Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Opini · 21 Okt 2021 09:03 WITA ·

PhD (2)


Doddy Irvan Imawan (Pai) Perbesar

Doddy Irvan Imawan (Pai)

Anda pernah mendengar istilah BTL? Batak Tembak Langsung. Kalau pernah mendengar, itulah cara komunikasi Deddy Yevry Hanteru Sitorus (DS). Lugas, tanpa tedeng aling-aling dan selalu bicara didepan bukan dibelakang.

Oleh: Doddy Irvan (pai)

Senjata utama politisi adalah kata-kata. Itu pendapat orang bijak. Itu juga yang berlaku bagi DS. Ia dikenal politis yang jika bicara blak-blakan. Langsung ke sasaran. Tanpa basa-basi. Kalau kata Trie Utami, pitch controlnya keren.

Bisa disaksikan beberapa momen, terutama saat rapat kerja Komisi 6, dengan para menteri atau Dirut BUMN. Beberapa video dia upload di akun Facebook miliknya.

Seperti pada tanggal 2 September lalu ketika rapat kerja dengan Dirut PLN. DS menjelaskan kondisi kelistrikan di sejumlah desa di perbatasan.

“Saya ambil contoh misalnya di Labang dekat PLBN, Kabupaten Nunukan. Itu kalau kita bangun pembangkit, bisa menerangi 6 desa. Tapi kalau mau ditarik jaringan jaraknya 60 KM. Biayanya jauh lebih besar karena melewati kebun sawit. Dan itu prosesnya lama,” jelas DS kepada Dirut PLN.

Itu baru salah satu contoh. Betapa Ia konsisten memperjuangkan nasib warga perbatasan. Mungkin Dirut PLN saja bingung dimana itu Labang. Atau warga Labang pun sudah pasrah karena terbiasa hidup gelap gulita. Ditengah kegelapan itu keberadaan DS di Senayan bak penerang. Ia berjuang. Dia meminta negara memperhatikan warganya nun dipelosok sana. Karena Labang adalah Indonesia.

Itu baru soal listrik. Dan tak hanya Labang, ratusan desa yang masih gelap pun diperjuangkannya.

DS juga konsen mendorong mitra kerjanya BUMN untuk menyalurkan CSR ke warga perbatasan. Ada mobil ambulan dari BRI, suplai BBM dari Pertamina dan banyak lagi.

Politis PDIP ini tak hanya duduk manis di kursinya yang empuk di gedung DPR. Dia juga melakukan safari ketemu para menteri. Terkait ketersediaan vaksin, DS tak segan mendatangi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Ia juga mencari dana bantuan langsung untuk Pelaku Usaha Mikro (BPUM) di Kementerian Koperasi dan UKM. Terkait peningkatan Bandara Perintis Benuang, dia datangi Menteri Perhubungan.

Bagusnya, DS tak menyimpan aktivitasnya itu di memori HP miliknya. Ia pasti mengupload di akun FB. Bukan buat gagah-gagahan atau sekadar pencitraan.

“Gue dipilih rakyat Kaltara bro. Mereka harus tau apa yang gue kerjakan. Pencitraan? Pret… Gue bukan politisi salon,” ujarnya terkekeh.

Facebook menjadi salah satu media sosial yang aktif Ia gunakan. Tak hanya urusan politik. Terkadang aktivitas bersama keluarga kecilnya dishare. Terutama si bungsu Sofie.

Nah yang menarik. Status DS kerap menjadi pergunjingan dikalangan elit atau netizen. Jempolnya dikenal tajam. Kalau ada elit politik di Kaltara dianggap bermain-main diatas penderitaan rakyat pasti dia sindir.

Diantaranya ini: “Di Kaltara banyak elit dan rakyat punya gelar PhD. Pemimpin Haus Duit, dan “Penggemar Hiburan Dangdut”. Keren kan.” Pakai emoticon ngakak sama malaikat lagi.

Status ini langsung menjadi tranding topic. Screan shot status itu langsung menyebar. Ada di banyak WA Group. Dengan beragam tanggapan. Diantaranya menganggap status itu pelecehan gelar akademik.

“Pemimpin kan memang haus duit karena anggaran defisit. Karena defisit rakyat harus dihibur pakai musik dangdut,” katanya sambil ngakak.

Nah, silahkan Anda berasumsi sendiri. Setatus-setatus sejenis sering muncul di wall miliknya. Terkadang dianggap kontroversi. Dan pasti menjadi menu utama diskusi di warung kopi. Mengalahkan telur setengah matang.

Banyak yang menyetujui statusnya.Tapi tidak sedikit juga yang menyerang. Diserang netizen dikolom komentar sudah menjadi makanan sehari-hari. Ini yang seru. Perdebatan sering terjadi. Kerap kali, DS menjawabnya dengan nada ketus.

“Kalau Anda tidak senang dengan status saya lebih baik gak usah komen. Bikin kotor wall saya aja,” tulisnya.

DS memang memiliki gaya berbeda dari politisi kebanyakan. Ia dituding tidak santun dan arogan. Tapi dia cuek saja. Pertanyaannya, siapa yang harus santun? Kita atau dia?

Yang jelas, wakil rakyat dituntut kinerjanya. Biar pun kuku jempolnya tajam, tapi kerjanya aduhai. Rasanya kita harus mahfum.

Dari pada punya wakil rakyat seperti tv rusak. Gak ada gambar sama suaranya. Sia-sia rakyat memilih. Boro-boro melaporkan aktivitas di Senayan, di dapil saja tidak pernah muncul batang hidungnya.

Stttt… Saya juga PhD. Penggemar hiburan Dangdut. (pai/bersambung)

Artikel ini telah dibaca 85 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tidak Semua Bisa Dibeli Dengan Uang

28 November 2021 - 11:27 WITA

dr Jusuf SK & Udin Hianggio (1)

13 November 2021 - 17:12 WITA

JSK Sang Revolusioner

12 November 2021 - 14:24 WITA

WhatsApp DS

25 Oktober 2021 - 09:30 WITA

PhD (3)

22 Oktober 2021 - 09:28 WITA

DS Vokalis Kaltara (1)

19 Oktober 2021 - 13:57 WITA

Trending di Opini