TARAKAN, Fokusborneo.com – Penguatan bank sampah tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola dan mengolah sampah, tetapi juga membutuhkan tata kelola usaha dan pencatatan keuangan yang baik.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian tim dosen Universitas Borneo Tarakan (UBT) melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA bersama KSM Pelita Kota Tarakan.
Program yang mengusung tema “Penguatan Kapasitas Bank Sampah melalui Pengolahan Sampah Anorganik, Manajemen Usaha, dan Pemasaran Digital di Kota Tarakan” tersebut, dilaksanakan melalui kolaborasi antara dosen Manajemen dan dosen Teknik Mesin UBT yang diketuai Nurjannatul Hasanah dan beranggotakan Sudirman dan Rahmi Nur Islami.
Dalam aspek manajemen usaha, Rahmi Nur Islami memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pengurus serta anggota KSM Pelita untuk membangun sistem pencatatan dan laporan keuangan yang lebih tersistem.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada pencatatan pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga bagaimana transaksi dapat dikelompokkan dan disusun menjadi informasi keuangan yang dapat membantu pengurus memahami kondisi usaha.
“Kami ingin membantu KSM Pelita memiliki sistem pencatatan keuangan yang sederhana, tetapi lebih tertib dan tersistem. Dengan laporan keuangan yang baik, pengurus dapat mengetahui kondisi usaha secara lebih jelas dan memiliki dasar yang lebih kuat dalam mengambil keputusan,” ujar Rahmi Nur Islami.
Dari Pencatatan Manual Menuju Sistem yang Lebih Tertata
Berdasarkan kondisi awal yang menjadi dasar program, KSM Pelita sebenarnya telah memiliki kesadaran mengenai pentingnya pencatatan transaksi dan penjualan. Namun, pencatatan masih dilakukan secara manual menggunakan buku tulis.
Kondisi tersebut membuat pencatatan belum sepenuhnya mampu mendukung efisiensi kerja, evaluasi usaha, maupun perencanaan pengembangan kelompok.
Melalui pendampingan, anggota diarahkan untuk memahami alur pencatatan keuangan secara lebih sistematis, mulai dari transaksi, arus kas masuk dan keluar, hasil penjualan, biaya operasional, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana.
Program tersebut juga mencakup pencatatan tabungan anggota serta penyusunan sistem pembukuan yang dapat digunakan sebagai dasar evaluasi usaha.
Menurut Rahmi, sistem yang diperkenalkan tidak dibuat rumit karena harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan KSM Pelita.
“Sistem keuangan yang baik bukan berarti harus rumit. Yang paling penting adalah sistem tersebut mudah dipahami, dapat digunakan secara konsisten, dan mampu memberikan informasi yang dibutuhkan pengurus untuk mengelola usaha,” jelasnya.
Keuangan Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan
KSM Pelita memiliki 15 anggota aktif dan mengelola sampah anorganik sekitar 800 – 1.200 kilogram per bulan. Pendapatan kelompok sebelum program berada pada kisaran Rp2,5 – 4 juta per bulan dan sebagian besar masih digunakan untuk menutup biaya operasional.
Dengan aktivitas tersebut, pencatatan keuangan menjadi semakin penting agar kelompok dapat mengetahui perkembangan usaha secara lebih objektif.
Laporan keuangan yang lebih tersistem diharapkan dapat membantu pengurus mengetahui jumlah pemasukan, pengeluaran, hasil penjualan, biaya operasional, serta kondisi keuangan kelompok secara berkala.
Sistem tersebut juga dapat menjadi dasar dalam menyusun rencana usaha dan membuka peluang kerja sama dengan pihak lain.
Dalam program PKM, penguatan manajemen usaha memang diarahkan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan anggota, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pemerintah maupun pihak eksternal lainnya.

Kolaborasi Dosen Manajemen dan Teknik Mesin
Pendampingan manajemen usaha ini merupakan bagian dari kolaborasi lintas keilmuan dosen UBT.
Dosen Manajemen memberikan penguatan pada aspek pemasaran dan pengolahan sampah yang berorientasi nilai tambah melalui Nurjannatul Hasanah, manajemen usaha dan laporan keuangan melalui Rahmi Nur Islami.
Sementara itu, dosen Teknik Mesin, Sudirman, memberikan penguatan pada aspek teknologi dan pengolahan sampah.
Kolaborasi tersebut membuat program tidak berhenti pada satu persoalan. KSM Pelita didampingi dari sisi produksi, teknologi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
“Kami mengapresiasi kegiatan tim Universitas Borneo Tarakan karena penguatan bank sampah dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dari sisi pengelolaan sampah, tetapi juga dari sisi manajemen dan keuangan. Ini penting agar kelompok dapat berkembang secara berkelanjutan,” ucap Zulkifli Ketua RT 51 Karang Anyar.
Ketua KSM Pelita juga menyampaikan apresiasi terhadap pendampingan yang diberikan.
“Selama ini kami sudah melakukan pencatatan keuangan, tetapi masih sederhana. Setelah mendapatkan pendampingan, kami lebih memahami pentingnya membuat pencatatan dan laporan yang lebih rapi dan sistematis. Ini sangat membantu kami dalam melihat kondisi usaha,” tambahnya.
Rahmi menambahkan keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam pendampingan.
“Kami berharap sistem yang sudah diperkenalkan tidak berhenti pada saat kegiatan PKM selesai. Justru yang paling penting adalah KSM Pelita mampu melanjutkan pencatatan tersebut secara mandiri dan menjadikannya bagian dari kegiatan usaha sehari-hari,” pungkasnya.
Melalui penguatan manajemen usaha dan laporan keuangan yang lebih tersistem, KSM Pelita diharapkan semakin mampu menjalankan kegiatan secara transparan, akuntabel, dan profesional.
Program PKM ini sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan lingkungan, tetapi juga sebagai usaha komunitas yang memiliki tata kelola, sistem keuangan, teknologi, dan peluang pasar yang lebih baik.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program PKM yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema BIMA, dengan mitra KSM Pelita Kota Tarakan.
Program dilaksanakan tim dosen UBT melalui kolaborasi lintas bidang Manajemen dan Teknik Mesin untuk memperkuat kapasitas pengelolaan sampah, manajemen usaha, dan pemasaran.(**)














Discussion about this post