TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Pergerakan roda perekonomian Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) saat ini dinilai masih sangat bergantung pada sektor primer, khususnya pertambangan dan ekstraktif.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi Kaltara sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, saat hadir sebagai narasumber dalam forum Benuanta Economic Forum 2026 yang digagas oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara di Aula Lantai 1 Kantor Gubernur Kaltara, Tanjung Selor, Selasa (4/8/26).
Forum yang mengusung tema “Menavigasi Transformasi Ekonomi Kalimantan Utara menuju Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Industri Pertambangan” ini menjadi ajang diskusi strategis bagi para pemangku kepentingan di Kaltara.
Dalam pemaparannya yang bertajuk Transformasi Ekonomi Kaltara, Dr. Margiyono menggarisbawahi realitas struktur ekonomi Kaltara di mana sektor primer memberi kontribusi dominan hingga 40–50 persen, sementara sektor sekunder (industri pengolahan) hanya berada di kisaran 8–9 persen.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan masih terjadinya input leakage (kebocoran input) lantaran hasil sektor primer belum terolah secara optimal di dalam daerah.
“Masa depan perekonomian Kaltara sangat tergantung pada sejauh mana kita mampu mendorong transformasi dari sektor pertanian murni menuju industri pertanian dalam arti luas, mencakup perkebunan, kehutanan, hingga sektor perikanan dan kemaritiman,” tegas Margiyono.
Selain menyoroti potensi sektor pertanian dan perikanan, Margiyono juga memaparkan potensi strategis Kaltara yang dilintasi jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia II (ALKI II).
Pergeseran dinamika pelayaran dunia di ALKI II dinilai harus ditangkap sebagai peluang emas guna menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar industri ekstraktif batu bara.
Dari sisi spasial, ia memetakan Kota Tarakan saat ini masih menjadi pusat pertumbuhan utama perekonomian Kaltara, yang kemudian disokong secara kuat Kabupaten Bulungan serta Kabupaten Nunukan sebagai penyangga berikutnya.
Guna mendukung percepatan transformasi ekonomi dan menjaga daya saing daerah, Margiyono menekankan pentingnya sinergi dan soliditas antara pembiayaan fiskal dari pemerintah daerah dengan sektor perbankan.
Ia mencermati meskipun porsi pembiayaan perbankan di Kaltara terbilang dominan dan mampu mengakselerasi perekonomian, ketergantungan yang terlalu tinggi tanpa dibentangi ketahanan modal daerah dapat membuat perekonomian rawan terhadap goncangan eksternal.
”Perlu adanya soliditas dan koordinasi yang padu antara kebijakan anggaran pemerintah daerah dengan pembiayaan perbankan serta Bank Indonesia, agar alokasi modal benar-benar menyasar sektor-sektor produktif dan mampu menekan angka pengangguran serta kemiskinan secara merata di seluruh kabupaten/kota di Kaltara,” pungkasnya.(*/mt)















Discussion about this post