TARAKAN, Fokusborneo.com – Sampah anorganik tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat.
Hal tersebut menjadi perhatian tim dosen Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA.
Kegiatan yang dilaksanakan bersama Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pelita Kota Tarakan tersebut mengusung program “Penguatan Kapasitas Bank Sampah melalui Pengolahan Sampah Anorganik, Manajemen Usaha, dan Pemasaran Digital di Kota Tarakan.”
Program ini merupakan kolaborasi lintas bidang antara dosen Manajemen dan dosen Teknik Mesin UBT yang diketuai oleh Nurjannatul Hasanah dan beranggotakan Sudirman dan Rahmi Nur Islami.
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memberikan pendampingan secara menyeluruh, mulai dari pengolahan sampah, penerapan teknologi, penguatan manajemen usaha, hingga pemasaran.
Salah satu kegiatan utama diberikan Nurjannatul Hasanah, yang berfokus pada pelatihan pengolahan sampah anorganik dan penguatan manajemen pemasaran.
Pelatihan pengolahan sampah diarahkan untuk meningkatkan kemampuan anggota KSM Pelita dalam melakukan pemilahan lanjutan, memahami alur pengolahan, serta mengembangkan sampah anorganik menjadi bahan atau produk yang memiliki nilai tambah.
Berdasarkan kondisi awal program, KSM Pelita telah mengelola sekitar 800–1.200 kilogram sampah anorganik per bulan. Namun, sebagian besar sampah masih dijual dalam bentuk mentah kepada pengepul sehingga nilai ekonomi yang diperoleh kelompok belum optimal.
“Kami ingin mendorong anggota KSM Pelita agar tidak hanya melihat sampah sebagai barang yang dikumpulkan dan dijual, tetapi juga sebagai bahan yang dapat diolah dan memiliki nilai ekonomi. Ketika nilai tambah meningkat, maka peluang untuk meningkatkan pendapatan kelompok juga semakin terbuka,” ujar Nurjannatul Hasanah.
Pelatihan dilakukan dengan pendekatan learning by doing, diskusi kelompok, dan praktik langsung. Pendekatan ini memungkinkan anggota KSM Pelita untuk memperoleh pengetahuan sekaligus mempraktikkan keterampilan pengolahan sampah secara langsung.
Pengolahan Sampah Harus Diikuti Strategi Pemasaran
Selain meningkatkan keterampilan pengolahan, kegiatan juga memberikan perhatian pada aspek pemasaran. Menurut tim PKM, peningkatan kemampuan produksi perlu diikuti dengan strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap produksi.
Pendampingan pemasaran diarahkan pada diversifikasi produk, peningkatan nilai jual, penentuan harga berdasarkan biaya dan nilai tambah, serta pemanfaatan media digital untuk memperluas akses pasar.
Kondisi awal menunjukkan KSM Pelita masih bergantung pada penjualan konvensional kepada pengepul. Kelompok juga belum memiliki strategi pemasaran alternatif maupun identitas usaha yang kuat.
“Pengolahan dan pemasaran harus berjalan bersama. Ketika produk sudah memiliki nilai tambah, kita juga perlu membangun cara agar produk tersebut dikenal dan memiliki pasar. Karena itu, penguatan kapasitas produksi harus diikuti dengan penguatan strategi pemasaran,” tambah Nurjannatul.
Program ini juga mendorong penyusunan SOP produksi agar proses pengolahan sampah dapat dilakukan secara lebih tertib, efisien, dan mudah diterapkan oleh anggota. Target program mencakup peningkatan keterampilan pengolahan sampah dan minimal satu jenis produk olahan yang dihasilkan.
Kolaborasi Dosen Manajemen dan Teknik Mesin
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi UBT dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan multidisiplin.

Dosen Manajemen memberikan penguatan pada aspek pemasaran dan pengembangan usaha, sedangkan dosen Teknik Mesin mendukung aspek teknologi dan proses pengolahan sampah.
Sementara aspek manajemen usaha dan laporan keuangan diperkuat melalui pendampingan Rahmi Nur Islami.
Dengan kolaborasi tersebut, KSM Pelita tidak hanya diarahkan untuk mampu mengelola sampah, tetapi juga membangun aktivitas yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi berkembang secara berkelanjutan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan tim Universitas Borneo Tarakan. Pendampingan seperti ini penting karena masyarakat tidak hanya diberikan pengetahuan tentang pengelolaan sampah, tetapi juga didorong untuk melihat adanya nilai ekonomi dari sampah yang dikelola,” ujar Zulkifli Ketua RT 51 Karang Anyar.
Ketua KSM Pelita juga menyambut baik kegiatan tersebut. “Kami sangat terbantu dengan adanya pendampingan dari tim UBT. Kami mendapatkan pengetahuan baru tentang bagaimana mengolah sampah dan bagaimana hasil pengolahan tersebut dapat dikembangkan serta dipasarkan,” tambahnya.
Melalui kegiatan tersebut, tim PKM UBT berharap KSM Pelita semakin mampu mengelola sampah secara produktif sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi anggota dan masyarakat sekitar.
Program ini menjadi bagian dari upaya membangun pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA, dengan mitra KSM Pelita Kota Tarakan.
Program dilaksanakan tim dosen UBT melalui kolaborasi lintas bidang Manajemen dan Teknik Mesin untuk memperkuat kapasitas pengelolaan sampah, manajemen usaha, dan pemasaran.(**)















Discussion about this post