TARAKAN, Fokusborneo.com – Fenomena pergeseran minat investasi masyarakat di Kalimantan Utara (Kaltara) mulai memberikan dampak pada struktur perbankan daerah.
Di tengah pesatnya berbagai kemudahan investasi digital, masyarakat kini cenderung memilih menaruh asetnya dalam bentuk emas dibandingkan menyimpan dana konvensional di perbankan.
Hal ini terungkap dalam tinjauan kinerja stabilitas sistem keuangan yang disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik.
Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Kaltara pada triwulan I 2026 mengalami kontraksi sebesar 2,13% (yoy).
”Penurunan dana ini bisa disebabkan karena semakin banyaknya alternatif orang untuk melakukan penyimpanan aset. Bisa simpan di obligasi negara, saham, atau membeli emas,” ujar Hasiando, Senin (11/5/26).
Hasiando menekankan produk non-bank saat ini sangat bervariasi dan semakin mudah dijangkau karena telah bertransformasi ke arah digital.
Hal inilah yang menjadi salah satu faktor utama mengapa pertumbuhan total simpanan (DPK) mengalami penurunan karena masyarakat memiliki opsi yang lebih dinamis.
”Sekarang ada tabung emas, deposito emas, kemudian juga ada cicilan emas. Semuanya variasi produk investasi yang sudah go-digital. Ini menjadi salah satu aspek kenapa kemudian DPK kita menurun,” jelasnya.
Meski DPK terkontraksi akibat pergeseran ke instrumen seperti emas, Hasiando memastikan kinerja intermediasi perbankan secara umum masih relatif terjaga kuat. Hal ini tetap ditopang oleh simpanan tabungan yang masih stabil menopang pertumbuhan total simpanan.
Menariknya, meski simpanan menyusut, penyaluran kredit di Kaltara justru mencatatkan performa fantastis. Total kredit tumbuh 75,88% (yoy), yang didorong oleh lonjakan signifikan pada Kredit Investasi yang tumbuh hingga 168,02% (yoy) per Maret 2026.
”Ini posisi Maret 2026, tumbuh 168 persen. Sangat baik karena perbankan kita melakukan pembiayaan untuk kegiatan investasi,” tambah Hasiando.
Kesehatan perbankan juga dipastikan tetap prima dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 0,72%, jauh di bawah ambang batas aman 5%. Begitu juga dengan aset perbankan yang tetap tumbuh tinggi sebesar 16,66% (yoy) pada triwulan pertama tahun ini.(*/mt)











Discussion about this post