TARAKAN, Fokusborneo.com – Pengajuan nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) mendapat perhatian luas dari para pengamat ekonomi.
Langkah politik dan moneter tersebut dinilai memberikan kepastian bagi pasar finansial, yang tefleksi dari kembali menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke kisaran Rp17.700.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, menilai penguatan rupiah yang bergerak dari pergerakan sebelumnya di level Rp18.000-an ke Rp17.700 merupakan sinyal positif. Kehadiran Destry sebagai nakhoda bank sentral direspon amat baik oleh pelaku pasar.
”Penguatan ini bagian dari sinyal pasar bahwa keberadaan Ibu Destry sangat direspons positif. Selain penerimaan pasar, beliau merupakan sosok Deputi Gubernur Senior yang kenyang pengalaman di otoritas moneter,” ujar Dr. Margiyono, Selasa (11/8/26).
Ia menambahkan, rekam jejak Destry telah teruji saat mendampingi jajaran pimpinan BI melewati krisis akibat pandemi COVID-19. Salah satu terobosan monumental yang turut melipatgandakan kinerja ekonomi kala itu adalah akselerasi sistem pembayaran digital melalui QRIS.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan makroprudensial dan digitalisasi pembayaran tidak lepas dari peran para teknokrat di internal bank sentral.
”Beliau terlibat langsung dalam arsitektur perekonomian Indonesia, baik menjaga ketahanan makroprudensial maupun mendorong pemulihan ekonomi secara cepat hingga Indonesia dipercaya menyelenggarakan Presidensi G20 Bali,” jelasnya.
Menanggapi status Destry yang diajukan sebagai calon tunggal oleh pemerintah, Margiyono memandangnya sebagai langkah strategis untuk meminimalkan dinamika persaingan di lembaga sensitif.
”Mengelola sesuatu yang sensitif seperti bank sentral memang harus meminimalkan risiko. Pencalonan tunggal ini membendung intrik atau gesekan yang berpotensi mengganggu stabilitas moneter. Ini menandakan adanya keselarasan dan sinyal positif antara otoritas moneter dan otoritas fiskal,” tuturnya.
Meski mendapatkan respons positif, Margiyono mengingatkan tantangan besar sudah menanti. Di tengah ruang fiskal yang kian terbatas dan ketidakpastian ekonomi global, pembiayaan pembangunan akan bertumpu pada sektor keuangan dan perbankan.
”Selain terus mengawal penguatan nilai tukar rupiah untuk menekan imported inflation, PR besar berikutnya adalah bagaimana mendorong penyerapan kredit perbankan. BI perlu meramu instrumen kelonggaran likuiditas maupun insentif perbankan agar pertumbuhan kredit lebih akseleratif tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar,” pungkasnya.(*/mt)













Discussion about this post