TARAKAN, Fokusborneo.com – Peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi momentum penting bagi perempuan di Kalimantan Utara (Kaltara) untuk beranjak dari sekadar menuntut kesetaraan menuju pencapaian prestasi nyata.
Hal ini terungkap dalam kegiatan Sharing Session yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kaltara di Kafe Foryou, Karang Anyar Kota Tarakan dengan tema “Transformasi Emansipasi ke Prestasi”, Sabtu (29/4/26).
Ketua DPW Srikandi PP Kaltara, Lili Suryani, menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk membuka wawasan perempuan di Kaltara, khususnya di Kota Tarakan, agar berani mengambil peran kepemimpinan.
”Kegiatan sharing session ini kami tujukan bagi ibu-ibu dan perempuan yang menjadi pemimpin di Kaltara. Kami berharap Kartini hari ini bukan lagi Kartini yang dilarang atau harus berlawan, tapi Kartini yang mengisi emansipasi dengan menjadi pemimpin di tempat-tempat strategis,” ujar Lili Suryani.
Acara yang dihadiri sekitar 100 peserta dari anggota Srikandi, paguyuban, hingga mahasiswa ini diharapkan mampu memberikan inspirasi baru.
“Harapan saya, perempuan di Kaltara terutama di Tarakan bisa maju dan membuka wawasan. Artinya, perempuan itu bukan hanya di rumah saja, tetapi dia mampu menjadi pemimpin untuk dirinya, keluarganya, serta di mana pun dia berada,” tambahnya.

Hadir sebagai narasumber utama, Anggota DPR RI Komisi VII, Hj. Rahmawati Zainal, S.H., menegaskan perempuan adalah penggerak utama perubahan, bukan sekadar pelengkap pembangunan.
”Hari ini kita tidak lagi berbicara tentang perempuan sebagai penonton. Kita adalah subjek pembangunan, kita adalah pemimpin masa depan,” tegas Rahmawati.
Ia mendorong perempuan Kaltara untuk meningkatkan kapasitas diri, melek digital, dan berani keluar dari zona nyaman untuk mengisi ruang publik dan memperkuat ekonomi melalui UMKM.
Rahmawati menyoroti potensi besar perempuan di Kaltara yang dikenal tangguh dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi.
Ia memberikan tiga langkah aksi nyata bagi perempuan untuk bisa tampil dan memimpin. Rahmawati berpesan perempuan harus terus belajar, baik melalui pendidikan formal maupun penguasaan literasi digital agar relevan dengan perkembangan zaman.
“Beranilah keluar dari zona nyaman. Aktiflah di organisasi dan kegiatan sosial. Perempuan tidak boleh hanya diam, tapi harus berani mengisi ruang-ruang strategis,” pesannya.
Ia mendorong para pelaku UMKM perempuan untuk lebih percaya diri dan memanfaatkan teknologi serta media sosial guna memperluas jaringan usaha.
Rahmawati meyakini kemajuan seorang perempuan akan berdampak domino pada kesejahteraan daerah.
“Ingatlah, ketika seorang perempuan maju, maka keluarganya akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat akan kokoh, dan daerah kita Kalimantan Utara akan ikut berkembang pesat,” pungkasnya.
Kepala Perwakilan Ombudsman RI Kaltara, Maria Ulfah, melengkapi diskusi dengan membedah perbedaan antara emansipasi sebagai hak dan prestasi sebagai bukti kompetensi.
Ia menekankan pentingnya gaya kepemimpinan perempuan yang adaptif dan empatik di era modern.
“Di era yang penuh ketidakpastian (VUCA), gaya kepemimpinan perempuan yang adaptif, empatik, dan kolaboratif sangat dibutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Capt. Fahma Junus mengajak peserta untuk membumikan makna prestasi.
“Prestasi tidak selalu berupa trofi. Ibu rumah tangga yang cerdas mengelola ekonomi keluarga atau mahasiswa yang aktif berorganisasi adalah bukti nyata peran strategis perempuan,” jelasnya.
Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi semangat bagi perempuan Kaltara untuk terus berkarya dan membuktikan dengan dukungan ekosistem yang tepat (women supporting women), perempuan mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan daerah.(*/mt)











Discussion about this post