TARAKAN, Fokusborneo.com – Kinerja intermediasi perbankan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada Agustus 2026 menunjukkan dinamika yang menarik.
Di satu sisi, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami kontraksi, namun di sisi lain penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan justru melesat kuat untuk mendukung roda perekonomian daerah.
Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan DPK Provinsi Kaltara pada Agustus 2026 terkontraksi sebesar -9,06% secara year-on-year (yoy).
Penurunan ini terutama dipicu terkontraksinya komponen Giro sebesar -23,39% (yoy) dan komponen Deposito sebesar -22,02% (yoy).
Kendati demikian, secercah optimisme tampak dari komponen Tabungan yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,95% (yoy).
Menanggapi dinamika likuiditas tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyampaikan perbankan daerah tetap menunjukkan komitmen tinggi dalam menggerakkan perekonomian melalui fungsi intermediasinya.
“Meskipun DPK kita mengalami kontraksi akibat penurunan pada komponen giro dan deposito, fungsi intermediasi perbankan di Kaltara terbukti tetap kuat dan ekspansif dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” ungkap Agus Taufik dalam press rilisnya, Rabu (7/10/26).
Di tengah tantangan likuiditas tersebut, penyaluran kredit atau pembiayaan di Kaltara pada Agustus 2026 justru tercatat tumbuh sangat kuat sebesar 54,12% (yoy).
Seluruh jenis penggunaan kredit tercatat mengalami pertumbuhan positif, yakni Kredit Modal Kerja yang tumbuh 43,43% (yoy), Kredit Investasi yang melonjak hingga 86,75% (yoy), serta Kredit Konsumsi yang tumbuh 3,66% (yoy).
Dari sisi sektoral, sektor industri pengolahan keluar sebagai motor penggerak utama dengan mendominasi penyaluran kredit sebesar 44% atau mencatatkan pertumbuhan fantastis sebesar 153,28% (yoy).
Posisi berikutnya disusul oleh sektor rumah tangga dengan pangsa 15,90% yang tumbuh stabil di angka 3,62% (yoy).
Lebih lanjut, Agus Taufik menekankan ekspansi kredit yang masif ini tetap diiringi oleh manajemen risiko yang sangat hati-hati dan terjaga dengan baik.
Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada Agustus 2026 yang berada di level 0,70% secara gross. Angka ini berada pada kategori sangat sehat dan jauh di bawah batas ambang (threshold) sebesar 5%.
Sementara itu, untuk segmen UMKM, penyaluran kredit pada Agustus 2026 tercatat terkontraksi tipis -1,46% (yoy) dengan total nominal outstanding mencapai Rp5,47 triliun.
Pangsa kredit UMKM tercatat sebesar 11,91%, mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 11,74%. Di sisi lain, kualitas kredit UMKM memerlukan perhatian lebih seiring terindikasi adanya kenaikan NPL pada level 7,12%.
”Secara keseluruhan, stabilitas sektor keuangan di Kaltara tetap terjaga dengan risiko yang terkendali. Kami akan terus mendorong perbankan agar tetap optimis memperluas pembiayaan yang sehat, termasuk memperkuat pendampingan bagi sektor UMKM agar kualitas kreditnya dapat terus membaik ke depan,” pungkas Agus.(*/mt)















Discussion about this post