• About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Fokus Borneo
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
Fokus Borneo
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini
Home Politik

Jadi Saksi Ahli Sidang Sengketa Pileg, Prof Yahya : Putusan Caleg Erick Tidak Bisa Dieksekusi

by Redaksi
4 Juni 2024 15:26
in Politik
A A
Jadi Saksi Ahli Sidang Sengketa Pileg, Prof Yahya : Putusan Caleg Erick Tidak Bisa Dieksekusi

Prof. Yahya jadi saksi ahli sidang sengketa Pileg di MK. Foto : Ist

JAKARTA – Pakar Hukum Tata Negara, Prof Yahya Ahmad Zein menjadi saksi ahli di sidang Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan yang dilayangkan PPP terhadap Calon anggota legislatif terpilih (Caleg) dari Partai Golkar, Dapil Tarakan Tengah, Erick Hendrawan Septian Putra, Kamis, 30 Mei 2024.

Dalam keterangannya, Yahya menegaskan bahwa sistem hukum pemilu Indonesia secara tegas membagi tahapan pemilu. Kata dia, aturan perundang-undangan telah menegaskan bahwa jalur mekanisme penyelesaian pelanggaran administrasi merupakan kewenangan Bawaslu sementara penyelesaian perselisihan hasil merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi.

Baca Juga

Golkar Kaltara Salurkan Bantuan Sapi Kurban untuk Petugas Kebersihan Bulungan

Pansus II DPRD Kaltara Rampungkan Pembahasan Raperda Koperasi dan Usaha Kecil, Selanjutnya Harmonisasi 

Belum Beri Kontribusi Sejak 2018, Bapemperda DPRD Kaltara Masih Mengkaji Perubahan Perda PT MKJ

DPRD Tarakan Siap Kawal Penyesuaian Tarif Taksi Bandara Juwata 

“Dalam sistem pemilu kita proses pelanggaran administrasi sebagaimana yang tertuang di dalam UU Pemilu Pasal 466, UU 7 tahun 2017 itu dengan tegas menyatakan bahwa ‘sengketa proses pemilu meliputi sengketa yang terjadi antar peserta pemilu dan sengketa peserta pemilu dengan penyelenggara pemilu sebagai akibat dikeluarkannya keputusan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten Kota’. Artinya untuk pelanggaran administrasi itu sangat berbeda dengan perselisihan hasil Pemilu,” tutur Yahya, dikutip dari kanal YouTube resmi Mahkamah Konstitusi.

Menurutnya, sistem hukum pemilu yang memisahkan antara pelanggaran administrasi dengan perselisihan hasil pemilu harus dilihat sejalan dengan kewenangan setiap lembaga negara yang berwenang menangani.

“Dalam penyelesaian sengketa untuk perselisihan hasil pemilu jelas di dalam Undang-Undang Dasar Pasal 24 C, Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang 24 tentang Mahkamah Konstitusi. Kemudian Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang 48 tentang Kekuasaan Kehakiman di sana memberikan kewenangan kepada Mahkamah Konstitusi. Artinya ada pemisahan yang tegas dalam hukum pemilu tersebut yang membedakan pelanggaran administrasi dengan perselisihan hasil pemilu,” katanya.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan ini pun memaparkan keharusan adanya keselarasan antara tuntutan dan dalil-dalil gugatan hukum yang diajukan oleh pemohon. Ketika tuntutan gugatan tidak sejalan dengan dalil-dalil yang diajukan pemohon, maka, bertentangan dengan prinsip substantierings teori yang menyatakan suatu gugatan tidak cukup hanya menyebutkan dasar hukum yang menjadi tuntutan, tetapi harus disebutkan pula kejadian-kejadian nyata yang mendahului dasar gugatan itu dan menjadi sebab timbulnya peristiwa hukum tersebut.

“Berdasarkan teori substantierings teori harus ada keselarasan antara petitum (tuntutan) dengan posita (dalil-dalil gugatan) itu. Maka kalau ada petitum yang jauh dari posita maka tentu saja hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip substantierings teori,” ujarnya.

“Penyusunan posita tidaklah cukup hanya menguraikan mengenai peristiwa dan hubungan hukum yang menjadi dasar permohonan, melainkan harus diuraikan pula bagaimana sejarahnya sampai terjadi peristiwa dan hubungan tersebut yang dalam konteks ini adalah permasalahan pelanggaran administrasi yang kemudian dianggap menjadi perselisihan hasil pemilu itu,” sambungnya.

Dalam penyelesaian pelanggaran administrasi, lanjut dia, Bawaslu memiliki kewenangan yang besar dalam menangani pelanggaran administrasi pemilu. Kendati begitu, kata dia, sesuai Perbawaslu 7/2022 maupun Pasal 8 Undang-Undang 7, Pasal 454 penanganan tersebut memiliki batasan waktu yakni paling lama 7 hari sejak diketahui terjadinya peristiwa tersebut.

“Hal ini harusnya bukan tanpa batas tetapi harus dibatasi dengan tahapan yang sudah dijalankan. Majelis Hakim yang mulia tidak terbayangkan oleh saya apabila batas waktu 7 hari sejak diketahuinya (peristiwa hukum itu tetap dikabulkan) maka akan menabrak prinsip-prinsip penting dari tahapan-tahapan sistem pemilu yang sudah dibuat sedemikian rupa,” paparnya.

Karena itu dia menilai, putusan Bawaslu Tarakan dan selanjutnya yang diperkuat melalui hasil koreksi Bawaslu RI yang menyatakan Erick Hendrawan Septian Putra Tidak Memenuhi Syarat sebagai daftar calon anggota tetap (DCT) sebagai calon anggota legislatif merupakan jenis putusan Non Executable atau tidak bisa dieksekusi.

“Agar harus diperhatikan bahwa ada desain penanganan dugaan pelanggaran pemilu yang memang dibuat secara bertahap dari proses administrasi maka itu harusnya diselesaikan secara administratif kemudian kalau sudah berjalan sampai pada perhitungan suara bahkan potensi seseorang tersebut terpilih sebagai calon anggota legislatif tidak mungkin melaksanakan putusan yang seperti itu,” tegasnya.

Ia pun merasa proses pemilu cukup bermasalah apabila putusan tersebut dilaksanakan, sebab, menurutnya, seharusnya nama terlapor Erick Hendrawan tidak boleh ada dalam surat suara. Tak hanya itu, apabila putusan tersebut dilaksanakan maka bisa mencederai hak pilih masyarakat yang menaruh kepercayaan terhadap Erick Hendrawan saat pemilu lalu.

“Hal-hal ini yang kemudian saya berpendapat bahwa pada prinsipnya putusan tersebut Non Executable atau tidak dapat dilaksanakan karena mencederai prinsip-prinsip penataan tahapan dalam sistem pemilu dan kepercayaan publik akan tahapan yang sudah berlangsung dan itu sudah ditetapkan melalui mekanisme yang sudah ada,” sebutnya.

Yahya menyebutkan, berkenaan dengan aturan pembatalan calon anggota legislatif sesuai ketentuan Pasal 64 dan 63 Undang-Undang Pemilu kemudian pasal 286 dengan tegas disebutkan bahwa pembatalan itu jika terkait pelanggaran administrasi dilakukan secara terstruktur sistematis dan masif (TSM) serta terjadi tindak pidana pemilu berupa politik uang.

“Hanya dua hal itu yang menurut Undang-Undang Pemilu dalam sistem pemilu kita yang bisa dijadikan dasar pembatalan,” terangnya.

Secara rinci ia menguraikan syarat sebab terjadi pembatalan calon di dalam PKPU, di antaranya, meninggal dunia, terbukti melakukan pelanggaran kampanye terkait politik uang, serta melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen.

“Disebutkan bahwa orang bisa dibatalkan kalau dia meninggal dunia. Kedua terbukti melakukan pelanggaran pada saat kampanye berdasarkan putusan pengadilan dan sejalan dengan Undang-Undang yang menyatakan money politik, terbukti melakukan tindak pidana pemalsuan dokumen. Ketiga tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota. Maka tidak boleh ada pembatalan atau pencoretan seseorang yang sudah dipilih melalui mekanisme konstitusional dalam pemilu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengajukan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) ke Mahkamah Konstitusi pada 23 Maret 2024. Gugatan PHPU ini dilayangkan terkait putusan Bawaslu Tarakan kemudian diperkuat melalui putusan hasil koreksi Bawaslu RI yang menyatakan Erick Hendrawan sebagai Caleg Partai Golkar Dapil Tarakan Tengah peraih suara terbanyak tidak memenuhi syarat sebagai DCT.

Pihak PPP sebagai pemohon di dalam beberapa petitumnya meminta pihak termohon dalam hal ini KPU untuk menganulir suara Erick Hendrawan menjadi suara tidak sah serta meminta pihak pemohon dalam hal ini Jamaliah Caleg DPRD Tarakan Dapil Tarakan Tengah sebagai Calon terpilih.(**)

Tags: HeadlineMahkamah KonstitusiMKpilegProf YahyaSaksi Ahli

Berita Lainnya

Daerah

Golkar Kaltara Salurkan Bantuan Sapi Kurban untuk Petugas Kebersihan Bulungan

26 Mei 2026 18:42
Pansus II DPRD Kaltara Rampungkan Pembahasan Raperda Koperasi dan Usaha Kecil, Selanjutnya Harmonisasi 
Parlemen

Pansus II DPRD Kaltara Rampungkan Pembahasan Raperda Koperasi dan Usaha Kecil, Selanjutnya Harmonisasi 

26 Mei 2026 16:09
Belum Beri Kontribusi Sejak 2018, Bapemperda DPRD Kaltara Masih Mengkaji Perubahan Perda PT MKJ
Parlemen

Belum Beri Kontribusi Sejak 2018, Bapemperda DPRD Kaltara Masih Mengkaji Perubahan Perda PT MKJ

26 Mei 2026 12:34
DPRD Tarakan Siap Kawal Penyesuaian Tarif Taksi Bandara Juwata 
Parlemen

DPRD Tarakan Siap Kawal Penyesuaian Tarif Taksi Bandara Juwata 

25 Mei 2026 18:59
Dua Anggota DPRD Tarakan Kena Getok Tarif Taksi Bandara, Koperasi Sebut Oknum
Parlemen

Dua Anggota DPRD Tarakan Kena Getok Tarif Taksi Bandara, Koperasi Sebut Oknum

25 Mei 2026 17:58
DPRD Tarakan Tinjau Kondisi Lapangan, Cari Solusi Polemik Ojek Pangkalan di Bandara Juwata
Parlemen

DPRD Tarakan Tinjau Kondisi Lapangan, Cari Solusi Polemik Ojek Pangkalan di Bandara Juwata

25 Mei 2026 16:49
Next Post

Polda Kalimantan Utara Laksanakan Taklimat Akhir Audit Kinerja Itwasda Polda Kaltara Tahap I TA. 2024

Resmi Buka Rakernas Apeksi 2024, Presiden Joko Widodo Puji Kota Balikpapan

Ahmad Usman Menilai Rekom PKB untuk Khairul Belum Final

Ahmad Usman Menilai Rekom PKB untuk Khairul Belum Final

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami
  • Polsek Sesayap Hilir Ungkap Pencurian Dump Truck di Hutan Malinau

    Polsek Sesayap Hilir Ungkap Pencurian Dump Truck di Hutan Malinau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sederhana, Kadisdik Tarakan: Pelepasan Siswa SMPN 7 Patut Jadi Contoh Sekolah Lain

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Anggota DPRD Tarakan Kena Getok Tarif Taksi Bandara, Koperasi Sebut Oknum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kodam VI/Mulawarman Tegaskan Bantuan Pengamanan TNI kepada Kejaksaan untuk Jaga Kondusivitas Kutai Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seleksi Paskibraka Kaltara 2026 Resmi Ditutup, Enam Putra-Putri Terbaik Lolos ke Tingkat Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Fokus Borneo

Ikuti Kami

Rubrik

  • Advetorial
  • Daerah
  • Derap Nusantara
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fokus
  • Hiburan
  • IKN
  • Kantah Kota Balikpapan
  • Kementrian ATR/BPN
  • KPH Tarakan
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Otomotif
  • Parlemen
  • Pemkab Bulungan
  • Pemkab Malinau
  • Pemkab Nunukan
  • Pemkab Tana Tidung
  • Pemkot Balikpapan
  • Pemkot Tarakan
  • Pemprov Kaltara
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial Budaya
  • TNI Polri
  • Travel
  • Video

Recent News

Pedagang Sapi Lokal di Tarakan Keluhkan Adanya Dugaan Monopoli Pasokan Sapi

28 Mei 2026 23:04

Jupiter Aerobatic Team Tiba di Tarakan, Siap Emban Misi Internasional ke Brunei Darussalam

28 Mei 2026 22:42
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
    • Kuliner
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP