TARAKAN — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan terus berupaya meningkatkan kapasitas kelembagaan kelompok tani di wilayahnya. Upaya ini direalisasikan melalui kegiatan sosialisasi dan penilaian peningkatan kelas kelompok tani yang dilaksanakan secara maraton di berbagai kecamatan.
Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan Usaha, dan P2HP Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tarakan, Hj. Siti Nurdiyanah, S.P., M.P., menjelaskan bahwa kegiatan yang tengah berjalan di Kecamatan Tarakan Utara ini merupakan tahapan ketiga, setelah sebelumnya sukses digelar di Kecamatan Tarakan Timur dan Tarakan Tengah.
Menurut Siti Nurdiyanah, pembinaan kelembagaan ini bertujuan untuk mendorong petani agar tidak hanya berfokus pada aktivitas teknis di lapangan, tetapi juga membenahi tata kelola administrasi kelompok.
“Kami melaksanakan sosialisasi dan penilaian peningkatan kapasitas kelembagaan kelompok tani. Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi petani bahwa dalam bertani bukan hanya teknis di lapangan, tetapi kita juga harus memperbaiki administrasi,” ujar Hj. Siti Nurdiyanah, Jumat (11/9/2026).
Dari total 123 kelompok tani dan 47 kelompok wanita tani di Kota Tarakan, mayoritas atau sekitar 85 persen (130 kelompok) masih berada pada kategori kelas pemula. Sementara itu, kelompok tani kelas lanjut baru berjumlah 11 kelompok dan kelas madya sebanyak 2 kelompok.
Guna mendorong kemandirian dan kenaikan kelas kelompok tani tersebut, DKPP Tarakan rutin memberikan pendampingan intensif. Apalagi, kelengkapan administrasi seperti pembukuan keuangan dan kejelasan luas lahan menjadi syarat mutlak dalam pengajuan bantuan, baik dari APBD kota, provinsi, maupun pemerintah pusat.
Dalam tiga tahun terakhir, program pendampingan ini didukung penuh oleh anggaran APBD Kota Tarakan serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan (stakeholders). Selain APBD, bantuan sarana dan prasarana seperti handtractor, alkon, hand sprayer, hingga pembangunan greenhouse—juga diperoleh dari program CSR Bank Indonesia (BI), BRI, PT Medco, PT Pertamina dan perusahan lainnya.
Rata-rata luas lahan yang dikelola setiap kelompok tani berkisar antara 10 hingga 25 hektar. Sektor hortikultura menjadi andalan utama, terutama di daerah Juata (Tarakan Utara), dengan komoditas seperti semangka, melon, pepaya, dan sayur-sayuran yang telah memenuhi kebutuhan lokal. Selain itu, kawasan Juata Laut juga difokuskan sebagai percontohan program cetak sawah.
Menghadapi kendala kekeringan yang sempat menunda musim tanam di Tarakan Barat dan Tarakan Tengah, DKPP Tarakan mengimbau para petani untuk memanfaatkan budidaya tanaman tahunan sebagai alternatif yang hemat air saat musim kemarau tiba.
Melalui pendampingan dan perbaikan administrasi ini, pemerintah berharap para petani di Kota Tarakan dapat semakin sejahtera, berdaya saing, dan mampu berdiri mandiri. (**)












Discussion about this post