TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Di tengah tren penurunan kinerja sektor pertambangan akibat pemangkasan kuota dan dinamika pasar global, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Agus Taufik, menegaskan pentingnya percepatan transformasi struktur ekonomi Kaltara.
Pernyataan tersebut disampaikan Agus Taufik saat memimpin Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) pada ajang Benuanta Economic Forum (BEF) 2026 di Tanjung Selor, Selasa (4/8/26).
Ia memaparkan perekonomian Bumi Benuanta pada Triwulan I-2026 masih mencatatkan pertumbuhan solid sebesar 5,23% (year-on-year/yoy), meskipun sedikit melambat dibanding Triwulan IV-2025 yang berada di angka 5,49% (yoy).
Dalam penjelasannya, Agus Taufik menguraikan penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltara saat ini bergeser ke sektor Perdagangan yang memberikan andil sebesar 1,50% (yoy), dipacu bergairahnya konsumsi masyarakat dan tingginya hasil produksi pertanian.
Sektor Industri Pengolahan juga mulai menunjukkan taji dengan memberikan kontribusi 1,14% (yoy) seiring mulainya operasional komersial pemurnian aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI).
Sebaliknya, sektor pertambangan batubara tertekan akibat pemangkasan target RKAB nasional dari 790 juta ton menjadi 600 juta ton, yang berdampak pada penurunan produksi korporasi sebesar 40% hingga 70%.
“Sektor pertambangan batubara terus menghadapi tantangan berat seiring penyesuaian kuota RKAB nasional serta penurunan permintaan dari Tiongkok dan India yang beralih ke energi terbarukan. Kita tidak bisa lagi bergantung pada komoditas mentah. Diversifikasi menuju industri pengolahan hijau dan penguatan ekonomi domestik adalah kunci utama ketahanan ekonomi Kaltara ke depan,” ujar Agus Taufik.
Menghadapi tantangan tersebut, Agus Taufik menyoroti hadirnya megaproyek hilirisasi dan energi bersih sebagai mesin pertumbuhan baru (new source of growth) yang akan mengubah lanskap ekonomi Kaltara
Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) Bulungan, diusulkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan estimasi investasi raksasa mencapai Rp 504 Triliun hingga 30 tahun ke depan.
Kluster industri mencakup aluminium (Rp 138 T), petrokimia (Rp 218 T), kaca panel surya (Rp 77 T), dan baterai (Rp 44 T), dengan potensi menyerap 140.792 tenaga kerja.
Sedangkan PLTA Sei Mentarang Induk (Malinau) dengan proyek bernilai USD 6,2 Miliar (Rp 40 T) berkapasitas 1.375 MW yang menjadi tulang punggung pasokan listrik hijau bagi KIHI dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Tidak hanya berfokus pada mega industri, Agus Taufik menekankan komitmen BI dalam memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan.
BI Kaltara terus mengakselerasi digitalisasi UMKM melalui penerapan pencatatan keuangan SI APIK, program onboarding digital, serta fasilitasi business matching pembiayaan modal kerja bersama OJK dan perbankan.
Di sektor pengendalian inflasi, BI Kaltara berkolaborasi dengan Pemprov Kaltara mengoperasikan portal SIAP-SIGAPKU (siap-sigapku.co.id) untuk memantau pasokan dan harga pangan secara real-time.
”Dengan bauran kebijakan Bank Indonesia yang tetap mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, kami optimistis Kaltara mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong iklim investasi yang kondusif demi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Agus Taufik.(*/mt)














Discussion about this post