KUPANG, Fokusborneo.com – Bunda Literasi sekaligus Bunda PAUD Kabupaten Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, menjadi salah satu narasumber dalam Gelar Wicara bertajuk “Belajar dari Sesama: Praktik Baik Penguatan Literasi dari Berbagai Provinsi di Indonesia untuk Memperkuat Ekosistem Pendidikan di NTT” yang digelar di Hotel Aston Kupang, Senin (25/5).
Kehadiran Vamelia di Kupang bukan tanpa alasan. Ia mendapat undangan khusus dari Bunda Literasi Provinsi NTT untuk membagikan pengalaman Kabupaten Tana Tidung dalam membangun gerakan literasi berbasis desa yang dinilai berhasil melibatkan masyarakat hingga tingkat keluarga.
Dalam forum yang dihadiri pegiat pendidikan, komunitas literasi, hingga pemerintah daerah itu, Vamelia menekankan bahwa peran Bunda Literasi tidak hanya sebatas simbol atau pendamping kegiatan seremonial. Menurutnya, Bunda Literasi harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Gerakan literasi tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, organisasi masyarakat, sampai keluarga,” ujar Vamelia saat memaparkan materi.
Ia menjelaskan, salah satu langkah yang terus diperkuat di Kabupaten Tana Tidung adalah program “Satu Desa Satu TBM” atau taman bacaan masyarakat. Program tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dibangun lewat penyediaan fasilitas, tetapi juga membutuhkan komitmen anggaran, pendampingan berkelanjutan, serta evaluasi rutin agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Menurut Vamelia, kekuatan utama gerakan itu justru berada di tingkat akar rumput, terutama melalui kader PKK yang selama ini aktif mendampingi keluarga di desa-desa.
“Kalau ingin budaya membaca tumbuh, maka yang harus disentuh pertama adalah keluarga. Di situlah peran kader PKK menjadi penting sebagai penggerak,” katanya.
Paparan tersebut mendapat sambutan positif dari Bunda Literasi Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pihaknya menilai praktik yang dijalankan Kabupaten Tana Tidung bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain, terutama wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur pendidikan.
“Pengalaman dari Tana Tidung memberi gambaran bahwa penguatan literasi bisa dimulai dari komunitas kecil dan tumbuh menjadi gerakan bersama,” ungkapnya.
Kegiatan itu juga menghasilkan sejumlah rencana aksi dan rekomendasi praktis untuk memperkuat ekosistem literasi di daerah. Berbagai pihak yang hadir sepakat bahwa pembangunan literasi bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat agar budaya baca benar-benar hidup dan memberi dampak nyata bagi anak-anak maupun keluarga.(**)















Discussion about this post