TARAKAN, Fokusborneo.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada September 2026 mengalami inflasi sebesar 0,37% secara bulanan (month-to-month / mtm). Angka ini naik tipis dibanding bulan sebelumnya yang berada di level 0,23% (mtm).
Meskipun demikian, secara tahunan (year-on-year / yoy) inflasi Kaltara tercatat di angka 2,56%, yang berarti masih berada dengan aman di dalam rentang target sasaran nasional sebesar 2,5 ± 1%.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menjelaskan perkembangan inflasi ini berada di tengah dinamika pasokan pangan dan cuaca.
Ia memaparkan laju inflasi bulanan pada September 2026 mayoritas didorong Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Komoditas yang paling mendominasi kenaikan harga adalah Cabai Rawit dengan andil sebesar 0,30%.
Lonjakan harga cabai rawit ini dipicu berkurangnya pasokan dari daerah pemasok utama seperti Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan akibat kemarau berkepanjangan.
“Kenaikan harga cabai rawit didorong oleh berkurangnya pasokan dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan sebagai daerah pemasok, seiring kondisi kekeringan dan kemarau berkepanjangan yang menekan produktivitas tanaman cabai,” ungkap Agus Taufik dalam keterangan resminya, Rabu (7/10/26).
Selain cabai rawit, komoditas pangan lain yang turut memberikan andil inflasi meliputi telur ayam ras (andil 0,04%), daging ayam ras (andil 0,02%), jagung manis (andil 0,01%), cabai merah (andil 0,01%).
Adapun kenaikan harga pada telur dan daging ayam ras dipengaruhi kenaikan harga di tingkat distributor serta pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Berau.
Di sisi lain, tekanan inflasi yang lebih dalam tertahan oleh kelompok Transportasi, khususnya komoditas tarif angkutan udara yang mencatatkan andil -0,03%.
“Lemahnya permintaan penerbangan di Kalimantan Utara akibat minimnya momentum libur panjang menjadi penahan utama penurunan tarif transportasi udara, di tengah tingginya harga avtur,” jelas Agus.
Deflasi bulanan juga didorong penurunan harga komoditas hortikultura seperti sawi hijau (andil -0,02%), nayam (andil -0,02%), dan kacang panjang (andil -0,01%).
Menurut Agus, penurunan harga sayuran tersebut menunjukkan peningkatan pasokan dibandingkan bulan sebelumnya karena petani lokal mulai memasuki masa panen.
Menghadapi risiko global dan domestik seperti anomali cuaca yang memicu kekeringan dan karhutla pada sektor pangan, lonjakan permintaan dari Proyek Strategis Nasional (PSN), hingga penyesuaian tarif energi dan transportasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat langkah mitigasi.
“Inflasi di Kalimantan Utara tetap terjaga di tengah risiko tekanan global yang mengganggu pasokan komoditas, serta risiko domestik terkait anomali cuaca. Namun demikian, TPID se-Provinsi Kalimantan Utara terus bersinergi dalam upaya menjaga stabilitas harga melalui framework 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif),” tegas Agus Taufik.
Sepanjang tahun 2026, berbagai strategi berbasis 4K telah diakselerasi melalui pelaksanaan 225 kegiatan pasar murah pada komoditas strategis.
Termasuk penerapan Good Agriculture Practices (GAP) melalui penggunaan irigasi tetes pada komoditas cabai merah serta penyediaan sarana pendukung peningkatan produktivitas. Penguatan komunikasi efektif seperti pelaksanaan High Level Meeting, diversifikasi produk olahan, dan sidak pasar.
Begitu juga program fasilitas distribusi pangan melalui sinergi dengan Pemerintah Daerah lewat program Mini Distribution Center (MDC) – Kios Tarakan Hibot.
Berkat konsistensi dan sinergi yang solid, upaya tersebut membuahkan hasil membanggakan. TPID Kota Tarakan sukses meraih penghargaan TPID Award Tahun 2026 sebagai TPID Kota/Kabupaten Berkinerja Terbaik Wilayah Kalimantan.
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi TPID Kota Tarakan dalam menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan melalui program unggulan Belimpun Taka Tagas (Bersatu Padu Menguatkan Ketahanan dan Stabilitas Harga Pangan di Kota Tarakan).(*/mt)












Discussion about this post