Puisi esai ini diinspirasi kabar tentang piton yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Tahun 2019 pernah viral foto ular yang disebut “Raja Piton”. Dikaitkan dengan legenda Tangkalaluk. Pada Agustus 2026, laporan lapangan kembali menyebut ular ditemukan hangus akibat karhutla di Kalimantan *)
1]
Orang-orang tua di
Pedalaman Kalimantan pernah
Mengatakan bahwa hutan
Mempunyai raja.
Bukan manusia.
Bukan burung enggang
Meski mereka terbang
Paling tinggi
Bukan orangutan
Meski matanya
Menyimpan kesedihan
Panggil saja ia
Raja Ular dari Kalimantan
Tersohor dan masyhur
Melintas banua
Tubuhnya panjang
Serupa jalan Kalimantan
Yang entah kapan
Selesai dibangun
Sisiknya hitam
Kecokelatan
Serupa akar-akar tua
Kepalanya besar. Tetapi
Matanya kecil
Tidak bermahkota
Tidak bersinggasana
Tidak berpasukan
Sebab raja tetaplah raja
Dipasang mahkota atau tidak
Tinggal di megah istana atau belantara
Didukung barisan prajurit atau kaum paria
Tapi satu hal ia tegas:
Hutan adalah kerajaan
Belukar akar tempat bersemayam
Di bawah bayang-bayang daun
Ia berwibawa
Semua makhluk rela
Membaptis diri sebagai hamba
Mereka yang bergerak
Mereja yang tumbuh
Mereka yang merayap
Mereka yang terbang
Mereka yang berenang
Semua di antara tanah
Dan langit tunduk di
Bawah duli paduka
Puluhan tahun sudah
Ia bergelar Raja Ular
Tanpa pernah merasa
Tak pernah menyuruh
Tak pernah perintah
Burung enggang terbang riang
Rusa berlari gembira
Air sungai mengalir
Itulah hidup
Kebebasan
Kemerdekaan
Sebab itulah
Hutan merajakannya
Raja sejati tak butuh validasi
2]
Suatu sore membara
Raja Ular merasa ganjil
Udara berubah
Hutan basah terasa kering
Daun-daun bergesekan
Bunyi bersembunyi
Sunyi
Seperti bisik-berbisik
Orang main rahasia
Burung terbang rendah
Kera bergerak cepat
Rusa turun tergesa
Pergi sebelum matahari
Tenggelam
Semut-semut berbaris
Mengungsi
Pada dunia yang peduli
Raja Ular angkat kepala Mencium udara
Asap.
Api.
Jiwa.
Tipis dan jauh
Tapi terus berkobar
Tapi terus merambat
Tapi terus membubung
Tiba lebih dekat
Ke ujung hidung tepat
Di bawah kedipan mata
“Api,” katanya.
Burung enggang menjawab:
“Dari mana?”
Raja Ular menggeleng
“Itulah masalahnya.”
Dari mana api datang
Bukan dari mata turun ke
Hati
Dan ketika seseorang
Tidak tahu dari mana
Bencana datang
Ia terlambat sadar
Neraka menyala tepat
Di depan pintu rumahnya
Malam tiba
Api datang
Mula-mula hanya
Garis merah di
Kejauhan
Menjadi lidah panjang
Menjadi bara
Menjadi sekam yang
Menyala dalam diam
Menjadi dinding selepas
Ratusan tahun hutan
Membangun dirinya dari
Hujan, akar, daun,
Bangkai, benih, dan
Waktu
Raja Ular bergerak
Mencari sungai
Tetapi sungai menyusut
Surut di bawah ambang
Embung
Ia mencari rawa
Tetapi telah kering dan
Menyisakan ilalang yang
Siap dibakar
Ia mencari lubang di
Bawah akar
Tetapi menjadi arang
Menjadi bara
Menjadi batu bara
Siap membakar jalan dan
Tujuan hidup dunia
Sang Raja Ular meradang
Ia kehilangan kerajaan
Juga mahkota
Juga singgasana
Untuk pertama kalinya
3]
Raja Ular melata
Di kiri api
Di kanan api
Di belakang api
Di depan api
Di atas asap
Di bawah bara
Ia dikepung neraka
Rusa berlari tanpa arah
Burung terbang tinggalkan
Sarang
Monyet menggendong bayi
Babi hutan berputar-putar tidak
Menemukan jalan keluar
Mereka menjadi sama
Tiada pemangsa
Tiada mangsa
Tiada yang kuat
Tiada yang lemah
Api mencabut semua gelar!
Raja Ular teringat
Nasihat ibunya:
“Anakku,
Hutan tak pernah
Bertanya siapa paling
Kuat. Hutan hanya
Bertanya siapa mampu
Hidup bersama.”
Dulu ia tak mengerti
Sekarang mengerti
Paham sepenuhnya
Kekuatan
Ternyata tak berguna
Ketika seluruh
Tempat tinggal terbakar
Cakar tak berguna
Sayap tak berguna
Taring tak berguna
Bahkan diri sendiri tak
Berguna
Ia adalah raja
Tetapi tak dapat
Memerintah api
Tak dapat menyelamatkan
Apapun di hutan
Siapapun di rimba
Bahkan dirinya sendiri
Saat itulah
Raja Ular menemukan
Kebenaranpaling pahit:
Kekuasaan yang
Tidak mampu
Menyelamatkan apa
Yang dipimpinnya
Hanyalah sebuah nama
4]
Hutan berubah
Jadi tanah lapang
Tanpa tenda
Tanpa bendera
Dan Raja Ular telah
Melihat manusia
Dua orang
Berdiri di balik asap
Seorang memegang alat
Pemadam api dan seorang
Pendingin suhu
Yang lain memegang telepon
Tanpa kabel tanpa jaringan
Merekaberseru:
“Piton!”
“Raja Piton!”
Mereka mengambil gambar
Dan Raja Ular hanya diam
Keluarga ular tak mengerti
Mengapa manusia tertarik
Kepada sebuah nama
Raja Ular berkata
Dalam hatinya:
Aku bukan raja
Hanya pemela yang
Ingin bertahan hidup
Seribu usia lagi
Manusia tak paham bahasa
Mereka hanya tahu gambar
Klik
Sebuah gambar
Klik
Sebuah gambar lagi
Beberapa detik
Penderitaan jadi tontonan
Gambar beredar
Orang-orang membicarakan
Ada ular besar
Raja Ular terbakar!
Ular raksasa tewas
Di tengah api yang mengganas
Legenda
Apa arti sebuah cerita
Tangkalaluk
bukanlah sebesar itu
Silakan berdebat tapi
Untuk apa
Mengapa tak bertanya:
Mengapa rumahnya dibakar?
Raja Ular memandang manusia
Ia merasa mereka mempunyai
Penyakit berbahaya
Bahkan lebih dari api
Bahkan lebih dari asap
5]
Api kian dekat
Raja Ular berjumpa
Sebuah sungai kecil
Airnya sedikit tersisa
Ia memasukkan kepala
Air terasa panas
Ia minum
Seteguk
Dua teguk
Air sungai mendidih
Membakar kerongkongannya
Sebuah pohon tumbang
Brak
Hutan menghela napas
Panjang
Raja Ular pandang belakang
Pohon-pohon hitam
Tiang-tiang arang
Tak ada payung
Tak ada teduh siang
Ia tiba-terkenang
Ketika hujan turun
Bersembunyi di bawah daun
Ketika bulan muncul
Berburu di antara akar
Ketika matahari panas
Tertidur di tanah lembap
Hutan adalah rumah yang
Tak pernah bertanya
Siapa yang memiliki aku
Hutan adalah surga
Yang selalu berkata
Tinggallah dalam damai
Manusia datang
Membuat batas
Memberi sertifikat
Meneken angka
Mencantum nama dan
Membangun pagar
Ini milikku
Ini milik perusahaan
Ini milik negara
Ini kawasan produksi
Ini kawasan investasi
Tetapi tidak pernah ada:
Ini milik kehidupan
Raja Ular memandang sungai:
Barangkali manusia tidak
Benar-benar memiliki tanah
Mereka yang dimiliki tanah
Sebab pada akhirnya, manusia
Akan kembali menjadi tanah
6]
Hujan turun
Tidak deras
Hanya gerimis
Api padam sebagian
Raja Ular masih bertahan
Hidup dalam luka
Sisiknya hangus
Geraknya lambat
Ia keluar dari
Persembunyian dan
Di hadapannya terbentang
Dunia asing yang
Tidak lagi dikenalnya
Hutan menjadi padang
Api. Asap. Abu.
Tiada suara burung
Tiada suara katak
Tiada suara monyet
Hanya suara air yang
Jatuh dari daun yang terbakar
Raja Ular bergerak
Sebuah tunas kecil
Hijau
Sangat kecil
Tumbuh di antara abu
Ia berhenti
Raja Ular tersenyum
Engkau siapa?
Engkau takut?
Api?
Tunas tak menjawab
Diam
Raja Ular paham
Ttunas tak punya masa silam
Ia tak takut mengulang
Kehidupan
Bukan mereka yang
Trlalu banyak masa lalu
Trauma yang membelenggu
Ingat hutan
Ingat hujan
Ingat pohon
Ingat manusia
Kematian bukanlah
Kehilangan hidup tapi
Kemampuan melanjutkan
Petjalanan tumbuh dan
Berkembang
7]
Pagi datang
Manusia kembali
Membawa air
Membawa selang
Membawa kendaraan
Memadamkan bara
Seseorang menemukan Raja Ular
Ia terdiam
Tidak memotret
Tidak berteriak
Hanya berlutut
Menetes air mata
Ia hanya berpuisi lirih,
“Maaf.”
Raja Ular bahagia
Maaf pernah didengarnya
Sederhana dan bersahaja
Tua penuh makna
Raja Ular ingin terus
Mendengar maaf saat
Pohon ditebang, sungai
Tercemar, hewan mati, hutan
Hilang, meski segalanya
Terlambat
Mengapa manusia begitu
Pandai meminta maaf kepada
Sesuatu yang sudah mati,
Tetapi begitu sulit menjaga
Sesuatu masih hidup?
Raja Ular diam
Tubuhnya dingin
Napasnya pendek
Matanya terpejam
Api telah padam
Raja Ular mangkat
Pikiran-pikiran terus bergerak
Di dalam hutan
Di dalam tanah
Di dalam akar
Menjadu sungai
Menjadi hujan
Menjadi belantara
Agustus, 2026
Catatan Kaki:
*] detikcom https://share.google/5ulJBdQAcIK4E8Xab












Discussion about this post