TARAKAN, Fokusborneo.com – Ketua DPRD Kota Tarakan, Muhammad Yunus, menyoroti persoalan pembayaran gaji karyawan di PT Intracawood Manufacturing yang dua bulan terakhir mengalami keterlambatan hingga dicicil.
Yunus menegaskan, pihak perusahaan seharusnya tidak serta-merta mengorbankan hak para pekerja akibat kondisi perusahaan yang sedang goyah.
Hal tersebut diungkapkan Yunus saat memghadiri jalannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama manajemen PT Intracawood Manufacturing, Serikat Pekerja (SP) Kahutindo, SP Kahut, serta Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) di Kantor DPRD Tarakan.
“Saya rasa pihak perusahaan tahu persis kondisi perusahaan, produksinya menurun atau naik, penjualannya menurun atau naik pasti dia tahu. Karena dia yang kerja, bukan bapak-bapak yang hadir di sini yang enggak kerja,” ujar Yunus.
Yunus menilai, alasan manajemen terkait masalah keuangan perusahaan menempatkan para karyawan dalam posisi dilematis. Di satu sisi, para pekerja sangat membutuhkan kepastian gaji untuk bertahan hidup, namun di sisi lain mereka harus menerima kenyataan gaji dibayar setengah atau dicicil.
Menurutnya, jika manajemen perusahaan lebih peka dan transparan terhadap kondisi yang ada, permasalahan pelik ini seharusnya bisa diantisipasi sejak dini.
Ia juga mempertanyakan langkah taktis lain yang bisa diambil perusahaan, seperti mencari alternatif pendanaan atau pinjaman perbankan, alih-alih menunda atau mencicil hak buruh.
”Apakah tidak ada tindakan lain yang diambil perusahaan seperti pinjam di bank untuk memenuhi kebutuhan karyawan ini? Kalau di bank bisa, kenapa tidak dibayar utuh?” tegasnya.
Politisi Gerindra tersebut mengingatkan keterlambatan pembayaran gaji berisiko besar menambah beban finansial pekerja, terutama bagi mereka yang memiliki tangguran cicilan kredit harian atau bulanan yang otomatis terkena denda jika terlambat membayar.
”Kalau telat itu berbunga, loh, Pak. Apalagi dia cicilan kredit motor atau pinjaman, dan di koperasi mana pun kalau diambil pasti ada bunganya per hari. Mungkin itu yang penyebabkan, sehingga bukan dia tidak mau menerima, tapi ini dilema,” jelas Yunus.
Meski memahami pihak perusahaan juga tengah berjuang di tengah dinamika industri kayu, Yunus mendesak agar manajemen PT Intracawood Manufacturing segera mengambil inisiatif dan mencari solusi terbaik tanpa mengorbankan kesejahteraan tenaga kerja.
“Tanpa perusahaan tidak ada tenaga kerja, tanpa tenaga kerja tidak ada perusahaan. Itu yang bapak-bapak perlu harus ingat,” pungkasnya.(**)













Discussion about this post