TARAKAN — Pemerintah Kecamatan Tarakan Barat terus menegaskan komitmennya dalam mendukung program percepatan penurunan angka stunting. Langkah strategis ini sejalan dengan arahan Wali Kota Tarakan yang menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, pemberdayaan peran Ketua RT, serta perbaikan lingkungan hidup dan sanitasi, terutama di wilayah pesisir.
Camat Tarakan Barat, Sijabat Khiris Tauan Maryanto, S.STP., M.H. menyampaikan bahwa penanganan stunting di wilayahnya memerlukan pendekatan terpadu. Selain edukasi gizi, perbaikan sanitasi lingkungan menjadi salah satu prioritas utama untuk menekan risiko stunting pada anak.
Camat Tarakan Barat mengungkapkan bahwa salah satu fokus penting dalam menekan angka stunting adalah menciptakan kelurahan yang bebas dari praktik buang air besar sembarangan melalui penyediaan sanitasi yang layak.
“Sebetulnya kalau untuk stunting ini, di Kelurahan Karang Anyar Pantai kan dapat penambahan kasus, salah satu penanganannya adalah sanitasi yang baik. Jadi salah satunya adalah kelurahan bebas buang air besar. Itu yang menjadi PR besar buat kita semua karena kita tahu sendiri di wilayah pesisir ini tentu sudah banyak dipergunakan untuk WC komunal atau IPAL komunal, tapi tentu kita mencari lagi arahan-arahan atau terobosan terbarulah untuk meminimalisir buang air besar sembarangan,” ungkap Sijabat.
Ia juga menambahkan bahwa dinamika mobilitas penduduk pendatang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pencatatan dan ditemukannya kasus stunting baru di beberapa titik kelurahan.
Dalam pelaksanaannya, penanganan stunting di Kecamatan Tarakan Barat tidak dilakukan dengan satu metode baku, melainkan disesuaikan dengan karakteristik dan pemetaan masalah di masing-masing kelurahan.
Pendekatan spesifik ini dinilai krusial agar solusi yang diberikan dapat tepat sasaran. Di Kelurahan Karang Anyar Pantai, penanganan stunting dititik beratkan pada pembenahan infrastruktur dan kebersihan lingkungan.
Pemerintah setempat saat ini tengah memprioritaskan perbaikan fasilitas sanitasi masyarakat dan terus berupaya mencari terobosan baru untuk mengatasi masalah kebersihan di kawasan pesisir yang kerap menjadi akar permasalahan kesehatan keluarga.
Sementara itu, pendekatan yang berbeda diterapkan di Kelurahan Karang Harapan. Wilayah ini berfokus pada intervensi gizi langsung melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Langkah konkret ini mulai membuahkan hasil dengan adanya tren penurunan angka kasus, dari yang sebelumnya berkisar antara 16 hingga 17 anak, kini menyusut menjadi 12 anak. Dengan evaluasi yang terus berjalan, pemerintah kelurahan mematok target optimistis untuk segera mencapai zero stunting.
Dinamika kependudukan menjadi tantangan tersendiri bagi Kelurahan Karang Balik. Tingginya arus kedatangan penduduk baru mengharuskan pihak kelurahan untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan bertahap.
Fokus utamanya saat ini adalah mendata keluarga pendatang secara ketat, guna memastikan bahwa pemantauan pemenuhan gizi anak-anak mereka dapat ter-cover dengan baik oleh sistem kesehatan daerah dan tidak lepas dari pantauan petugas. (**)














Discussion about this post