BALIKPAPAN, Fokusborneo.com – Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mulai bersiap menghadapi potensi dampak El Nino tahun ini. Langkah antisipasi difokuskan untuk menjaga pasokan air bersih tetap aman di tengah kemungkinan penurunan curah hujan.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, mengatakan persiapan dilakukan sejak adanya peringatan dini dari BMKG. Koordinasi juga langsung dilakukan bersama pemerintah kota dan Dewan Pengawas.
“Begitu ada informasi awal, kami langsung rapat dan berkoordinasi dengan Dewan Pengawas serta pemerintah kota untuk menyiapkan langkah penanganan,” kata Yudhi.
Ia mengingatkan, pengalaman El Nino pada akhir 2023 hingga awal 2024 menunjukkan penurunan curah hujan yang cukup tajam, dan kondisi baru pulih beberapa bulan setelahnya. Tahun ini, puncak El Nino di Kalimantan diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Oktober.
Dari hasil analisis Balai Wilayah Sungai, curah hujan berpotensi turun hingga 40 persen. Kondisi ini bisa berdampak pada menurunnya pasokan air ke waduk, seperti Manggar dan Teritip, bahkan hingga di bawah setengah dari kapasitas normal.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, PTMB menyiapkan skenario penyesuaian produksi. Saat periode kering mencapai puncaknya, kapasitas produksi air bersih diperkirakan turun sekitar 25 persen.
“Ini bukan semata pengurangan layanan, tapi upaya menjaga ketersediaan air agar tetap cukup sampai periode kering berakhir,” jelasnya.
Sebagai langkah tambahan, PTMB juga mengoptimalkan sumber air alternatif, termasuk bendungan pengendali (bendali). Air dari bendali akan diolah menggunakan Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile yang bisa dipindahkan sesuai kebutuhan.
Distribusi air pun disiapkan melalui skema darurat dengan mobil tangki. Pemerintah kota menambah armada hingga sekitar 30 unit, dari sebelumnya 10 unit.
Wilayah Balikpapan Utara dan Barat menjadi prioritas karena dinilai paling rentan terdampak. Warga juga didorong menyiapkan tempat penampungan air seperti tandon atau drum.
Saat ini, operasional PTMB masih berjalan normal sambil terus memantau kondisi waduk. Tambahan pasokan air baku dari sumur bantuan pemerintah provinsi serta potensi Sungai Sepaku turut menjadi penyangga.
Di sisi lain, tantangan juga muncul, terutama kenaikan biaya bahan bakar untuk distribusi air tangki. Perbaikan jaringan pipa terus dilakukan untuk menekan kebocoran.
“Kami upayakan distribusi tetap berjalan stabil tanpa gangguan,” tegas Yudhi.
Meski ada peluang pemulihan jika curah hujan kembali normal menjelang akhir tahun, kewaspadaan tetap dijaga. PTMB bersama pemerintah kota juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak.
Upaya ini tidak hanya untuk menjaga distribusi, tetapi juga memastikan ketersediaan air tetap terjaga di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.(**)















Discussion about this post