TARAKAN, Fokusborneo.com – Menyikapi kepanikan warga yang memilih mengungsi akibat adanya peringatan dini tsunami, Lurah Pantai Amal, Deden Halidin, S.E., bersama tim lintas sektor bergerak cepat melakukan peninjauan langsung ke sejumlah titik pengungsian, Senin (8/6/26) malam.
Langkah ini diambil untuk memberikan edukasi, menenangkan warga, sekaligus melakukan pendataan.
Gelombang pengungsian mandiri ini dipicu rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai gempabumi tektonik dahsyat bermagnitudo M7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, Senin (8/6/2026) pagi pukul 07.37 Wita.
Pusat gempa berada di laut pada jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer akibat aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Berdasarkan pemodelan mutakhir Pemutakhiran Peringatan Dini Tsunami Nomor 2 (PD-2) dari InaTEWS-BMKG, gelombang tsunami dengan status WASPADA (estimasi ketinggian pesisir 0 hingga 0,5 meter) diprediksi dapat mencapai pesisir Kalimantan Utara (Kaltara), termasuk Kota Tarakan. Hal inilah yang memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir seperti Pantai Amal.
Untuk meredam kepanikan, Lurah Pantai Amal berkoordinasi erat dengan Camat Tarakan Timur, TNI AL, BPBD Kota Tarakan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para Ketua RT setempat melakukan patroli dialogis ke tempat ibadah dan fasilitas umum yang dijadikan lokasi pengungsian sementara.
Lurah Pantai Amal, Deden Halidin, S.E., menyampaikan diperkirakan ada kurang lebih 1.000 jiwa yang memutuskan untuk menginap di lokasi pengungsian demi keamanan pada Senin malam.
Warga yang mengungsi berasal dari beberapa wilayah, yaitu RT 14 ada 200 KK, RT 11 ada 100 KK, RT 12 ada 50 KK, RT 13 ada 30 KK, RT 7 ada 20 KK, RT 15 adq 3 KK dan RT 8 ada 1 KK.
“Kami bersama lintas sektor (Camat, TNI AL, BPBD, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas) turun langsung malam tadi untuk memberikan edukasi dan imbauan secara humanis. Kami memaklumi kekhawatiran warga pasca-rilis BMKG mengenai status Waspada Tsunami tersebut. Oleh karena itu, kehadiran kami adalah untuk menenangkan, memastikan keamanan mereka selama menginap, sekaligus melakukan pendataan di lapangan,” ujar Deden Halidin.
Tim gabungan menyisir sedikitnya 6 titik lokasi pengungsian tempat warga menginap, antara lain area Providen, Gereja Bukit Amal, Bais Hill/Abis Hill, Universitas Borneo Tarakan (UBT), Musholla An-Nur, dan Pelataran Bengkel Kampung 6.
Dari hasil edukasi dan penjelasan mengenai situasi terkini di lapangan, sebagian pengungsi di area Kampus UBT langsung memutuskan untuk pulang ke rumah sesaat setelah diberikan imbauan pada malam hari. Sementara sebagian besar warga lainnya memilih tetap bertahan dan menginap di pengungsian hingga kondisi dirasa benar-benar aman.
“Alhamdulillah, penyampaian edukasi berjalan lancar. Semua warga yang menginap sepakat untuk kembali ke rumah masing-masing pada Selasa (9/6/2026) pagi ini. Situasi di wilayah Kelurahan Pantai Amal saat ini dipastikan kondusif dan masyarakat sudah beraktivitas normal kembali,” pungkas Deden.
Sinergi tanggap darurat dari seluruh unsur pimpinan daerah hingga tingkat RT berhasil memastikan penanganan warga berjalan dengan aman, tertib, dan terkendali.(*/mt)














Discussion about this post