TARAKAN – Pencalonan tunggal Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan positif dari akademisi di Kaltara.
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih, menilai langkah tersebut sebagai keputusan yang sangat tepat mengingat latar belakang dan rekam jejak yang dimiliki.
“Ibu Destry ini kan juga memang lahir dari BI. Beliau pasti sudah makan asam garam berkaitan dengan pola-pola moneter, dan sebelumnya juga menjabat Deputi Gubernur. Jadi sudah sangat memahami banget,” ujar Dr. Ana Sriekaningsih saat diwawancarai, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, pengumuman pencalonan tersebut memberikan dampak langsung terhadap dinamika pasar keuangan nasional. Hal ini terlihat dari pergerakan nilai tukar mata uang domestik yang menunjukkan tren positif.
“Kenyataannya baru dicalonkan saja, entah itu pengaruh dari nama Bu Destry atau ekonomi yang membaik, rupiah ada penguatan di angka Rp17.740-an. Rekam jejak beliau di pasar keuangan memberikan market confidence atau kepercayaan diri bagi pasar,” terangnya.
Meski demikian, Dr. Ana menambahkan bahwa penguatan rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen internal dan faktor eksternal global, seperti pergerakan indeks Dolar AS serta dinamik hasil pasar obligasi global.
Menatap kepemimpinan BI ke depan, Dr. Ana menekankan pentingnya mengawal dua isu utama untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional, pertama, mengawal stabilitas rupiah melalui intervensi pasar spot dan optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kedua memastikan kebijakan moneter mampu mendorong penyerapan kredit perbankan guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Untuk penguatan rupiah ke depannya, tidak hanya bergantung pada figur kepemimpinan, melainkan juga kredibilitas serta independensi BI yang tetap harus dikawal,” tegasnya.
Sebagai akademisi perempuan, Dr. Ana menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan besar yang diberikan kepada sosok wanita untuk memimpin lembaga moneter tertinggi di Indonesia.
“Sebagai wanita, saya cukup bangga ada perwakilan perempuan yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa wanita tidak hanya sebagai pendamping atau menggunakan konsep konvensional dulu, tetapi diperhitungkan di kancah pemerintahan, birokrat, hingga pengambilan keputusan strategis,” pungkasnya. (**)













Discussion about this post