Menu

Mode Gelap

Opini · 8 Nov 2023 05:33 WITA ·

Swasembada Semen Krayan


					Mensos Tri Rismaharini saat kunjungan ke Kaltara. Foto : Ist Perbesar

Mensos Tri Rismaharini saat kunjungan ke Kaltara. Foto : Ist

Cacatan : Doddy Irvan/Pai

 

Ada yang tertinggal dalam catatan kunjungan ke Kaltara Menteri Sosial Tri Rismaharini 2-4 November lalu. Saya lupa memasukannya karena fokus membahas soal ‘’nyinyiran.’’ Yang terlupa itu padahal lumayan penting. Apa itu? Ya, Risma terpikir untuk membuat pabrik semen di Kecamatan Krayan. Ceritanya begini.

Saat kunjungan kerja di Kecamatan Krayan bersama Anggota DPR RI Deddy Sitorus, Risma sempat bertanya kepada supir yang membawanya keliling Krayan. Pertanyaannya soal harga semen. Supir itu menjawab antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah.

Mantan Walikota Surabaya itu tertegun. Ia bisa merasakan betapa menderitanya masyarakat yang tinggal di perbatasan. Sulitnya akses transportasi pasti berimbas melambungnya harga. Tidak hanya sembako. Matrial bangunan pun harganya pasti gila-gilaan. Termasuk semen.

Dulu sebelum Covid 19 melanda, semen bisa didatangkan dari Malaysia. Harganya cukup terjangkau. Namun, sejak Covid 19, Pemerintah Malaysia menutup perbatasan. Proses perdagangan lintas batas terhenti. Warga setempat pun kelimpungan. Ketergantungan mereka terhadap barang-barang Malaysia sudah terlanjur tinggi.

Sebut saja Gas LPG. Selama ini si tabung kuning menjadi bahan bakar utama rumah tangga. Tabung kuning itu dari tetangga sebelah. Sejak perbatasan di tutup, satu biji tabung kuning pun tidak ada yang jual. Sedangkan LPG 3 Kg yang disubsidi pemerintah Indonesia mau diangkut pakai apa.

Soal tabung LPG 3 Kg ini Deddy Sitorus punya cerita. Ia sempat mendesak Pertamina untuk mengirim LPG melalui udara ke Krayan. Sempat berjalan beberapa kali, operasi khusus ini akhirnya terhenti karena kendala pesawat.

‘’Pertamina masih berupaya cari pesawat yang bisa angkut gas LPG. Memang beresiko. Tapi tidak ada jalan lain selama akses darat belum jadi,’’ ujar Deddy Sitorus.

Itu baru satu item. Soal sembako juga sama. Semua kebutuhan harus diterbangkan menggunakan pesawat. Tentu, harganya melambung tinggi.

Nah, kembali ke masalah semen. Ternyata Risma punya gagasan brilian terkait mengatasi semen yang langka dan mahal di Krayan. Rupanya, selama berada di dalam mobil, mata Risma jelalatan melihat barisan bukit yang mengelilingi Long Bawan. Ia yakin, didalam perut bukit itu terkandung bahan baku semen.

‘’Saya lihat jejeran bukit-bukit itu. Saya yakin pasti terkandung bahan baku semen,’’ kata Risma saat berbicara di hadapan tokoh masyarakat Krayan.

Risma tak berhenti sampai ide saja. Politisi PDI Perjuangan ini, akan menugaskan anak buahnya mengambil sample tanah untuk diteliti. Apakah tanah-tanah itu bisa diolah menjadi semen.

Namun Risma punya syarat. Jika nanti hasil penelitian ternyata bisa diolah menjadi semen, Ia tidak ingin pabriknya bersekala industri. Biarkan masyarakat setempat yang mengelola.

‘’Saya gak mau nanti jadi industri. Bisa rusak lingkungan disini. Cukup produksinya untuk memenuhi kebutuhan lokal saja,’’ kata Risma.

Ini terobosan luar biasa. Tak pernah terpikirkan. Biasanya kenaikan harga atau kelangkaan barang gara-gara transportasi solusinya pasti subsidi. Ujung-ujungnya membebani anggaran.

Pemikiran Risma lebih maju lagi. Coba bayangkan. Jika hasil penelitian matrial bukit-bukit itu dapat diolah menjadi semen, Krayan bakal swasembada. Tidak perlu datangkan dari Malaysia atau Tarakan. Satu persoalan bisa diatasi.

Risma memang dikenal kaya ide. Pengalamannya memimpin Surabaya betul-betul termanfaatkan saat menyandang posisi Menteri Sosial. Dia dikenal dapat menyelesaikan banyak persoalan yang menurut banyak orang tidak mungkin.

Anda pasti ingat tentang Doly. Lokasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara itu berhasil ditutup Risma tanpa gejolak. Sebab, setiap kebijakannya selalu diikuti pemberdayaan. Anda bisa baca sukses story penutupan Doly itu di media lain.

Pemanfaatan sampah menjadi listrik pun Surabaya adalah pelopornya. Banyak daerah belajar ke Surabaya. Itu semua berkat terobosan Risma.

Semen memang masih dalam tahap gagasan yang ingin diwujudkan. Namun, masyarakat Krayan dan Sebatik telah merasakan tangan dingin Risma. Apa itu? Apalagi kalau bukan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS).

PJUTS mungkin dianggap biasa. Di Kaltara saat ini sudah banyak berdiri PJUTS. Tapi PJUTS buatan Risma sedikit berbeda. Tiangnya dari baja ringan. Mirip tongsis. Jadi sangat mudah diangkut. Pakai pesawat sekali pun.

Di Sebatik, PJUTS itu telah terpasang di Dermaga Binalawan, Mantiksa. Dermaga yang biasa gelap gulita kini terang benderang. Anda bisa lihat sendiri potonya. Tentu lampu di Dermaga ini bukan hanya sebagai penerang, tapi dapat menjadi pemandu kapal-kapal nelayan saat malam tiba.

Arming, salah satu staf Deddy Sitorus di Nunukan menyampaikan rasa terimakasih warga atas bantuan PJUTS ini.

‘’Warga setempat mengaku senang sekali. Dermaga sudah terang-benderang,’’ ujar Arming yang juga Caleg DPRD Provinsi Dapil Nunukan dari PDI Perjuangan itu.

Perbatasan mulai terang benderang berkat bantuan Risma. Kini kita tinggal menunggu apakah swasembada semen di Krayan bakal terwujud. Terimakasih Bu Risma.

Print Friendly, PDF & Email
Artikel ini telah dibaca 39 kali

blank badge-check

Redaksi

blank blank blank blank
Baca Lainnya

Urgensi Kebangkitan Desa Pasca Terbitnya UU Desa Nomor 3 Tahun 2024

15 Mei 2024 - 21:06 WITA

blank

Pendidikan dan Original Kebangsaan

2 Mei 2024 - 13:03 WITA

blank

Implikasi Yuridis Perolehan Suara Calon Legislatif Mantan Narapidana Dengan Ancaman 5 Tahun Yang Diketahui Pasca Pemungutan Suara

18 April 2024 - 14:37 WITA

blank

Ramadhan Kareem

14 Maret 2024 - 12:02 WITA

blank

Kampus Cerminan Negara/Negara Cerminan Kampus?

13 Februari 2024 - 13:56 WITA

blank

Dari Gerbang Sekolah Menuju Gerbang DPRD

7 Februari 2024 - 14:31 WITA

blank
Trending di Opini