TARAKAN, Fokusborneo.com – Fenomena kabut tipis dan asap yang belakangan ini mengganggu jarak pandang warga Kota Tarakan dipastikan terjadi akibat melonjaknya konsentrasi partikel debu dan asap di udara.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan mencatat, parameter Particulate Matter (PM 2,5) sempat melesat ke angka 60 hingga 68. Angka ini berada di atas ambang batas kondisi ideal yang seharusnya berada di bawah angka 50.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Tarakan, Chaizir Zein, mengonfirmasi tingginya angka tersebut menandakan banyaknya partikulat mikroskopis yang melayang di atmosfer.
”Mulai terganggunya pandangan akibat asap dan kabut itu menandakan tingginya volume partikulat bebas di udara. Makin tinggi nilainya, makin padat kandungan asap maupun debu yang beterbangan,” ungkap Chaizir, Kamis (13/8/26).
Data Air Quality Monitoring System (AQMS) mengindikasikan penurunan kualitas udara ini sudah terdeteksi sejak awal Agustus dan terus berlanjut hingga dua pekan terakhir.
Cuaca yang minim curah hujan, maraknya kebakaran lahan, kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, hingga debu jalanan yang terangkat akibat kekeringan menjadi pemicu utamanya.
Meski demikian, status kualitas udara Kota Tarakan sejauh ini dipastikan masih aman. Pada sistem pemantauan, indikator udara masih berwarna biru dan belum menyentuh warna kuning (kategori tidak sehat).
”Meskipun masuk level aman, tindakan pencegahan harus segera diambil agar indikator PM 2,5 bisa ditekan kembali ke posisi normal,” lanjutnya.
DLH sangat berharap curah hujan kembali meningkat untuk membantu mengendapkan partikulat tercemar yang melayang di udara. Warga juga diimbau keras untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Untuk aktivitas harian, masyarakat umum masih diizinkan beraktivitas di luar rumah seperti biasa. Kendati demikian, perlindungan ekstra sangat disarankan bagi kelompok rentan.
”Bagi warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma atau ISPA, kami sarankan mulai mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” saran Chaizir.
Saat ini, alat pemantau AQMS milik DLH aktif merekam data real-time dengan cakupan radius 2,5 kilometer yang mewakili area pemukiman, kawasan industri, perkantoran, hingga jalur lalu lintas padat.
Perkembangan ini juga bisa dipantau publik secara langsung melalui aplikasi ISPU Net. DLH menegaskan siap melakukan pengukuran tambahan di luar jangkauan alat jika sewaktu-waktu menerima aduan warga atau terjadi kondisi darurat.(**)













Discussion about this post