TARAKAN, Fokusborneo.com – Suasana berbeda terlihat di SMP Negeri 1 Tarakan selama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Tak sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, kegiatan ini juga dirancang untuk membentuk karakter siswa sejak hari pertama.
MPLS tahun ini berlangsung selama lima hari, dimulai sejak Senin dan resmi ditutup pada Jumat (17/7/2026).
Menjelang penutupan, para siswa mengikuti kegiatan kemah blok yang menjadi salah satu momen paling berkesan. Kegiatan tersebut ditandai dengan penyalaan api unggun sebagai simbol kebersamaan dan kekompakan.
Kepala SMPN 1 Tarakan, Moh. Rachmat, menegaskan bahwa MPLS tidak hanya berfokus pada pengenalan sekolah, tetapi juga pembentukan karakter siswa.
“Selama MPLS, kami memberikan berbagai materi seperti anti-bullying, anti-kekerasan, tertib lingkungan, hingga tertib berlalu lintas. Ini penting agar anak-anak tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki karakter yang baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak sekolah juga menghadirkan sejumlah narasumber dari luar, serta melibatkan guru-guru yang telah terlatih untuk memberikan pembekalan kepada siswa.
Selain penyampaian materi, kegiatan MPLS dikemas secara interaktif melalui berbagai permainan edukatif. Dari kegiatan tersebut, siswa diajarkan pentingnya kerja sama, saling menghargai, serta mengurangi sikap egois.
Tak hanya itu, pengalaman menginap di sekolah juga menjadi bagian dari pembelajaran. Siswa diajak beradaptasi dengan lingkungan baru dan membangun kedekatan dengan teman-teman yang sebelumnya belum dikenal.
“Kegiatan ini juga kami buka untuk orang tua. Bahkan ada yang ikut menginap untuk mendampingi anaknya,” kata Rachmat.
MPLS tahun ini diikuti sebanyak 349 siswa yang terbagi dalam 11 rombongan belajar. Puncak kegiatan ditandai dengan malam api unggun serta pemberian penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada siswa.

Pada hari terakhir, kegiatan ditutup dengan penandatanganan Deklarasi “Murid Indonesia Hebat” yang merupakan program dari pemerintah pusat. Penandatanganan dilakukan oleh pihak sekolah, komite, serta perwakilan orang tua.
Selain itu, suasana kebersamaan semakin terasa melalui kegiatan makan bersama yang melibatkan orang tua secara swadaya.
Rachmat menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, orang tua, dan siswa dalam mendukung keberhasilan pendidikan.
“Yang paling penting adalah kebersamaan antara sekolah, orang tua, dan siswa. Kalau ini berjalan baik, proses pendidikan juga akan maksimal,” tegasnya.
Ia juga mengimbau agar setiap permasalahan disampaikan langsung kepada pihak sekolah, bukan melalui media sosial.
“Kalau ada masalah, silakan datang ke sekolah. Kita selesaikan bersama, karena kita ini satu keluarga,” tutupnya.
Melalui MPLS ini, diharapkan para siswa mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus memiliki karakter yang baik, menjunjung kerja sama, serta menjauhi perilaku negatif seperti perundungan.(**)












Discussion about this post