TARAKAN, Fokusborneo.com – Adopsi sistem pembayaran non-tunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan pertumbuhan yang sangat signifikan sepanjang periode 2023 hingga 2026.
Berdasarkan data terbaru, volume transaksi di Bumi Benuanta naik hingga 408 persen (YoY) pada tahun 2025.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan tren positif ini merupakan cerminan dari meluasnya literasi keuangan digital di tengah masyarakat. Hingga akhir tahun 2025, tercatat sudah ada sekitar 131.000 pengguna QRIS yang berdomisili di Kaltara.
“Kalau kita lihat di sini, di posisi terakhir di akhir 2025, sudah ada 131.000 pengguna QRIS di Kalimantan Utara. Ia tumbuh 8,1 persen dibandingkan tahun 2024. Jika dibandingkan dengan target masyarakat berusia produktif yang mencapai kurang lebih 392.000 jiwa, artinya tingkat penetrasi kita baru sekitar 25 persen,” ungkap Hasiando dalam keterangannya, Senin (11/5/26).
Menurut Hasiando, angka tersebut menunjukkan peluang perluasan pasar digital di Kaltara masih sangat besar. Bank Indonesia akan fokus menyasar wilayah dengan populasi produktif tinggi agar masyarakat semakin akrab dengan transaksi non-tunai dalam berbagai lini kebutuhan sehari-hari.
“Bisa untuk berbelanja, pembelian tiket speedboat, dan lain sebagainya. Ini menjadi tantangan agar dari waktu ke waktu semakin banyak orang menggunakan pembayaran non-tunai. Namun perlu dicatat, tunai tetap ada mendorong non-tunai bukan berarti melarang tunai, melainkan menyediakan alternatif yang lebih praktis,” tegasnya.

Tak hanya dari sisi pengguna, jumlah pedagang atau merchant yang menyediakan layanan QRIS juga meningkat tajam mencapai 112.000 merchant pada tahun 2025, tumbuh 18 persen secara tahunan. Kota Tarakan tercatat sebagai wilayah dengan sebaran merchant terbanyak dan kepadatan tertinggi di Kaltara.
Lonjakan paling mencolok terlihat pada nilai transaksi. Sepanjang tahun 2025, nominal transaksi QRIS di Kaltara mencapai Rp2,4 Triliun, atau tumbuh sebesar 266 persen. Frekuensi penggunaan yang tercermin dari volume transaksi juga melonjak empat kali lipat hingga mencapai 21,5 juta transaksi.
Pihak Bank Indonesia Kaltara berharap data pada periode selanjutnya, yakni hingga April 2026, akan menunjukkan konsistensi kenaikan yang sama.
Sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha diharapkan terus memperkuat ekosistem digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi regional yang lebih inklusif.(*/mt)















Discussion about this post