TARAKAN, Fokusborneo.com – Perhajian di Indonesia tengah memasuki era baru yang fundamental. Bukan sekadar urusan ibadah spiritual, pengelolaan haji kini bertransformasi menjadi sebuah penggerak ekonomi strategis bagi bangsa.
Visi besar ini disampaikan langsung Wakil Menteri Haji dan Umroh (Wamenhaji dan Umroh) Republik Indonesia (RI), Dr. Dahlil Anzar Simanjuntak, S.E., M.E., di hadapan civitas akademika Universitas Borneo Tarakan (UBT), Senin (4/5/26).
Dalam kuliah umum bertema “Entrepreneurship University: Menyiapkan SDM Unggul dalam Industri Haji Global” yang dihelat di Lantai 4 Gedung Rektorat UBT, Wamenhaji menegaskan Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi konsumen dalam ekosistem haji global.
Dr. Dahlil Anzar menyoroti fakta mengejutkan mengenai besarnya perputaran uang dalam penyelenggaraan haji. Selama ini, Indonesia terjebak dalam ketergantungan cash outflow (aliran dana keluar) yang sangat masif.
”Hampir 80 persen uang haji kita itu bentuknya cash outflow. Sekitar Rp112 triliun mengalir ke luar negeri. Tantangan kita ke depan adalah bagaimana mengelola ini agar cash outflow bisa dikurangi, minimal 50 persen dana tetap berputar di dalam negeri,” ujar Wamenhaji.
Menurutnya, inilah alasan fundamental di balik keputusan Presiden Prabowo Subianto membentuk Kementerian Haji dan Umroh yang terpisah dari Kementerian Agama. Pemisahan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan langkah visioner untuk menciptakan spesialisasi.
Pengelolaan jutaan jemaah, perputaran ekonomi triliunan rupiah, hingga lobi diplomatik tingkat tinggi dengan pemerintah Arab Saudi memerlukan fokus penuh yang tidak bisa lagi dicampur aduk dengan urusan pendidikan agama atau kerukunan umat.
Dalam kuliah tersebut, Wamenhaji memperkenalkan konsep “Tri Sukses Haji” sebagai fondasi kebijakan baru. Konsep ini mendefinisikan ulang makna ibadah haji dalam konteks modern.
Tri sukses haji diantaranya, pertama sukses ritual haji dan umroh yaitu memastikan seluruh rukun dan syarat ibadah terpenuhi, sehingga jamaah terhindar dari status haji mardud (tertolak) dan mencapai haji maqbul (diterima).
Kedua, sukses skosistem skonomi haji dan umah. Artinya membangun multiplier effect agar perputaran uang haji memberikan dampak signifikan bagi ekonomi domestik Indonesia.
Dan ketiga, sukses peradaban dan keadaban dimana transformasi jamaah menjadi individu yang civilized—beradab, disiplin, peduli lingkungan, dan mampu menjadi agen perubahan sosial sekembalinya ke tanah air.
”Haji yang mabrur itu tidak hanya saleh secara pribadi, tapi juga saleh secara sosial. Kalau dia rajin salat tapi korupsi, atau tidak beradab, maka hajinya gagal. Haji harus berkorelasi dengan perilaku dan peradaban,” tegasnya.

Kehadiran Wamenhaji di UBT disambut antusias Rektor UBT, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein berserta jajaran dan mahasiswa. Ia menekankan kunjungan ini menjadi motivasi besar bagi mahasiswa untuk menyongsong masa depan sebagai pelaku di industri haji global.
Prof. Yahya menjelaskan UBT, sebagai Entrepreneurship University, berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya mencari kerja, tetapi menciptakan lapangan kerja.
“Dengan 35 program studi dan kurikulum kewirausahaan yang sudah terintegrasi, kami ingin mahasiswa kami mampu menangkap peluang besar dalam ekosistem ekonomi haji ini,” jelas Rektor.
Langkah strategis ini menandai babak baru bagi Indonesia. Jika selama ini haji hanya dipandang sebagai perjalanan ibadah yang bersifat konsumtif, kini pemerintah melalui Kementerian Haji sedang merancang agar setiap langkah jemaah menjadi investasi bagi kemakmuran bangsa.
Dengan menyinergikan pendidikan tinggi di daerah perbatasan seperti UBT dengan visi ekonomi nasional, Indonesia optimis mampu beralih dari sekadar konsumen, menjadi pemain utama dalam industri haji global yang bernilai ekonomi tinggi, sekaligus bermartabat secara peradaban.(*/mt)














Discussion about this post