TARAKAN, Fokusborneo.com – Sistem pembayaran di wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sepanjang Juli 2026 menunjukkan performa yang stabil, aman, serta didukung layanan pembayaran digital yang semakin masif digunakan masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyampaikan aktivitas layanan pembayaran melalui BI-FAST, BI-RTGS, dan SKNBI secara umum telah berlangsung dengan cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Berdasarkan data BI Kaltara per Juli 2026, nilai nominal transaksi BI-FAST tercatat sebesar Rp3,28 triliun atau terkontraksi tipis -0,65% (yoy).
Sementara itu, nilai transaksi melalui BI-RTGS tercatat sebesar Rp856 miliar dengan kontraksi -11,05% (yoy), dan transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) berada di angka Rp319 miliar atau mengalami kontraksi -13,23% (yoy).
Kendati sejumlah kanal transaksi konvensional mengalami kontraksi, adopsi pembayaran digital berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kaltara justru mencatatkan lonjakan yang sangat signifikan dan berada dalam tren pertumbuhan berkelanjutan sepanjang periode 2024 hingga triwulan kedua 2026.
“Akselerasi ini mencerminkan kian meluasnya akseptasi pembayaran digital di tengah masyarakat, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah,” bebernya.
Jumlah pengguna QRIS di Provinsi Kaltara per Juli 2026 tercatat telah mencapai 152.160 pengguna. Angka ini menunjukkan peningkatan sebanyak 20.908 pengguna baru jika dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2025 yang sebanyak 131.252 pengguna, serta melampaui data periode sebelumnya yang sempat berada di angka 147.818 pengguna dengan pertumbuhan tahunan sekitar 18 persen.
Pertumbuhan jumlah pengguna tersebut diiringi lonjakan dramatis pada aktivitas transaksi digital di seluruh wilayah. Volume transaksi QRIS di Kaltara mencatatkan kenaikan luar biasa sebesar 154 persen secara tahunan hingga mencapai 6,66 juta kali transaksi.
Dari sisi nilai ekonomi, nominal transaksi melesat pesat sebesar 137 persen hingga menembus angka Rp676,08 miliar pada triwulan kedua 2026.
Agus Taufik menjelaskan dengan perkiraan jumlah penduduk Kaltara sekitar 750 ribu jiwa, capaian volume transaksi sebanyak 6,66 juta kali menandakan rata-rata satu warga Kaltara melakukan transaksi menggunakan QRIS sekitar 9 hingga 10 kali.
”Pertumbuhan jumlah pengguna tersebut diiringi oleh lonjakan dramatis pada aktivitas transaksi digital di seluruh wilayah. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa matangnya budaya akseptasi pembayaran digital telah menjangkau lapisan masyarakat luas,” ujarnya.
Peningkatan jumlah pengguna dan transaksi ini turut didorong meluasnya ekosistem penyedia layanan pembayaran. Jumlah merchant QRIS di Kaltara kini telah menembus 125.450 merchant atau mengalami pertumbuhan sebesar 37 persen.
Kota Tarakan mendominasi sebaran merchant terbesar dengan pangsa pasar 41,1 persen atau sebanyak 51.551 merchant. Posisi berikutnya disusul Kabupaten Nunukan dengan 29.583 merchant, Kabupaten Bulungan dengan 28.754 merchant, Kabupaten Malinau sebanyak 10.473 merchant, serta Kabupaten Tana Tidung sebanyak 4.036 merchant.(*/mt)














Discussion about this post