• About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Fokus Borneo
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
Fokus Borneo
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini
Home Opini

Mahasiswa Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas: Tantangan dan Inovasi Dalam Penanggulangan Tuberculosis (TBC)

by Redaksi
5 Mei 2025 13:32
in Opini
A A
Mahasiswa Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas: Tantangan Kepemimpinan di Era Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer

Penulis: Jumiati

Tuberkulosis (TBC) telah menjadi masalah kesehatan global selama berabad-abad, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, TBC menyebar melalui udara, umumnya dari penderita aktif yang batuk, bersin, atau berbicara.

Walaupun ada kemajuan dalam upaya pengendalian, TBC masih menjadi ancaman serius, terutama dengan munculnya TBC yang resisten terhadap obat-obatan (MDR-TBC). Di Indonesia, TBC menjadi salah satu prioritas kesehatan utama, mengingat tingginya jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahunnya.

Baca Juga

Benteng BI-Rate 5,25%: Pahit tetapi Menyelamatkan

Kunjungan Deputi Duta Besar Australia ke Kaltara Jadi Sinyal Positif Investasi

Menguji Taji Long Weekend Terhadap Ekonomi Kaltara

Konversi PLTD ke PLTS di Kalimantan Utara: Peluang Saving APBN dan Masa Depan Energi Hijau Perbatasan 3T

Penyakit TBC pertama kali tercatat di Indonesia pada masa kolonial. Pada saat itu, TBC dikenal sebagai penyakit yang sangat mematikan, terutama di kalangan orang miskin dan padat penduduk. Pada era kemerdekaan, pemerintah Indonesia mulai melakukan upaya pengendalian TBC secara lebih serius dengan pembentukan Program Nasional Pengendalian TBC (NTP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta pencegahan penularan melalui edukasi kesehatan Masyarakat

Epidemiologi TBC

Secara global, TBC merupakan salah satu penyakit menular paling mematikan. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2021, TBC menginfeksi sekitar 10,6 juta orang dan menyebabkan hampir 1,6 juta kematian.

Sejak 2022, negara dengan beban kasus tertinggi infeksi TBC di dunia adalah India, dan Indonesia. Di ASEAN, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus TBC setiap tahun. Penyebaran TBC meliputi semua kelompok umur, namun sebagian besar terjadi pada orang dewasa produktif. Selain itu, angka resistensi terhadap obat (MDR-TBC) juga meningkat, menambah kompleksitas pengendalian penyakit ini.

Cara Penularan TBC

TBC menular melalui udara, ketika seseorang menghirup droplet kecil yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis. Droplet ini dapat dikeluarkan saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, atau malnutrisi, memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular.

Penularan TBC juga dapat terjadi di tempat-tempat umum dengan ventilasi buruk, seperti rumah sakit, puskesmas, dan sarana transportasi publik yang padat. Hal ini memperkuat pentingnya pengendalian infeksi di tempat-tempat tersebut.

Pengobatan dan Pencegahan TBC

Pengobatan TBC melibatkan kombinasi antibiotik yang harus dikonsumsi secara teratur selama enam hingga sembilan bulan. Pengobatan ini harus diselesaikan hingga tuntas untuk mencegah resistensi obat. Kasus TBC yang tidak diobati atau tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk MDR-TBC, yang memerlukan pengobatan lebih lama dan lebih kompleks.

Pencegahan TBC meliputi:

1. Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) untuk anak-anak guna mencegah bentuk TBC yang berat.

2. Edukasi kesehatan masyarakat tentang pentingnya etika batuk dan kebersihan pernapasan.

3. Skrining rutin pada kelompok berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan dan orang yang tinggal di rumah dengan penderita TBC.

Faktor-Faktor yang Berkontribusi pada Kasus TBC di Indonesia

Beberapa faktor yang berperan dalam peningkatan kasus TBC di Indonesia antara lain:

1. Kepadatan penduduk: Kota-kota besar seperti Jakarta memiliki populasi padat, meningkatkan risiko penularan.

2. Stigma sosial: Banyak penderita TBC yang enggan untuk mendapatkan diagnosis atau pengobatan karena takut dikucilkan.

3. Meningkatnya resistensi obat: Kasus MDR-TBC di Indonesia menjadi tantangan besar dalam pengobatan dan memerlukan penanganan khusus.

4. Kemiskinan adalah faktor yang turut berkontribusi pada sulitnya mengendalikan penyakit TBC.

Tantangan Pengendalian TBC

Pengendalian TBC menghadapi beberapa tantangan utama, di antaranya:

1. Deteksi dini yang masih rendah: Masih banyak kasus TBC yang tidak terdiagnosis karena keterbatasan akses ke layanan kesehatan.

2. Ketidakpatuhan pengobatan: Banyak penderita TBC yang tidak menyelesaikan pengobatan mereka, sehingga meningkatkan risiko resistensi obat.

3. Sarana kesehatan yang terbatas: Di beberapa daerah, fasilitas kesehatan yang memadai untuk diagnosis dan pengobatan TBC masih kurang.

4. Beban multiburden: Kombinasi TBC dengan penyakit lain seperti HIV/AIDS, diabetes melitus, dan gangguan mental memperumit pengobatan dan penanganan kasus.

Gagasan untuk Penguatan Program Pengendalian TBC

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, beberapa langkah yang bisa diambil adalah:

1. Peningkatan deteksi dini: Program skrining yang lebih intensif harus diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan, terutama di daerah dengan beban kasus tinggi.

2. Edukasi masyarakat: Kampanye kesehatan yang lebih luas harus dilakukan untuk mengurangi stigma terhadap penderita TBC dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pengobatan yang tepat.

3. Peningkatan akses ke pengobatan: Pemerintah perlu memastikan bahwa semua penderita TBC, termasuk yang mengalami resistensi obat, mendapatkan pengobatan yang tepat tanpa hambatan biaya.

4. Pengendalian infeksi di tempat umum: Penggunaan masker, ventilasi yang baik, dan protokol kebersihan di tempat umum harus ditegakkan untuk mencegah penyebaran TBC.

5. Pemanfaatan teknologi: Deteksi genomik berbasis teknologi baru dapat mempercepat identifikasi kasus TBC dan MDR-TBC, sehingga memudahkan pengobatan dan pelacakan.

6. Peningkatan kualitas hidup masyarakat, dengan lingkungan, air dan udara yang bersih dan sehat, disertai pemberantasan kemiskinan dan penguatan Pembangunan yang merata bagi seluruh lapisan Masyarakat.

Pengendalian TBC di Indonesia merupakan tantangan yang kompleks, mengingat tingginya beban penyakit, munculnya kasus resistensi obat, serta dampak pandemi COVID-19. Namun, dengan strategi yang tepat, termasuk deteksi dini, peningkatan akses ke layanan kesehatan, dan edukasi masyarakat, Indonesia memiliki peluang untuk mengurangi beban TBC di masa depan.

Penggunaan teknologi mutakhir dan kolaborasi antar instansi juga menjadi kunci untuk memutus rantai penularan dan mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.

Oleh : Jumiati

*) Penulis Adalah Mahasiswa Prodi S2 Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas

Tags: FKM UnhasHeadlineJumiatiOpiniUnhas

Berita Lainnya

Benteng BI-Rate 5,25%: Pahit tetapi Menyelamatkan
Ekonomi

Benteng BI-Rate 5,25%: Pahit tetapi Menyelamatkan

25 Mei 2026 12:50
Kunjungan Deputi Duta Besar Australia ke Kaltara Jadi Sinyal Positif Investasi
Ekonomi

Kunjungan Deputi Duta Besar Australia ke Kaltara Jadi Sinyal Positif Investasi

19 Mei 2026 20:06
Menguji Taji Long Weekend Terhadap Ekonomi Kaltara
Ekonomi

Menguji Taji Long Weekend Terhadap Ekonomi Kaltara

18 Mei 2026 22:54
Konversi PLTD ke PLTS di Kalimantan Utara: Peluang Saving APBN dan Masa Depan Energi Hijau Perbatasan 3T
Opini

Konversi PLTD ke PLTS di Kalimantan Utara: Peluang Saving APBN dan Masa Depan Energi Hijau Perbatasan 3T

15 Mei 2026 17:22
Kontradiksi Penggunaan Pembangkit Berbasis Batubara / PLTU di Kawasan Industri Hijau KIPI Tanah Kuning Antara Slogan “ Green Industrial Park” dan Realitas Energi Fosil
Opini

Kontradiksi Penggunaan Pembangkit Berbasis Batubara / PLTU di Kawasan Industri Hijau KIPI Tanah Kuning Antara Slogan “ Green Industrial Park” dan Realitas Energi Fosil

15 Mei 2026 08:52
Opini

“Raperda Perbukuan” Momentum Media Membangun Budaya Literasi Daerah

10 Mei 2026 13:19
Next Post

Cuaca di Tarakan Terasa Lebih Panas Bukan Karena Kemarau

Apresiasi PPNI Ikut Serta Tangani Stunting, Perlu Kolaborasi Semua Pihak

Wagub Ingkong Ingatkan ASN Tunjukkan Semangat Kerja Melayani Masyarakat

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami
  • Kapolres Tarakan Pimpin Sertijab Kapolsek KSKP dan Penyerahan Jabatan Kasat Resnarkoba

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jupiter Aerobatic Team Tiba di Tarakan, Siap Emban Misi Internasional ke Brunei Darussalam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wagub dan Mabes TNI Sinkronkan Strategi Percepatan Pembangunan Perbatasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Sinergi, Damkar Tana Tidung Latih Prajurit Yonif TP 922 Hadapi Kebakaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Haru dan Bangga, SMPN 1 Tarakan Lepas 339 Siswa Menuju Generasi Emas 2045

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Fokus Borneo

Ikuti Kami

Rubrik

  • Advetorial
  • Daerah
  • Derap Nusantara
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fokus
  • Hiburan
  • IKN
  • Kantah Kota Balikpapan
  • Kementrian ATR/BPN
  • KPH Tarakan
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Otomotif
  • Parlemen
  • Pemkab Bulungan
  • Pemkab Malinau
  • Pemkab Nunukan
  • Pemkab Tana Tidung
  • Pemkot Balikpapan
  • Pemkot Tarakan
  • Pemprov Kaltara
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial Budaya
  • TNI Polri
  • Travel
  • Video

Recent News

Satwa Liar Kembali Hadir, Ekosistem Forest City IKN Mulai Terbentuk

5 Juni 2026 16:50

Bidik Prestasi di Porprov, FORKI Bulungan Matangkan Persiapan Atlet

5 Juni 2026 16:44
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
    • Kuliner
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP