Menu

Mode Gelap

Opini · 5 Nov 2023 21:33 WITA ·

Kerja Vs Nyinyir


					Mensos Tri Rismaharini bersama Anggota DPR RI Deddy Sitorus. Foto : Ist Perbesar

Mensos Tri Rismaharini bersama Anggota DPR RI Deddy Sitorus. Foto : Ist

Catatan : Doddy Irvan/Pai

Saya semakin kagum dengan Menteri Sosial Tri Rismaharini. Setiap Ia berbicara didepan anak-anak air mata saya selalu ingin menetes. Begitu tulus. Namun, ada pihak yang tidak tulus menyambut kehadiran Risma dan Deddy Sitorus kali ini. Bukan mengapresiasi. Tapi malah nyiyir.

Sudah empat kali Tri Rismaharini menginjakkan kaki di Kalimantan Utara. Semua kunjungannya saya ikuti. Termasuk yang terakhir ke Krayan, Pulau Nunukan dan Sebatik. Kunjungan kal ini saya terlibat sejak awal. Membuat rundown agenda, menentukan titik lokasi yang didatangi hingga menyiapkan pesawat. Cukup stres. Maklum yang datang adalah seorang Menteri. Semua harus presisi dan pengaturan jadwal yang ketat sesuai protokoler.

Kedatangan mantan Walikota Surabaya itu tidak terlepas dari peran Anggota DPR RI Deddy Yeveri Sitorus. Sudah lama, politisi PDI Perjuangan ini ingin mengajak Risma ke perbatasan. Namun karena keduanya memiliki jadwal yang padat, baru bisa terlaksana 2-4 November ini.

Risma dan Deddy datang ke Krayan, Nunukan dan Sebatik tidak dengan tangan kosong. Atau seperti tuduhan beberapa pihak, bahwa kunjungan kerja ini sarat muatan politik. Seperti yang dituduhkan politisi Partai Demokrat asal Krayan Marli Kamis di media bertepatan dengan kedatangan Risma.

Di media itu, Marli menyayangkan kunjungan Risma tidak didampingi pejabat daerah. Gubernur maupun Bupati Nunukan. Marli bahkan merasa kasihan dengan dua orang pejabat lokal itu. ‘’Seharusnya kalau kunjungan pemerintah, pamitlah,’’ ujar Marli seperti dikutip di media.

Memang kunjungan kerja kali ini dilakukan saat menjelang kampanye. Tapi tahu kah Anda, proses persiapannya hampir satu tahun? Mengapa baru dilakukan penyerahannya di awal bulan November? Itu semata hanya soal waktu saja.

Misalnya proposal renovasi SD 007 yang diajukan warga Krayan. Itu sudah diserahkan ke Kementerian Sosial 8 bulan lalu. Begitu pula bantuan penerangan jalan tenaga surya. Bukan ujuk-ujuk. Itu semua sesuai usulan warga yang diproses kementerian. Biasanya, seluruh proposal itu melalui Deddy Sitorus yang diteruskan kepada Risma.

Jadi, jika ada pihak yang menuding kunjungan kerja kali ini sarat muatan politik, itu jauh panggang dari api. Saya sempat menanyakan soal nyinyiran ini kepada Deddy Sitorus. Anggota Komisi 6 ini geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir kedatangannya bersama Risma itu kampanye terselubung.

‘’Gue sih cuek aja. Silahkan lu baca status Facebook gue lah. Gue menantang orang-orang yang nyinyir itu untuk berdebat. Mereka sudah memperjuangkan apa untuk masyarakat Krayan,’’ ujar Deddy sambil senyum-senyum tipis.

Terkait tudingan tidak melibatkan kepala daerah setempat —baik Gubernur Kaltara mau pun Bupati Nunukan— Deddy Sitorus punya jawaban.

‘’Saya meyakini Kementerian pasti memberitahukan kegeiatan mereka ke Provinsi dan Kabupaten Nunukan. Mau bukti? Gubernur ikut menjemput Risma tanggal 2 November di ruang VIP Bandara Juwata. Wakil Bupati Nunukan menjemput di Bandara dan mendampingi Risma kunjungan di SD Fransico. Waktu di Krayan seluruh kunjungan selalu ada Camat. Loh, mereka itu kan wakil pemerintah. Salahnya dimana? Tidak koordinasinya itu dimana Bro? Apakah ada bendera partai di setiap titik kunjungan? Jadi jangan mengada-adalah. Kami kerja untuk rakyat. Jangan berfikir yang aneh-aneh,’’ kata Deddy.

Deddy Sitorus berani bicara seperti itu bukan tanpa alasan. Khususnya Krayan dan Sebatik. Kecamatan ini termasuk daerah 3T. Jadi butuh perhatian lebih. Misalnya soal krisis energi. Bayangkan, di sejumlah fasilitas publik minim penerangan. Soal ini Kementerian Sosial punya solusi. Bahkan, Risma sendiri yang mendisain PJUTS agar mudah diangkut menggunakan pesawat.

Tiangnya didesain mirip tongsis. Panjangnya bisa diatur. Matrialnya ringan. Total satu tiang, plus lampu hanya 15 Kg. Mudah untuk dikirim menggunakan pesawat jenis Caravan sekali pun.

Di Krayan, Kementerian Sosial membantu 400 unit PJUTS yang akan disebar di empat kecamatan. Bukannya itu mengurangi beban Pemerintah Daerah? Sehingga sebagian APBD Kabupaten Nunukan bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain. Soal PJUTS ini Deddy menimpalin.

‘’Dari Kades akhirnya saya tahu. Penerang jalan itu sudah diusulkan melalui Musrenbang Desa, Kecamatan hingga Kabupaten. Semua mental. Penerangan jalan bukan prioritas. Makanya kita carikan alternatif. Salah satunya melalui bantuan Kementerian Sosial. Siapa yang diringankan? Silahkan Anda menjawab sendiri,’’ lanjut Deddy.

Untuk PJUTS ini tidak hanya Krayan yang ketiban durian runtuh. Pulau Sebatik juga dapat bantuan. Jumlahnya juga 400 PJUTS. Mengapa Sebatik dapat PJUTS sebanyak itu? Begini alasannya. Apakah Anda pernah ke Sebatik lantas melihat Tawau, Malaysia saat malam tiba? Bagi Anda yang pernah, pasti diliputi rasa iri dan minder. Di Tawau terang benderang. Lampu jalannya seperti mengolok-olok Pulau Sebatik yang tak bercahaya.

Menurut Deddy Sitorus ini soal harga diri bangsa. Untuk saat ini, sesuai tupoksi Kemensos mereka baru bisa membantu PJUTS. Agar orang Tawau juga bisa melihat cahaya di Pulau Sebatik.

‘’Tawau terang benderang. Sementara di Sebatik gelap. Jujur ini memalukan kita sebagai bangsa. Minimal PJUTS ini mengurangi sedikit rasa malu itu,’’ papar Deddy.

Itu baru soal PJUTS. Selain itu Risma juga membawa bantuan yang jumlahnya tidak kecil. Seperti renovasi SD 007 Liang Butan. Jumlahnya 2 miliar lebih. Bahkan, disainnya Risma sendiri yang buat.

Sudah? Ternyata belum. Masih adalagi. Kali ini soal potensi Krayan yang terkenal sampai manca negara. Apa itu? Garam gunung dan Beras Krayan. Untuk garam. Kemensos membantu alat kemasan. Agar punya nilai tambah. Untuk bahan bakar merebus air alternatif hingga menjadi garam Risma dan Deddy Sitorus sedang mencarikan jalan keluar.

‘’Saya sedang pikirkan bagaimana mengganti kayu bakar itu. Apakah pakai tenaga surya atau yang lain. Biar produksinya meningkat. Jangan sampai setelah saya endors, pasar berminat kalian malah tidak bisa memenuhi permintaan mereka,’’ kata Risma kepada pengelola rumah garam.

Disaat banyak orang masih berteori Risma dan Deddy Sitorus sudah melompat jauh kedepan. Bahkan seorang Menteri sekelas Risma sampai membuat video khusus di vlog pribadinya. Dia rela menjadi marketing Garam Krayan.

Begitu pula dengan beras Krayan. Semua tahu, Sultan Brunei Darussalam hanya mau makan beras Krayan. Rasanya enak dan organik. Risma menangkap peluang ini. Dia berjanji akan membantu pemasaran dan menyiapkan kemasan yang cantik.

‘’Agar kualitasnya terjaga, nanti kami bantu mesin vakum untuk membungkus beras,’’ ujar Risma dihadapan puluhan warga.

Sudah 4 jenis bantuan yang diserahkan Risma. Sudah? Ternyata belum. Masih ada lagi. Dalam kunjungan itu Kemensos juga memberikan bantuan seragam dan alat tulis sekolah untuk siswa.

Sudah? Eh, masih ada lagi. Kali ini Deddy Sitorus yang turun tangan. Soal apa? Internet desa. Deddy berhasil meyakinkan Direksi Telkomsat untuk memasang jaringan internet di lima titik. Tidak tanggung-tanggung. Teknisi dan peralatan satelit diangkut khusus pakai Helikopter.

‘’Ini bukan untuk gaya-gayaan. Setiap saya ketemu Kepala Desa Krayan, internetlah yang menjadi keluhan mereka. Ya sudah, untuk kali ini saya bantu lima titik. Biaya saya yang tanggung. Pengelolaannya silahkan warga berembuk,’’ paparnya.

Sudah? Belum. Ini yang terakhir. Tapi masih dalam proses. Saat berdialog di Pesantren Al Khairat Sebatik, Risma diminta menyisihkan anggran untuk membangun sejumlah fasilitas di Pesantren itu. Anggaran yang tertuang di proposal sekitar 6 miliar lebih. Risma janji akan memproses permohonan itu. Ia mengaku tersentuh karena Al Khairat itu banyak dihuni anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Disinilah air mata saya tumpah. Saya tersentuh cara Risma memberikan motivasi. Ia tidak perlu mencontohkan orang lain. Tapi dirinyalah yang menjadi materi motivasi untuk para santri itu.

‘’Ibu waktu kuliah di Belanda, puasa Daud. Bukan lagi Senin Kamis. Itu bukan hanya untuk ibadah, tapi menghemat. Anak-anak ku, walau kalian anak TKI (PMI) jangan pernah minder. Berusaha dan berdoa. Kalian itu anak-anak Allah. Mintalah pasti akan diberikanNya,’’ kata Risma.

Terbukti, persoalan di perbatasan tidak bisa diselesaikan dengan nyinyiran. Tapi tindakan nyata. Hanya ada satu pilihan. Menjaga perasaan Pejabat Lokal atau menyelesaikan persoalan masyarakat lokal? Silahkan Anda memilih.

Print Friendly, PDF & Email
Artikel ini telah dibaca 80 kali

blank badge-check

Redaksi

blank blank blank blank
Baca Lainnya

Urgensi Kebangkitan Desa Pasca Terbitnya UU Desa Nomor 3 Tahun 2024

15 Mei 2024 - 21:06 WITA

blank

Pendidikan dan Original Kebangsaan

2 Mei 2024 - 13:03 WITA

blank

Implikasi Yuridis Perolehan Suara Calon Legislatif Mantan Narapidana Dengan Ancaman 5 Tahun Yang Diketahui Pasca Pemungutan Suara

18 April 2024 - 14:37 WITA

blank

Ramadhan Kareem

14 Maret 2024 - 12:02 WITA

blank

Kampus Cerminan Negara/Negara Cerminan Kampus?

13 Februari 2024 - 13:56 WITA

blank

Dari Gerbang Sekolah Menuju Gerbang DPRD

7 Februari 2024 - 14:31 WITA

blank
Trending di Opini