TARAKAN, Fokusborneo.com – Universitas Borneo Tarakan (UBT) resmi mencanangkan Pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) untuk seluruh fakultas di lingkungannya.
Agenda tersebut, berlangsung khidmat di Hall Lantai 4 Gedung Rektorat UBT, Kamis (30/7/26).
Prosesi pembacaan deklarasi pencanangan dipimpin langsung Rektor UBT, Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H., dan diikuti serentak oleh seluruh Dekan di lingkungan UBT. Acara kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan piagam deklarasi Pencanangan Zona Integritas.
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran Forkopimda dan mitra strategis, antara lain Wali Kota Tarakan Dr. H. Khairul, M.Kes., Ketua Pengadilan Negeri Tarakan, Koderal XIII Tarakan, Ombudsman RI Perwakilan Kaltara, pimpinan instansi vertikal, perbankan, serta jajaran sivitas akademika UBT.
Dalam laporannya, Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI) UBT, Dr. Witri Yuliawati, S.E., M.Si., Ak., CA., menyampaikan pencanangan kali ini mencakup 8 fakultas yang ada di UBT. Capaian ini melampaui Indikator Kinerja Utama (IKU) Rektor yang semula hanya menargetkan dua fakultas.
”Pencanangan ini mencakup 8 fakultas yang merupakan seluruh fakultas di Universitas Borneo Tarakan. Ini merupakan pencapaian yang melebihi IKU Pak Rektor yang sebetulnya hanya dua fakultas. Namun, hal ini menunjukkan komitmen pimpinan dan dekan yang begitu tinggi terhadap Zona Integritas,” ujar Dr. Witri.

Selain itu, Dr. Witri juga memaparkan Rapor Kinerja dan ketercapaian IKU Rektor UBT saat ini. Pada IKU 1 terkait kualitas lulusan, persentase lulusan S1 yang berhasil bekerja, melanjutkan studi, atau berwirausaha telah mencapai 123 persen.
Sementara pada IKU 2, persentase mahasiswa S1 yang berkegiatan di luar prodi atau meraih prestasi berhasil menembus angka 137 persen.
Capaian mengesankan juga terlihat pada IKU 3 di mana persentase dosen yang berkegiatan Tridharma di perguruan tinggi lain, menjadi praktisi industri, maupun membimbing mahasiswa di luar prodi melonjak hingga 226 persen.
Selanjutnya untuk IKU 4, persentase dosen bersertifikasi kompetensi atau praktisi yang mengajar mencapai 105,64 persen, disusul IKU 5 terkait rekognisi internasional dan pemanfaatan karya dosen oleh masyarakat maupun industri yang menyentuh angka 100 persen.
Untuk IKU 6, tingkat kerja sama program studi S1 dan D3 dengan mitra strategis tercatat mencapai 260 persen. Pada IKU 7, persentase mata kuliah S1 yang menerapkan metode case method dan team-based project berada di angka 101 persen.

Adapun IKU 8 mengenai akreditasi internasional saat ini masih berada di angka 0 persen dan menjadi fokus pembenahan UBT ke depan.
Di bidang tata kelola dan keuangan, predikat SAKIP UBT berhasil meraih predikat A dengan capaian 101 persen, serta kinerja anggaran dan RKA mencapai 112 persen. Angka nol persen pada persentase fakultas yang membangun ZI tahun lalu kini resmi terpecahkan lewat pencanangan serentak ini.
Dr. Witri menekankan agenda ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal mengubah budaya kerja (habit) dan pola pikir (mindset) pelayanan yang taat administrasi.
“Tujuan utamanya adalah bagaimana kita membangun habit dan merubah pola pikir. Tujuan tertingginya tentu WBBM. Meski tidak mudah, melalui perubahan pola pikir dan ketaatan administrasi, insya Allah UBT bisa sampai pada predikat tersebut,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor UBT Prof. Yahya Ahmad Zein menyambut baik antusiasme seluruh pimpinan fakultas yang berkomitmen penuh membenahi tata kelola birokrasi kampus.
Menurutnya, kegagalan di masa lalu menjadi bahan evaluasi untuk bangkit kembali dengan kekuatan penuh.
”Alhamdulillah, hari ini kita kembali mencanangkan Zona Integritas. Walaupun sempat terhenti tahun lalu, tahun ini kita mulai lagi dengan full power dan semangat yang sama. Zona Integritas ini adalah bagian dari kewajiban kita sebagai aparatur negara dan pelayan mahasiswa,” tegas Prof. Yahya.

Rektor juga mengungkapkan apresiasinya kepada para dekan yang justru secara mandiri meminta agar seluruh fakultas diikutsertakan dalam pencanangan ini.
”Awalnya memang hanya dua fakultas, tapi dekan-dekan ini sangat bersemangat dan bertanya kenapa tidak semuanya saja. Jadi ini murni semangat bersama seluruh fakultas, kami di rektorat sifatnya mendorong dan memfasilitasi,” jelasnya.
Meskipun menyadari mewujudkan WBBM memerlukan proses panjang serta keterbatasan anggaran, Prof. Yahya optimis dengan dukungan dari Forkopimda, instansi penegak hukum, pemerintah daerah, dan sektor perbankan, UBT mampu menjaga integritas lembaga.
”Untuk sampai pada cita-cita WBBM ini memang perjalanan panjang, tapi kalau kita tidak memulainya hari ini, kita tidak akan pernah sampai ke sana. Kehadiran para stakeholder dan mitra hari ini menjadi dorongan semangat bagi kita semua untuk menjaga UBT tetap bebas dari KKN,” pungkas Rektor.(*/mt)















Discussion about this post