TARAKAN, Fokusborneo.com – Tingkat inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) hingga April 2026 tercatat masih berada dalam kondisi yang stabil dan terkendali.
Berdasarkan data terbaru, akumulasi kenaikan harga atau inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 1,16%.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, menjelaskan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year on year), inflasi Kaltara berada di angka 2,68%.
“Angka ini masih sesuai dengan target kita, yaitu di kisaran 2,5% ± 1%,” ujar Hasiando, Senin (11/5/26).
Hasiando menekankan pentingnya membangun kemandirian pangan di Bumi Benuanta. Mengingat ketergantungan Kaltara terhadap pasokan barang dari luar daerah masih cukup tinggi, penguatan produksi pertanian lokal menjadi solusi jangka panjang agar harga-harga tidak mudah melonjak.
“Untuk jangka pendek, kerja sama antar daerah memang kita lakukan untuk menutupi kekurangan stok. Namun, ke depan kita ingin produktivitas petani lokal kita meningkat,” katanya.
Menatap sisa tahun 2026, Bank Indonesia tetap waspada terhadap tantangan global seperti konflik geopolitik dan perang dagang yang bisa memicu kenaikan harga.
Di dalam negeri, kenaikan permintaan pangan juga diprediksi muncul seiring berkembangnya industri dan dimulainya realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kaltara.
Menurut Hasiando, program MBG ini memberikan dampak positif bagi konsentrasi dan semangat belajar anak-anak di sekolah, terutama di wilayah perbatasan. Agar program ini tidak memicu inflasi, BI memastikan ketersediaan pasokan komoditas harus tetap terjaga.
Guna menjaga daya beli masyarakat, TPID Kaltara terus menjalankan strategi 4K, yang salah satu fokus utamanya adalah keterjangkauan harga.
Langkah nyata yang dilakukan antara lain gerakan pangan murah dengan menjual bahan pokok dengan harga terjangkau. Mini Distribution Center (MDC) dengan mendekatkan stok barang ke pasar-pasar tradisional.
Tak kalah pentingnya, memastikan dan mengawasi pedagang tidak menjual barang melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Poin utamanya adalah keterjangkauan. Jika bersama Bulog dan Dinas Ketahanan Pangan kita bisa menghadirkan komoditas di bawah harga pasar atau di bawah HET, itu akan sangat membantu menekan inflasi,” tutupnya.(**)














Discussion about this post