TARAKAN, Fokusborneo.com – Panggung Expo Ketahanan Pangan yang diinisiasi oleh Garuda Surya Tarumanegara (GardaNegara) di Lapangan Tarakan Plaza mendadak riuh, Rabu malam (8/7). Acara yang sudah bergulir sejak 27 Juni lalu ini sukses menyedot perhatian massa berkat kehadiran pendakwah muda naik daun, Koh Dennis Lim.
Ini merupakan safari dakwah perdana sang ustaz keturunan Tionghoa tersebut di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Begitu tiba di Kota Tarakan, Koh Dennis langsung disambut antusiasme ratusan jemaah yang mayoritas diisi oleh generasi muda dan kaum ibu.
Tidak hanya itu, hadir langsung Wakil walikita Tarakan Ibnu Saud Is, Ketua PCNU Tarakan Abdul Samad, Kapolsek Tarakan Barat, Tokoh Agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Suasana toleransi di Bumi Paguntaka rupanya memberikan kesan mendalam bagi Koh Dennis. Ia mengaku kagum dengan predikat Tarakan sebagai “Miniatur Indonesia”, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan agama bisa hidup berdampingan dengan damai.
Saat berbincang mengenai pendekatan dakwah yang tepat untuk merangkul generasi muda—terutama dalam membentengi mereka dari bahaya judi online—Koh Dennis menekankan satu poin krusial: ketulusan niat. Menurutnya, fokus seorang penyampai kebaikan bukanlah kuantitas pendengar, melainkan rida Sang Pencipta.
“Kuncinya hanya meluruskan niat. Seindah apa pun retorika kita, kalau niatnya keliru, Allah bisa dengan mudah membuat pendengar enggan menyimak. Sebaliknya, jika disampaikan dengan ikhlas lillaahi ta’ala, Allah yang akan menggerakkan hati mereka untuk menerima pesan tersebut,” jelasnya tenang.
Ia juga mengingatkan bahwa indikator keberhasilan dakwah tidak diukur dari jumlah jemaah. “Target kita adalah rida Allah, bukan popularitas. Di akhirat nanti, kita tidak akan ditanya seberapa banyak pengikut kita,” tambahnya.
Dalam ceramah intinya, Koh Dennis mengajak masyarakat untuk menomorsatukan ilmu Ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) di atas ilmu-ilmu duniawi lainnya, seperti matematika, arsitektur, maupun politik.
“Kita harus benar-benar mengenal-Nya. Kalau tidak, hidup ini akan terasa melelahkan. Harga barang naik jadi masalah, pemimpin tidak amanah jadi masalah, kena tipu jadi masalah. Tapi masalah terbesar adalah ketika kita mati dalam keadaan tidak mengenal Tuhan kita,” pesannya di hadapan jemaah yang menyimak dengan khidmat.
Tak hanya itu, Koh Dennis juga membedah urusan domestik rumah tangga dengan merujuk pada Surah At-Tahrim ayat 6, yang berisi perintah menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Ia menyelipkan pesan menyentuh bagi para istri agar selalu menjadi pendukung terbaik bagi suami dan menjaga tutur kata.
Sebagai penutup, ia mengutip pesan legendaris dari wanita salihah zaman dulu yang relevan untuk diterapkan para istri zaman sekarang:
“Wahai suamiku, kami sanggup menahan perihnya kelaparan, tetapi kami tidak akan pernah kuat menahan panasnya api neraka. Karena itu, jangan pernah membawa pulang rezeki yang haram ke rumah ini.”
Melalui rangkaian safari dakwah ini, Koh Dennis berharap warga Tarakan dapat memetik hikmah untuk terus memperbaiki kualitas ibadah, mempererat keharmonisan keluarga, serta menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. (**)














Discussion about this post