TARAKAN, Fokusborneo.com – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat kondisi inflasi di wilayah Bumi Benuanta tetap berada dalam kondisi yang terjaga pada periode Juni 2026.
Berdasarkan data terbaru, Kaltara mengalami inflasi bulanan sebesar 0,45 persen (month-to-month/mtm), sedikit meningkat dibandingkan capaian Mei 2026 yang berada di angka 0,27 persen (mtm).
Secara keseluruhan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara tercatat mengalami inflasi.
Kabupaten Nunukan mencatatkan inflasi sebesar 0,37 persen (mtm), Kota Tarakan sebesar 0,45 persen (mtm), dan Tanjung Selor menjadi yang tertinggi dengan andil sebesar 0,67 persen (mtm).
Kendati mengalami dinamika bulanan, secara tahunan gabungan 3 kota IHK di Kaltara tercatat berada di angka 3,30 persen (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan performa yang positif karena berada lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian inflasi Nasional yang menyentuh 3,34 persen (yoy).
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltara, Reza Hidayat menjelaskan pergerakan inflasi pada Juni 2026 ini secara umum masih terkendali dengan baik berkat sinergi lintas sektor.
”Inflasi Kalimantan Utara tetap terjaga pada Juni 2026 ini. Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan. Langkah ini krusial demi mendukung daya beli masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan,” ungkap Reza Hidayat.
Lebih lanjut, Reza memaparkan andil inflasi terbesar pada bulan Juni didominasi oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Transportasi.
Secara spesifik, komoditas utama yang mendorong inflasi kali ini adalah cabai rawit, bawang merah, dan bensin.
”Peningkatan harga pada cabai rawit dan bawang merah dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan cabai lokal. Selain itu, pasokan bawang merah dari sentra produksi khususnya dari Sulawesi Selatan juga terpantau terbatas dalam beberapa waktu terakhir,” jelasnya.
Sementara dari sektor transportasi, kenaikan harga bensin dipicu adanya kebijakan penyesuaian harga komoditas global dan domestik.
“Harga bensin mengalami kenaikan seiring dengan adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku pada 10 Juni 2026 kemarin, khususnya untuk jenis Pertamax dan Pertamax Green,” tambahnya.
Di sisi lain, laju inflasi Kaltara tidak meroket lebih tinggi berkat adanya sejumlah komoditas yang mengalami deflasi atau menjadi penahan inflasi.
Penurunan harga yang paling signifikan terjadi pada tarif angkutan laut, harga telur ayam ras, serta emas perhiasan.
Reza Hidayat menyebutkan, tarif angkutan laut mengalami penurunan seiring kebijakan pemberian diskon tiket kapal laut penumpang kelas ekonomi sebesar 30 persen.
Kebijakan stimulus ini diberlakukan untuk periode 20 Juni hingga 15 Agustus 2026 guna meringankan beban bertransportasi masyarakat.
”Selain angkutan laut, harga telur ayam ras juga mengalami penurunan berkat pasokan yang memadai di pasar serta adanya upaya berkelanjutan untuk menstabilkan biaya produksi para peternak lokal.
Sementara itu, untuk emas perhiasan, harganya menurun sejalan dengan koreksi harga emas global yang dipengaruhi penguatan dolar AS dan beralihnya preferensi investor ke aset berimbal hasil lainnya,” urai Reza.
Menariknya, meskipun dihadapkan pada fluktuasi harga pangan dan energi, tingkat optimisme konsumen di Kaltara justru menunjukkan tren yang sangat positif.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kaltara pada Juni 2026 berada di level optimis, yakni bertengger di angka 117,74.
Menurut analisa Bank Indonesia, tingginya angka IKK ini didukung kuat peningkatan konsumsi domestik masyarakat, terutama dalam momentum menyambut periode libur panjang anak sekolah.
Kondisi ini mencerminkan roda ekonomi dan aktivitas belanja di tingkat akar rumput tetap bergerak dinamis dan tangguh terhadap gejolak musiman.(**)













Discussion about this post