TARAKAN, Fokusborneo.com – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan lonjakan signifikan dan berada dalam tren pertumbuhan berkelanjutan sepanjang periode 2024 hingga triwulan kedua 2026.
Akselerasi ini mencerminkan kian meluasnya akseptasi pembayaran digital di tengah masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah.
Berdasarkan data terbaru dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltara, jumlah pengguna QRIS di Katara telah mencapai 147.818 pengguna. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 18 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan jumlah pengguna tersebut diiringi oleh lonjakan dramatis pada aktivitas transaksi digital di seluruh wilayah,” ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltara, Agus Taufik, Rabu (2/9/26).
Volume transaksi QRIS di Kaltara mencatatkan kenaikan luar biasa sebesar 154 persen secara tahunan hingga mencapai 6,66 juta kali transaksi.
“Dari sisi nilai ekonomi, nominal transaksi melesat pesat sebesar 137 persen hingga menembus angka Rp 676,08 miliar pada triwulan kedua 2026,” tambahnya.
Dengan perkiraan jumlah penduduk Kaltara sekitar 750 ribu jiwa, capaian volume transaksi sebanyak 6,66 juta kali menandakan rata-rata satu warga Kaltara melakukan transaksi menggunakan QRIS sekitar 9 hingga 10 kali.
“Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa matangnya budaya akseptasi pembayaran digital telah menjangkau lapisan masyarakat luas,” bebernya.
Peningkatan jumlah pengguna dan transaksi turut didorong meluasnya ekosistem penyedia layanan pembayaran.
Jumlah merchant QRIS di Katara kini telah menembus 125.450 merchant, atau mengalami pertumbuhan sebesar 37 persen. Kota Tarakan mendominasi sebaran merchant terbesar dengan pangsa pasar 41,1 persen atau sebanyak 51.551 merchant.
Posisi berikutnya disusul Kabupaten Nunukan dengan 29.583 merchant, Kabupaten Bulungan dengan 28.754 merchant, Kabupaten Malinau sebanyak 10.473 merchant, serta Kabupaten Tana Tidung sebanyak 4.036 merchant.
Pesatnya laju digitalisasi pembayaran di Kaltara disokong oleh berbagai langkah strategis Bank Indonesia bersama mitra daerah.
Salah satu program unggulan adalah peluasan implementasi QRIS pada sektor transportasi publik melalui Program DIGI-PORT yang diterapkan untuk digitalisasi tiket dan retribusi di berbagai pelabuhan speedboat, seperti Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Kayan II Bulungan, Liem Hie Djung Nunukan, Malinau, dan Keramat Tana Tidung.
Selain itu, percepatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah turut memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam membayar pajak serta retribusi daerah secara non-tunai.
Kebijakan insentif Merchant Discount Rate (MDR) QRIS nol persen bagi usaha mikro, pendampingan onboarding UMKM lokal, hingga perluasan pembebasan MDR untuk transaksi hingga Rp 100.000 juga menjadi pemicu utama makin terjangkaunya akses pembayaran digital bagi seluruh kalangan.
“Melalui sinergi yang terus dikembangkan antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan para pelaku usaha, adopsi pembayaran digital di Kalimantan Utara diproyeksikan akan terus meningkat tajam dan menjadi pilar penting percepatan ekonomi daerah,” tutupnya.(*/mt)












Discussion about this post