Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Opini · 19 Jun 2020 15:17 WITA ·

Kebijakan Sistem Pembayaran di Masa Pandemi Covid-19


Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,M.M
Perbesar

Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,M.M

“Kehidupan adalah 10 persen apa yang terjadi pada Anda dan 90 persen adalah bagaimana Anda meresponnya.” – Lou Holtz.

OPINI – Kemajuan teknologi informasi sangat membantu masyarakat, memberi kemudahan dalam berbagai  aktivitas dan mempengaruhi perilaku masyarakat. Seiring kemajuan teknologi, dunia perbankan dituntut menyeimbangkan pelayananannya kepada nasabah. Revolusi digital tak dapat dihindari dari kehidupan di era digital saat ini sehingga mempengaruhi dan mengubah berbagai agen ekonomi dalam bertransaksi. Pola konsumsi bergeser ke belanja dalam platform digital yang serba cepat, mobile dan aman. Platform digital ini berdemensi global sehingga memudarkan sekat-sekat tatanan dan hubungan antara industrial dengan pelaku memunculkan model bisnis baru.

Tren digital ini mempengaruhi sendi-sendi ekonomi dan merubah atau melebur fungsi-fungsi konvensional. Dunia keuangan, peranan pelaku non bank yang belum banyak terkena pengaturan mulai menyisir dan merambah kepada usaha layanan keuangan yang selama ini pemeran utamanya perbankan. Seiring dengan melonggarnya entry barrier/ hambatan masuk peran pelaku usaha non bank semakin menguat, mulai dari perusahaan rintisan, perusahaan teknologi yang berskala besar dan global/bigtech.

Pada era digital, hampir seluruh perangkat fisik terhubung secara digital sehingga tanpa disadari berbagai aktivitas digital meninggalkan jejak data yang semakin detail. Pesatnya arus digitalisasi ini juga melanda Indonesia secara deras dan diprediksi akan lebih menguat di masa mendatang. Akses teknologi yang semakin terjangkau akan memungkinkan meningkatnya partisipasi kelompok masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh layanan perbankan. Populasi di Indonesia yang saat ini didominasi oleh generasi Y dan Z menjadi pasar yang prospektif meskipun masyarakat unbanked juga masih tinggi namun hal tersebut justru membuka peluang pasar lebih besar lagi.

Inovasi digital meningkatkan efesiensi waktu, anggaran, dan mempengaruhi serta merubah interaksi social ke arah demokratisasi ekonomi dikarenakan agen-agen ekonomi memiliki tambahan kemampuan dalam mengakses dan memanfaatkan informasi, serta sangat memungkinkan akan lahirnya model bisnis baru, sumber pertumbuhan ekonomi baru dan industry baru. Efesiensi aktivitas ekonomipun telah menjadi keuntungan bagi agen ekonomi, seperti memotong rantai distribusi barang dan jasa, mendorong sebaran informasi secara luas dan lebih merata, menambah variasi produk layanan sehingga memperluas pilihan bagi konsumen dan sekaligus memperluar pasar. Semua manfaat tersebut di atas menjadi kunci terbukanya peluang inklusi ekonomi – keuangan Indonesia.

Tren digitalisasi mengubah perilaku transaksi kearah tuntutan yang lebih menekankan pada mobilitas, kecepatan, flesibilitas serta keamanan. Minimalisasi risiko dan ekses negative, mengoptimalkan perkembangan ekonomi digital. Selain itu digitalisasi membuka lebar peluang inklusivitas dan eletronifikasi. Fintech dan e-commerce dapat membuka peluang inklusivitas penduduk unbanked dan UMKM yang terus berkembang. Sementara aktivitas transaksi fisik ( face to face ) terus mengalami penurunan dan mulai digantikan oleh digital payment. Penurunan pada transaksi media fiksi dimulai sejak diumumkannya kebijakan belajar di rumah, bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) oleh instansi pemerintah dan swasta sampai saat ini, sedangkan pyment digital terus meningkat. Media fisik seperti uang dan kartru memiliki risiko menjadi perantara penyebaran Covid-19 lebih tinggi dari pada media contactless. Organisasi kesehatan dunia WHO juga menyarankan penggunaan contactless ataupun mobile payment.

Potensi digitalisasi di masa Covid-19

Kebijakan pemerintah, memberlakukan kebijakan physical distancing dan PSBB perlu disikapi secara positif melalui inovasi tarnsaksi tanpa tatap muka dan penguatan ekosistem digital. Sehingga memunculkan alternative instrument maupun kanal pembayaran dan merchant online yang beragam sesuai segmen transaksi. Konsumen dimudahkan dalam menggunakan alternative instrument pembayaran hanya dalam satu aplikasi domplet elektronik semakin memudahkan dalam belanja online.

Tiga kelebihan dompet elektronik :

  • Lebih fleksibel : beragam akun di satu apps
  • Nilai transaksi bisa lebih besar : maksimum saldo, ATM tidak dibatasi.
  • Semua transaksi: bisa untuk transfer atau pembayaran.

Metode pembayaran digital memungkinkan orang bertransaksi tanpa bersentuhan dengan orang lain atau alat pembayaran di pedagang/merchant. Pembayaran menggunakan kode QR merupakan pembayaran digital tanpa kontak fisik antara penjual dan pembeli. QRIS menjadi solusi pembayaran digital di tengah pandemic Covid-19, QRIS satu untuk seluruh pembayaran, standarisasi QR Code yang digunakan untuk pembayaran, QRIS terintegrasi dengan mobile payment/bank eksisting. QRIS dapat digunakan tanpa bertatap muka karena merchant mudah mengirimkan kode QRIS kepada pelanggannya sehingga transaksi tetap dapat berjalan dalam situasi pandemi Covid-19.

Kesadaran social masyarakat Indonesia yang tinggi dapat terfasilitasi QRIS sehingga transfer dan donasi semakin cepat, mudah, murah, aman, dan handal. Belanja sehat, aman dari rumah namun tetap perlu ditingkatkan kehati-hatian dan awareness terhadap risiko dunia digital. Selain itu hak dan kewajiban konsumen serta pelaku usaha perlu dipahami. Penyelenggara perlu menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam bertransaksi di era digital.

Bank Indonesia melalui Visi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, mengejawantahkan dalam 5 (lima) inisiatif akan menavigasi dan mengorkestrasi perkembangan system pembayaran di ekosistem digital.

Lima inisiatif utama adalah :

  • Standar open API
  • Sistem Pembayaran ritel.
  • Sistem Pembayaran nilai besar.
  • Data .
  • Pengaturan yang adaptif dengan inovasi.

SPI 2025 mendukung integrasi ekonomi – keuangan digital nasional sehingga menjamin fungsi bank sentral dalam proses peredaran uang, kebijakan moneter, dan stabilitas system keuangan.

Bayar apapun, kapanpun dan dimanapun tanpa tatap muka, QRIS solusi transaksi pembayaran di tengah Covid-19, siap menuju tatanan baru.

(Penulis: Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,M.M, Dosen STIE Bulungan Tarakan)

 

 

Artikel ini telah dibaca 900 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

WhatsApp DS

25 Oktober 2021 - 09:30 WITA

PhD (3)

22 Oktober 2021 - 09:28 WITA

PhD (2)

21 Oktober 2021 - 09:03 WITA

DS Vokalis Kaltara (1)

19 Oktober 2021 - 13:57 WITA

Baju Kaos Pak GM

2 Oktober 2021 - 20:22 WITA

Ssstt… Kabaddi 3 Perunggu

2 Oktober 2021 - 20:01 WITA

Trending di Opini