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (KPwBI Kaltara), Dbaloy, sukses mengamankan kesepakatan bisnis bernilai fantastis pada ajang pameran perdagangan internasional Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang berlangsung di BSD City, Tangerang.
Dalam ajang perdagangan terbesar di Indonesia tersebut, Dbaloy yang memproduksi olahan bandeng tanpa duri berhasil mencatatkan kesepakatan bisnis melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) senilai Rp1,12 miliar.
Capaian ini sekaligus membuka keran penetrasi pasar ekspor secara masif untuk komoditas unggulan perikanan daerah.
Selama pameran berlangsung, Dbaloy tampil aktif memanfaatkan momentum business matching dan business pitching yang difasilitasi Bank Indonesia.
Pelaku usaha lokal ini berinteraksi langsung dengan belasan calon pembeli (buyer) potensial, baik dari skala jaringan ritel modern domestik maupun pasar internasional.
“Capaian MoU bernilai miliaran rupiah ini menjadi bukti nyata bahwa produk olahan perikanan khas Kaltara memiliki daya saing yang tinggi serta potensi besar untuk menembus pasar global melalui penguatan kualitas produk dan fasilitasi akses pasar yang berkelanjutan,” ungkap Kepala Perwakilan BI Kaltara, Agus Taufik dalam keterangan resminya, Kamis (22/10/26).
Proses diplomasi dagang yang dilakoni Dbaloy menjangkau calon mitra dari sembilan negara tujuan ekspor, di antaranya Jepang, Kuwait, India, Filipina, Malaysia, Nigeria, Uni Emirat Arab, Singapura, hingga Brunei Darussalam.
Pertemuan bisnis tersebut menghasilkan tindak lanjut konkret berupa pertukaran surat permintaan (inquiry letter), pengiriman penawaran harga, penjajakan Letter of Intent (LoI), hingga negosiasi pematangan kontrak penjualan.
Salah satu peluang ekspor yang paling cepat berkembang yakni penjajakan kontrak penjualan dengan BMH Sdn. Bhd. dari Sabah, Malaysia, yang ditujukan untuk uji pasar (market test) serta penetrasi awal produk Dbaloy di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, komunikasi bisnis dengan calon pembeli asal Kuwait dan jaringan ritel nasional Suzuya Group di Medan juga telah memasuki tahap penyiapan LoI.
Sementara itu, untuk calon buyer dari Singapura, negosiasi difokuskan pada penyesuaian skema pengiriman logistik menggunakan metode Less than Container Load (LCL) dan modifikasi desain kemasan agar sesuai dengan standar regulasi impor negara tersebut.
Tidak hanya sukses dari sisi kesepakatan jangka panjang, performa penjualan langsung (direct sales) Dbaloy di stan pameran juga sangat memuaskan.
Seluruh stok produk yang diboyong ke TEI 2026 ludes terjual alias sold out 100 persen. Total 170 box olahan bandeng habis diborong pengunjung, yang terdiri atas 100 box Bandeng Prestoku dan 70 box Bandeng Asapku.
Keberhasilan melipatgandakan peluang bisnis di ajang internasional ini menjadi indikator positif bahwa komoditas perikanan bernilai tambah (value-added) asal Kaltara semakin diminati pasar global.(**)













Discussion about this post