TARAKAN, Fokusborneo.com – Pengusaha angkutan barang dan logistik yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Forwarder dan Logistik Indonesia (ALFI/ILFA) Tarakan mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Bio Solar subsidi di wilayah Tarakan.
Ketua DPC ALFI/ILFA Tarakan, Efri Hariyanto, mengungkapkan pasokan Bio Solar kerap mengalami kekosongan pada akhir bulan, khususnya mulai tanggal 26 hingga awal bulan berikutnya.
“Informasi dari teman-teman yang biasa mengantre, tanggal 26 ke atas itu kadang-kadang tidak ada BBM Bio Solar. Baru nanti di awal bulan, tanggal 1 atau 2, tersedia kembali setelah berkoordinasi dengan SPBU,” ujar Efri.
Kondisi kekosongan BBM bersubsidi ini dinilai sangat berpengaruh terhadap aktivitas distribusi logistik. Pasalnya, armada angkutan barang memegang peranan vital dalam menyalurkan kebutuhan pokok dan barang-barang masyarakat yang mayoritas masuk melalui pelabuhan.
Saat ini, terdapat sekitar 170 unit kendaraan logistik yang terdaftar di Tarakan, meliputi jenis trailer, tronton, hingga truk kayu.
Untuk menyiasati kekosongan Bio Solar di akhir bulan, para sopir dan pengusaha angkutan terpaksa beralih menggunakan BBM non subsidi demi menyelesaikan kontrak pengiriman barang.
Penggunaan BBM non subsidi dilakukan, agar operasional tetap berjalan, meski harus menanggung kenaikan biaya operasional akibat fluktuasi harga.
“Untuk mengambil kontainer di pelabuhan menuju SPBU terdekat (seperti SPBU Persemaian) dan sebaliknya, armada membutuhkan sekitar 10 hingga 20 liter BBM,” ungkapnya
Sesuai Surat Edaran (SE) Wali Kota, alokasi Bio Solar subsidi ditetapkan sebesar 48 liter per kendaraan per hari.
Melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dihadiri, Efri berharap adanya solusi konkret dari pihak terkait, khususnya Pertamina dan pemerintah daerah, agar kelancaran pasokan BBM dapat terjamin.
“Harapan kami, Bio Solar atau BBM non-subsidi dapat selalu siap dan tersedia sepanjang bulan tanpa ada periode kekosongan,” tambahnya.
Mengingat adanya kendala teknis seperti kendala sistem atau hilangnya barcode bagi sebagian sopir, Efri berharap Pertamina dapat memfasilitasi proses pendaftaran atau pemulihan barcode dengan lebih cepat.
“Harapan kami, ketersediaan BBM bisa terjaga selama satu bulan penuh agar tidak terjadi fluktuasi harga di masyarakat dan sektor logistik tetap bertahan,” pungkasnya.(**)














Discussion about this post