Menu

Mode Gelap

Opini · 15 Nov 2023 16:52 WITA ·

Pendekatan Multi Perspektif Untuk Cegah Stunting di Kaltara


					Tri Astuti Sugiyatmi - Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan (UBT) Perbesar

Tri Astuti Sugiyatmi - Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan (UBT)

Konsep tentang Stunting

Saat ini isu tentang stunting mendapat perhatian yang sangat besar. Hal ini katrena dampaknya yang serius pada kualitas sumber daya manusia akan menjadi ancaman pada keberlangsungan bangsa.

Untuk itulah permasalahan ini harus segera ditindaklanjuti. Sebelum membicarakan bagaimana menindaklanjuti permasalahan ini maka diketahui terlebih dulu apa dan bagaimana stunting.

Istilah stunting sendiri diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam beberapa istilah yang berbeda. Jika mengacu pada buku Ringkasan 100 Kabupaten/Kota untuk Intervensi Stunting yang diterbitkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Sekretariat Wapres RI, istilah stunting diterjemahkan sebagai “anak kerdil”. Jika mengacu pada Buletin Jendela Data dan Infomasi Kesehatan Kemenkes maka stunting diterjemahkan sebagai “balita pendek” atau sering disebut sebagai “pendek”. Sebenarnya pendek belum tentu stunting. Selain pendek, pada stunting ada gangguan perkembangan kecerdasan, kemampuan orientasi dan respon terhadap lingkungan lebih buruk daripada yang tidak stunting.
Secara umum stunting adalah kondisi tinggi badan (TB) seseorang yang kurang dari normal berdasarkan usia dan jenis kelamin. TB merupakan salah satu jenis pemeriksaan antropometri dan menunjukkan status gizi seseorang. Stunting adalah diakibatkan oleh kurang gizi yang berlangsung lama (kronis).

Berat badan (BB) juga menjadi hasil pemeriksaan antropometri yang lain. Jika BB dibandingkan umur maka akan menghasilkan status gizi yang dapat dikategorikan normal, gizi kurang atau gizi buruk. Sementara itu bila BB dibandingkan TB akan menghasilkan sangat kurus, kurus, normal dan gemuk. Berbeda dengan status gizi hasil pengukuran lain yang relative lebih cepat berubah maka khusus stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang sifatnya kronis dan dianggap sulit untuk dipulihkan.

Untuk menentukan seorang anak apakah stunting atau tidak maka sebaiknya dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dapat dinilai dengan akurat. TB setiap anak balita hasil pengukuran akan dikonversikan ke dalam nilai terstandar menggunakan baku antropometri anak balita WHO 2005 yang disebut sebagai Z score. Berdasarkan nilai Z score dari masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi anak balita terkait TB/U apakah masuk kriteria sangat pendek, pendek ataukah normal.

Epidemiologi Stunting Kaltara
Sesuai hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang terakhir (2018) maka angka stunting nasional pada angka 30,8%. Sementara hasil pengukuran lain yaitu hasil integrasi antara Studi Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI) dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2019 status gizi balita stunting sampai tingkat Kabupaten/kota pada angka 27,3 %. Berdasarkah data global angka stunting berada pada 22, 2%, maka angka stunting di negara kita masih lebih tinggi dan itu berarti menjadi sesuatu masalah. Angka stunting di Indonesia termasuk dalam kategori yang tinggi dibanding dengan negara tetangga seperti Vietnam (23%), Malaysia (17%), Thailand (16%), dan Singapura (4%). Negara kita menduduki no 3 tertinggi dalam South East Asian Region setelah Timor Leste (50,5%) dan India (38,4%).

Provinsi Kaltara dari Hasil Riskesdas tersebut memiliki angka prevalensi sebesar 26,9% masih lebih rendah daripada rerata nasional. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia tahun 2021 maka grafik sangat pendek dan pendek (TB/U) pada Balita di Kaltara sebesar 27,6% menunjukkan masih lebih tinggi daripada angka nasional yaitu pada angka 24,4% . Berdasarkan dua sumber data yang berbeda tersebut menjadikan stunting tetap relevan sebagai permasalahan kesehatan di Kaltara yang harus diperhatikan secara serius.

Apalagi peta prevalensi stunting di masing-masing kabupaten/Kota di Kaltara cukup beragam. Dari yang paling tinggi ke paling rendah adalah Kabupaten Malinau kemudian diikuti di Kabupaten Bulungan yang keduanya memiliki angka diatas 30 %. Kabupaten Nunukan memiliki angka yang di atas angka provinsi juga walaupun angkanya masih di bawah 30%. Kota Tarakan dan Kabupaten Tana Tidung dengan prevalensi masing-masing sebesar 24,9 % dan 19,2 %.

Faktor Risiko Stunting

Faktor yang mempengaruhi kejadian stunting sudah banyak dikaji dari berbagai negara dan daerah. Analisis dari hasil Riskesdas 2028 memperlihatkan bahwa kondisi stunting dipengaruhi oleh tingkat pendidikan kepala rumah tangga, jenis pekerjaan kepala rumah tangga serta lokasi tempat tinggal. Pada level pendidikan yang lebih tinggi maka angka stunting akan menurun, sementara pekerjaan informal seperti buruh, sopir, pembatu rumah tangga, petani, buruh tani dan nelayan maka angkanya semakin meningkat daripada pekerja formal, lokasi pedesaan lebih tinggi daripada perkotaan.

Selain terkait dengan masalah asupan makanan seperti riwayat ASI ekslusif, pemberian makanan tambahan, pola konsumsi dari anak (jumlah asuoan kalori/protein) dan kurangnya makanan yang bergizi maka stunting juga dihubungkan berat anak saat lahir, tingkat pendidikan ibu, asal wilayah, serta kejadian penyakit infeksi menular seperti diare berulang, infeksi cacing, akan meningkatkan peluang terjadinya stunting. Sebuah studi di India menyatakan bahwa riwayat pemberian imunisasi dasar lengkap yang mencegah penyakit tertentu sangat penting dalam mencegah stunting.

Khusus hubungan antara ekonomi keluarga dengan stunting memang cukup unik. Meskipun hasil studi di pulau Sumatera itu menunjukkan semakin tinggi ekonomi keluarga akan menurunkan stunting. Dalam kenyataannya stunting tidak saja diderita oleh keluarga miskin yang secara natural ada kesulitan mengakses asupan protein hewani dan sumber gizi lain secara seimbang tetapi juga pada keluarga yang relatif mampu.

Perlu Intervensi

Belajar bahwa stunting relatif sulit untuk dipulihkan tetapi mengingat dampak buruknya maka rencana intervensi stunting juga harus tetap direncanakan. Secara teori bahwa 1000 hari pertama dalam kehidupan/HPK (dalam kandungan sampai dengan usia 2 tahun) adalah masa emas untuk mengkoreksi stunting jika ada. Semakin dini diagnosis ditegakkan maka semakin mudah untuk dilakukan koreksi, dibandingkan pada usia diatas dua tahun.

Bahkan intervensi bisa ditarik ke umur remaja putri yang siap menikah untuk tidak mengalami anemia. Anemia pada ibu hamil akan sangat mempengaruhi asupan gizi pada janin yang dikandungnya.

Success Kaltara (Stunting Reduction Accelerating Center Kalimantan Utara) adalah program Matching Fund 2023 dari Kemendikbud ristekdikti dengan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur yang meliputi Kalimantan Utara juga yang dilaksanakan oleh Universitas Borneo Tarakan. Beberapa program yang dilakukan adalah akselerasi program penurunan stunting dengan penguatan Tim Pendampingan Keluarga dengan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam mencegah stunting.

Program lainnya adalah Program Pusat Diversifikasi Berbasis Pangan Lokal. Perikanan sebagai sumber pangan protein hewani tersedia cukup melimpah di Kaltara dan ini bisa dibuat produk inovasinya. Pembuatan akuaponik yang membudidayakan sayur kangkung, sawi dan lele menjadi upaya peningkatan akses keluarga pada sumber pangan bergizi. Program ketiga adalah akselerasi perubahan perilaku dengan pendekatan Social Change Behavior Communication. Untuk program ketiga ini kegiatan yang dilakukan k seperti Success Goes to School sebagai gerakan menolak stunting yang dilakukan di sekolah dengan membawa bekal sesuai konsep “Isi Piringku” serta pemilihan duta di sekolah untuk memperkuat program ini.

Kegiatan terakhir adalah pemberian tantangan kepada Masyarakat (Community Challenge) untuk menyiapkan menu makanan yang mengandung protein hewani selama 30 hari berturut-turut sesuai umur dan status anggota keluarga masing-masing. Harapannya pembiasaan selama 1 bulan akan menciptakan perilaku baru menyediakan menu dengan konsep Isi Piringku yang mengacu pada gizi seimbang sesuai dengan umur pada balita dan status khususnya pada wanita usia produktif, hamil atau menyusui.

Namun kembali pada faktor terjadinya stunting maka sebenarnya bahan pangan dan menu pangan adalah salah satu input saja. Sementara proses zat gizi untuk bisa diserap di dalam tubuh dan mendukung pertumbuhan juga masih banyak dipengaruhi faktor lain khususnya jenis penyakit yang diderita. Untuk itulah pencegahan penyakit infeksi khususnya menjadi tidak dapat diabaikan juga. Lingkungan pemukiman yang baik serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat menjadi salah satu kunci untuk mencegah infeksi cacing/parasite lain, diare yang sudah terbukti menyebabkan stunting selain menjauhkan asap rokok yang seringkali memicu sesak napas pada kasus batuk (pneumonia) balita.

Ditulis Oleh

Tri Astuti Sugiyatmi – Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan (UBT)

 

Print Friendly, PDF & Email
Artikel ini telah dibaca 81 kali

blank badge-check

Redaksi

blank blank blank blank
Baca Lainnya

Urgensi Kebangkitan Desa Pasca Terbitnya UU Desa Nomor 3 Tahun 2024

15 Mei 2024 - 21:06 WITA

blank

Pendidikan dan Original Kebangsaan

2 Mei 2024 - 13:03 WITA

blank

Implikasi Yuridis Perolehan Suara Calon Legislatif Mantan Narapidana Dengan Ancaman 5 Tahun Yang Diketahui Pasca Pemungutan Suara

18 April 2024 - 14:37 WITA

blank

Ramadhan Kareem

14 Maret 2024 - 12:02 WITA

blank

Kampus Cerminan Negara/Negara Cerminan Kampus?

13 Februari 2024 - 13:56 WITA

blank

Dari Gerbang Sekolah Menuju Gerbang DPRD

7 Februari 2024 - 14:31 WITA

blank
Trending di Opini