TARAKAN – Di atas gawai genggamnya, jemari Lukas (40) lincah mengusap layar aplikasi Habibi Garden. Dari layar ponsel pintar itu, ia tak hanya memantau kadar pH tanah, tetapi juga mengendalikan aliran air dan nutrisi otomatis untuk ratusan pohon cabai di dalam greenhouse seluas 10 x 12 meter di depan rumahnya, Jl. Pangeran Aji Iskandar, RT 14, Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara. Tidak ada lagi pacul atau cangkul manual. Di tangan sosok pendeta yang juga Ketua Kelompok Tani Tunas Mekar ini, wajah pertanian di utara Nusantara tak lagi identik dengan peluh dan keterbatasan, melainkan deretan algoritma dan sensor pintar.
Kisah Lukas menjadi salah satu potret nyata bagaimana transformasi pertanian berbasis digital atau smart farming mulai berakar kuat di daerah, menopang ketahanan pangan, dan menjadi fondasi utama penguat ekonomi lokal maupun nasional.
Lahir dan dibesarkan dalam keluarga petani, akar agraris telah menancap kuat pada diri Lukas. Setelah merantau ke Tarakan sekitar kurun waktu 2007–2008 dan membina rumah tangga, ia memutuskan untuk menekuni dunia bercocok tanam di samping menjalankan amanah pelayanan kerohanian.
“Jadi kalau saya bertani itu karena memang latar belakang dari orang tua petani. Walaupun profesi saya seorang tokoh agama, bertani itu enggak hilang dalam diri saya. Saya tetap cintai dan tekuni. Salah satunya juga bisa menjadi tambahan pendapatan,” ujar Lukas saat ditemui pada Jumat (11/9/2026).
Awalnya, Lukas menggarap lahan seluas setengah hektar hingga berkembang meluas mengelola dua hektar lahan terbuka (outdoor) di kawasan perbukitan. Berbagai komoditas ia tanam, mulai dari timun, kacang-kacangan, hingga cabai yang menjadi fokus utamanya.
Namun, bertani di area terbuka menyimpan tantangan ekstrem. Musim kemarau panjang yang melanda Tarakan seperti saat ini hingga tiga minggu berturut-turut tanpa hujan menjadi pukulan telak bagi pertanian konvensional. Keterbatasan sumber air di area bukit memperparah keadaan, hingga memicu kegagalan panen.
“Cabai yang harusnya kita panen puluhan hingga ratusan kilo tidak bisa dipetik. Akhirnya kemarin kami hanya panen 5 sampai 6 kilo yang di outdoor itu,” kenangnya.
Titik balik perjalanan agribisnis Lukas terjadi ketika potensi dan kegigihannya dilirik oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara. Melalui skema pembinaan dan kemitraan strategis, Lukas difasilitasi pembangunan satu unit greenhouse modern berbasis smart farming berukuran 10 x 12 meter pada tahun 2025 lalu. Pembangunan beserta fasilitas pendukung tersebut menelan investasi sekitar Rp200 juta. Tidak hanya itu, Lukas juga diajak mengikuti studi banding di Jawa Barat untuk belajar pertanian modern secara langsung.
Transformasi menuju pertanian smart farming ini tidak selalu mulus sejak hari pertama. Lukas mengakui bahwa panen perdana di dalam greenhouse sempat mengalami kegagalan akibat formulasi media tanam yang belum pas. Namun, jiwa pembelajar Lukas tak surut. Lewat evaluasi mendalam, ia mengubah metode penanaman menggunakan planter bag bervolume besar guna menampung perakaran cabai yang tergolong tanaman keras berkayu.
“Kalau kita bicara hasil, karena ini baru pertama, memang waktu kita tanam pertama gagal karena mungkin medianya yang kurang. Kita jadi terus evaluasi, akhirnya kita pakai planter bag yang media tanamnya lebih banyak. Karena kita melihat bahwa cabai ini kan dia jenisnya pohon, gitu. Jadi dia harus butuh media tanam yang banyak supaya bisa menampung akar,’’ terangnya.
Kini kebunnya tumbuh lebat dan sudah siap dipanen hasilnya secara berkelanjutan. Lukas mengungkapkan, keunggulan greenhouse dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) yang terintegrasi melalui aplikasi Habibi Garden. Perangkat sensor pintar ini mendeteksi kadar pH tanah, kelembapan, kebutuhan unsur hara (N, P, dan K), hingga mengatur penyiraman serta pendinginan ruang (cooling system) secara otomatis. Bahkan di dalam ruangan juga dilengkapi kamera CCTV untuk memantau kapan cabai bisa dipanen.
“Keunggulannya, teknologi ini tidak terpengaruh musim cuaca. Selain itu, irigasinya berbasis teknologi sehingga sangat menghemat waktu. Aplikasi bisa memberi tahu jika pH tanah atau nutrisi pupuk kurang, serta mendeteksi kebutuhan air secara akurat,” jelas Lukas sembari menunjukkan perangkat prosesor di lokasi.
Di dalam greenhouse tersebut, sekitar 320 pohon cabai kini tengah memasuki fase pembungaan lebat. Pada puncaknya nanti, setiap siklus 5 hari sekali greenhouse ini diproyeksikan mampu menyumbang 10 kilogram cabai segar secara konsisten selama masa produktif 6 bulan.
Dari segi pemasaran, hasil panen cabai dijual untuk memenuhi kebutuhan warga khususnya di wilayah Kecamatan Tarakan Utara dengan harga relatif tinggi dan stabil, mencapai Rp70.000 per kilogram. Sementara dari lahan terbuka, Lukas bermitra dengan pengepul pada kisaran harga Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
Biaya operasional greenhouse berbasis IoT tergolong sangat efisien. Pengeluaran energi listrik untuk pompa dan sensor hanya berkisar Rp300.000 per bulan, dengan potensi pendapatan kotor bulanan mencapai Rp2,5 juta.
Melalui efisiensi teknologi, Lukas yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Tunas Mekar turut mengemban misi edukasi bagi generasi muda. Berkat hasil bertani, ia berhasil membiayai pendidikan ketiga anaknya. Anak pertamanya kini mengabdi sebagai Bintara Brimob Polri di Ibu Kota Nusantara (IKN), anak kedua masih di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dan anak ketiga berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tidak hanya itu, Lukas pun rutin menerima kunjungan mahasiswa Universitas Borneo Tarakan maupun pemuda Gen Z untuk mengenalkan pertanian modern.
“Kami berupaya memberikan pandangan bagaimana bertani yang kreatif dan modern. Ke depan, mereka tak perlu kotor-kotoran. Bangun pagi tinggal mengecek sistem di ponsel, ‘Oh semua sistem bekerja’, lalu tinggal memantau dan panen,” tutur Lukas.
Di sisi lain, Lukas menggarisbawahi pentingnya dukungan pemerintah dalam penyediaan sarana pengairan, seperti mesin pompa air dan jaringan selang irigasi, agar produktivitas pertanian lokal dapat terus berkelanjutan.

Sinergi Kebijakan Pemkot dan Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Harga
Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menegaskan komitmennya untuk terus menggenjot adopsi teknologi pertanian digital serta menguatkan kapasitas kelembagaan kelompok tani. Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan Usaha, dan P2HP DKPP Kota Tarakan, Hj. Siti Nurdiyanah, S.P., M.P., menyampaikan bahwa pembinaan administrasi dan kelembagaan terus ditingkatkan guna mendorong peningkatan kelas kelompok tani di Tarakan.
Berdasarkan data DKPP Kota Tarakan, saat ini terdapat 123 Kelompok Tani dan 47 Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan rata-rata garapan lahan pertanian antara 20 hektar hingga 25 hektar per kelompok yang tersebar di semua kecamatan, yakni Kecamatan Tarakan Utara, Kecamatan Tarakan Tengah, Kecamatan Tarakan Timur, dan Kecamatan Tarakan Barat sebagian karena mayoritas daerah pesisir.
“Di sisi komoditas, sektor hortikultura menjadi andalan utama, terutama di daerah Juata (Tarakan Utara), dengan komoditas seperti semangka, melon, pepaya, sayur-sayuran, dan cabai yang telah memenuhi kebutuhan lokal. Selain itu, kawasan Juata Laut juga difokuskan sebagai percontohan program cetak sawah,” terangnya.
Di samping pembenahan data dan kapasitas kelompok, pembaharuan di sektor pertanian digital (smart farming) juga mulai diterapkan secara bertahap. Pemkot Tarakan bekerjasama dengan Bank Indonesia membangun greenhouse modern berbasis IoT untuk komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti cabai dan hortikultura guna menjaga stabilitas inflasi daerah. Modernisasi pertanian ini juga diselaraskan dengan program percepatan tanam dan mekanisasi modern di lapangan.
“Untuk mengatasi keterbatasan APBD, Pemkot Tarakan aktif menggalang kerja sama lintas sektor (CSR) bersama Bank Indonesia, BRI, dan PT Medco dalam menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti handtractor, alkon, hingga hand sprayer,” sambungnya.
Sinergi antara Pemkot Tarakan, Bank Indonesia, dan para petani tangguh seperti Lukas dalam menerapkan smart farming dan greenhouse berbasis IoT menjadi langkah konkret untuk menjaga stabilitas inflasi daerah, mengamankan pasokan pangan lokal, serta menjadikan pertanian digital sebagai fondasi utama penguat ekonomi nasional.
Langkah strategis ini diperkuat oleh komitmen Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara. Kepala KPwBI Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyampaikan bahwa keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah memerlukan penguatan sektor-sektor produktif dan perluasan ekosistem digital dari hulu ke hilir.
Perekonomian Kalimantan Utara pada Triwulan II 2026 mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 4,96% year-on-year (yoy). Pendorong utama pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja sektor Industri Pengolahan yang melesat hingga 28,06% (yoy) seiring meningkatnya hasil olahan kayu dan beroperasinya komoditas baru aluminium dari kawasan Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI).
Dari sisi penggunaan, kontribusi pertumbuhan Kaltara disokong oleh kinerja Ekspor (3,92%), Industri Pengolahan (2,49%), dan Konsumsi Pemerintah (1,41%). Meski demikian, Agus Taufik mengingatkan pentingnya diversifikasi ekonomi mengingat struktur PDRB Kaltara masih didominasi oleh komoditas mentah seperti Pertambangan (22,52%) dan Pertanian (16,73%).
“Peluang utama pertumbuhan Kaltara ke depan terletak pada hilirisasi industri logam dasar, hilirisasi pangan, serta pengembangan ekonomi digital dan inklusi keuangan,” ujar Agus Taufik.
Akselerasi Hilirisasi Pangan dan Digitalisasi Sistem Pembayaran Daerah
Untuk mengatasi keterbatasan rantai pasok dan menjaga ketahanan pangan daerah, Bank Indonesia mendorong pilar hilirisasi pangan dan penerapan pertanian digital (digital farming). Strategi ini meliputi pengolahan produk pertanian dan perikanan mentah, menjadi produk bernilai tambah tinggi yang memiliki daya simpan lebih lama serta berdaya saing ekspor. Selain itu, penggunaan teknologi digital pada sektor pertanian dan rantai pasok diarahkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, memperluas akses pasar, serta mendukung stabilitas harga pangan daerah melalui kerangka 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).
“Langkah ini juga sejalan dengan upaya menjaga inflasi daerah yang tercatat tetap terkendali dan stabil di angka 2,17% (yoy) per Agustus 2026,” sambungnya.
Pemberdayaan UMKM menjadi pilar utama BI Kaltara dalam mewujudkan pemerataan ekonomi. BI Kaltara terus memfasilitasi UMKM lokal melalui pelatihan manajemen usaha, pendampingan korporatisasi, hingga pembukaan akses pasar internasional.
Dukungan sektor keuangan terhadap UMKM juga menunjukkan tren sangat positif. Pada Triwulan III 2026, penyaluran kredit perbankan di Kaltara tumbuh melonjak sebesar 55,30% (yoy), dengan dorongan utama dari kredit investasi yang tumbuh 91,00% (yoy). Kualitas pembiayaan perbankan terjaga amat sehat dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) hanya sebesar 0,65%.
“Pengembangan UMKM dan pertanian digital didukung kuat oleh pesatnya penetrasi sistem pembayaran digital di Kaltara. Hingga Triwulan II 2026, pengguna QRIS mencapai 147.818 pengguna atau tumbuh 18% (yoy). Merchant QRIS menembus 125.451 merchant atau tumbuh 37% (yoy), yang mayoritas merupakan pelaku UMKM. Volume Transaksi QRIS melesat 154% (yoy) mencapai 6,66 juta transaksi dengan nominal mencapai Rp676 miliar atau tumbuh 137% (yoy),” urainya.
Penerapan QRIS yang makin meluas termasuk di seluruh pelabuhan speedboat utama Kaltara semakin mempermudah rantai transaksi ekonomi masyarakat dan pelaku UMKM di wilayah perbatasan.
Validasi Data BPS dan Kementan: Potensi Regional dan Kemandirian Kelompok Tani
Di sisi lain, Koordinator Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian Wilayah Tarakan, Hari Suyanto, mendorong kelompok tani di daerahnya untuk terus memperkuat kekompakan dan kedisiplinan guna menuju kemandirian kelompok. Langkah ini dinilai penting agar kelompok tani tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah.
Hari menyampaikan bahwa pembinaan dan sosialisasi yang dilakukan sejauh ini menitikberatkan pada perbaikan administrasi serta penguatan kebersamaan antar anggota. Menurutnya, tanpa kekompakan dan struktur yang rapi, kedisiplinan kelompok akan sulit terbentuk. Saat ini, sekitar 20 persen kelompok tani di Tarakan tercatat telah berhasil mencapai tingkat kemandirian dari kelas pemula hingga jenjang Lanjut dan Madya.
“Kami terus menekankan kepada kelompok tani yang masih di tingkat pemula agar ke depannya bisa mandiri dan tidak ketergantungan lagi dengan bantuan pemerintah,” ujar Hari.
Selain mendorong kemandirian, efektivitas sistem digitalisasi juga mulai diterapkan. Sebanyak 65 persen kelompok tani di Tarakan tercatat telah memanfaatkan teknologi digital, baik dalam hal pemasaran hasil panen maupun sistem pelaporan administrasi ke kementerian melalui tautan digital. Beberapa kelompok tani juga mulai berinovasi pada sektor pengolahan hasil panen (post-harvesting), seperti mengolah hasil tani menjadi produk olahan bernilai jual tinggi, yaitu sambal kemasan botol.
Meski demikian, Hari tidak memungkiri adanya tantangan SDM, terutama bagi anggota petani berusia lanjut yang masih gagap teknologi. “Kendala SDM pasti ada, terutama untuk anggota yang sudah sepuh (tua). Namun, secara bertahap dan berkesinambungan kita terus arahkan agar mereka mampu beradaptasi dengan teknologi digital ini,” pungkasnya.
Peran strategis sektor pertanian sebagai pilar utama perekonomian juga divalidasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, mengungkapkan bahwa Sensus Pertanian 2023 mencatat terdapat hampir 10.000 unit usaha pertanian berbasis perorangan di Tarakan, tepatnya di kisaran 9.900 usaha.
“Dari besaran sekitar 9.900 unit usaha perorangan tersebut, dominasi terbesarnya bergerak di subsektor perikanan, yakni mencapai sekitar 76 persen atau sekitar 7.500 usaha. Sisanya terbagi pada peternakan, tanaman pangan, dan perkebunan,” terang Umar.
Di sepanjang tahun 2025, sektor pertanian Tarakan mencetak nilai tambah mencapai Rp6,02 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB), atau berkontribusi sebesar 10,06 persen dari total PDRB Kota Tarakan tahun 2025. Tren positif berlanjut pada Triwulan II-2026 dengan nilai tambah Rp1,68 triliun atau berkontribusi 10,38 persen terhadap PDRB, di mana sekitar 7 persen disumbang oleh subsektor perikanan.
Pada subsektor tanaman pangan dan hortikultura, terdapat sekitar 600-an petani yang aktif di Tarakan dengan dominasi komoditas sayur-sayuran “SKB” (Sawi, Kangkung, Bayam) serta cabai. Umar menjelaskan bahwa komoditas ini memiliki keterkaitan erat dengan inflasi daerah akibat pergerakan permintaan dalam Survei Biaya Hidup (SBH).
“Bicara inflasi ini kan bicara rantai pasokan dan produksi untuk memenuhi permintaan masyarakat. Ketika sebuah komoditas menyumbang inflasi akibat kenaikan harga karena keterbatasan pasokan, di sisi lain kita harus memandangnya dari sudut pandang ekonomi sebagai opportunity atau peluang bagi petani lokal untuk mengisi celah kebutuhan tersebut,” ujar Umar.
Berdasarkan penelusuran saat rapat koordinasi Indeks Perubahan Harga (IPH), hasil panen cabai Tarakan terbukti tidak hanya beredar di pasar lokal, melainkan ikut menjadi penopang kebutuhan wilayah penyangga di sekitarnya, meski secara data resmi belum tercatat.
“Cabai dari Tarakan ternyata ikut memasok kebutuhan daerah lain seperti Kabupaten Tana Tidung, Malinau, hingga Nunukan. Ini membuktikan hasil hortikultura Tarakan memiliki daya saing dan peran strategis di tingkat regional Kalimantan Utara,” tambahnya.
Terkait status swasembada pangan, Umar menjelaskan bahwa Tarakan sebagai kawasan pulau kecil (small island) belum sepenuhnya mencapai tingkat swasembada mandiri untuk bahan pokok seperti beras. Oleh karena itu, strategi ketahanan pangan Tarakan ditopang dua jalur yakni, kemampuan produksi lokal pada komoditas tertentu serta kelancaran rantai pasokan dari luar daerah. BPS juga menekankan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi produk pertanian maupun perikanan, agar komoditas segar bermasa simpan pendek seperti cabai dapat diolah menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi.
“Pertanian di Tarakan terus tumbuh seiring bertambahnya jumlah penduduk dan peran Tarakan sebagai hub atau kota transit di Kalimantan Utara. Peluang pasar ini harus ditangkap melalui hilirisasi agar nilai tambah ekonominya benar-benar dinikmati oleh para petani dan masyarakat Tarakan,” pungkas Umar.

Pandangan Akademisi dan Dukungan Infrastruktur Digital
Dari kacamata akademisi, Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih, menegaskan bahwa sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan memegang peranan vital dalam menopang pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas pangan di Kaltara. Selain memberi kontribusi pada PDRB dan PAD, sektor ini menjadi motor utama dalam penyerapan tenaga kerja.
“Kalau tambang kan istilahnya padat modal, tapi kalau yang pertanian itu penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan juga masuk di dalam sektor ini, dan sangat signifikan menyerap tenaga kerjanya,” kata Dr. Ana Sriekaningsih.
Menurutnya, wilayah dengan bentang lahan luas seperti Kabupaten Bulungan (Tanjung Selor), Malinau, dan Tana Tidung memiliki potensi besar dalam pengembangan budidaya padi dan tanaman pangan. Khusus untuk Kota Tarakan, meskipun perikanan menjadi penyumbang nilai ekonomi terbesar, pertanian tanaman pangan dan hortikultura masih menghadapi kendala, salah satunya sentra yang terbatas, ketersediaan lahan, SDM terampil, serta infrastruktur irigasi.
Ia mendorong terobosan seperti pengalokasian lahan khusus tanaman pangan harian serta uji coba metode penanaman padi ladang (padi gogo) untuk meningkatkan produksi lokal. Dan ketergantungan pada produk lokal akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
“Kalau memang bisa, kebutuhan harian seperti sayur dan beras itu dari lokal, sehingga tidak mengambil dari luar. Otomatis akan memberikan dampak harga yang lebih murah karena tidak ada kontribusi transportasi masuk dalam penetapan harga,” jelasnya.
Dr. Ana juga menjelaskan dinamika inflasi pangan yang dipicu ketidakseimbangan pasokan dan permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) maupun pelaksanaan program baru pemerintah. “Contoh misalnya di saat pertama munculnya Makan Bergizi Gratis (MBG), ada kebutuhan sayur bertambah untuk katering. Di pasar sempat ada penyampaian susah cari sayur sehingga harga naik. Nah, itu yang bisa memicu inflasi jika pasokan lokal tidak ditambah. Meski demikian, laju inflasi di Kaltara dan Tarakan masih tergolong terkendali berkat strategi 4K,” ungkapnya..
Seluruh transformasi digital di sektor agribisnis ini ditopang kuat oleh penyiapan infrastruktur telekomunikasi. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DKISP) Kota Tarakan, Endah Sarastiningsih, menegaskan bahwa penyiapan jaringan yang andal merupakan syarat mutlak merealisasikan visi “Terwujudnya Tarakan sebagai Kota Cerdas”.
Saat ini, seluruh wilayah di Tarakan telah terjangkau jaringan telekomunikasi tanpa adanya titik blind spot berkat dukungan operator seluler, BUMD Perumda Tarakan Telekomunikasi, dan adanya infrastuktur Stasiun Bumi Satelit Republik Indonesia-1 (Satria-1).
“Ketersediaan sinyal dan jaringan yang stabil secara langsung mendorong pergerakan ekonomi masyarakat. Akses internet yang merata memberi kemudahan bagi pelaku UMKM dalam melakukan transaksi non-tunai berbasis QRIS, memperluas promosi melalui media sosial, hingga memanfaatkan platform digital dan sistem pengantaran barang (delivery),” ujar Endah.
Pemkot Tarakan juga mulai mempersiapkan penataan jaringan berbasis Gigabit City yang diselaraskan dengan pemetaan kawasan yang terbagi menjadi tiga zona diantaranya, Tarakan Tengah dan Barat sebagai Pusat Perdagangan dan Industri, Tarakan Timur sebagai Pusat Pendidikan dan Pengembangan SDM, serta Tarakan Utara sebagai Pusat Pemerintahan dan Layanan Publik.
Sinergi antara kelengkapan jaringan, keandalan infrastruktur digital, pembinaan Bank Indonesia, serta kegigihan para petani seperti Lukas memastikan bahwa pertanian digital di Kalimantan Utara bergerak nyata sebagai fondasi penguat ekonomi nasional. (**)
Reporter : Ari Yanto













Discussion about this post